Mengapa KPMI? (Tidak Khusus KPMI)

Mengapa KPMI (Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia)?

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Berbicara tentang KPMI bukan semata masalah organisasi. Berbicara tentang KPMI bukan menyoroti komunitas para pebisnis. Tapi lebih dari itu. KPMI dibangun karena latar belakang

Kita bisa perhatikan, di sana ada banyak komunitas pengusaha. Masing-masing komunitas memliki latar belakang yang berbeda-beda.

Ada komunitas yang diikat karena kesamaan tema bisnis, komunitas pedagang komputer, komunitas pedagang mobil, dst.

Ada yang diikat karena diikat dengan kesamaan hobi. Komunitas pebisnis akik dan penggemar olah raga.

Ada juga karena ikatan kesamaan profesi. Komunitas notaris, komunitas artis, dst.

Kita tentu yakin, semua ini tidak ada yang sia-sia. Artinya, semua ada konsekuensinya. Termasuk, alasan kita memilih komunitas. Semoga ayat ini selalu kita ingat,

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ . وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula

Melalui bimbingan surat az-Zalzalah ini kita meyakini bahwa sekecil apapun yang kita lakukan, akan dipertanggung jawabkan di hari kiamat. Termasuk cara kita berkomunitas.

Membangun Loyalitas

Islam mengajarkan kepada kita, agar sikap loyalitas yang kita bangun, dilakukan atas dasar islam. Loyalitas, karena Allah ta’ala. Mereka saling mencintai dan saling membela, karena Allah.

Ada banyak keutamaan, ketika seseorang membangun loyalitas karena Allah.

Pertama,  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya sebagai amal yang paling utama

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَفْضَلُ الأَعْمَالِ الْحُبُّ فِى اللَّهِ وَالْبُغْضُ فِى اللَّهِ

“Amal yang paling afdhal adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR. Ahmad 21909, Abu Daud 4601 dan dishahihkan al-Albani).

Kedua, Allah berikan janji, orang yang membangun loyalitas dengan sesamanya karena Allah, akan diberi naungan kelak di hari kiamat.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَيْنَ الْمُتَحَابُّونَ بِجَلاَلِى الْيَوْمَ أُظِلُّهُمْ فِى ظِلِّى يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلِّى

Allah berfirman pada hari kiamat, “Dimanakah orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini akan Aku naungi dia, di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Ku.” (HR. Ahmad 7432 & Muslim 6713).

Ketiga, amalan ini dibanggakan di hari kiamat, hingga para nabi iri kepadanya

Dari Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ لأُنَاسًا مَا هُمْ بِأَنْبِيَاءَ وَلاَ شُهَدَاءَ يَغْبِطُهُمُ الأَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِمَكَانِهِمْ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى

Ada diantara manusia biasa hamba Allah, yang mereka buka nabi, bukan pula para syuhada. Namun para nabi dan para syuhada, iri kepadanya pada hari kiamat, karena kedudukan mereka yang dekat di sisi Allah Ta’ala.

“Ya Rasulullah, sampaikan kepada kami, siapakah mereka?” tanya para sahabat.

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan,

هُمْ قَوْمٌ تَحَابُّوا بِرُوحِ اللَّهِ عَلَى غَيْرِ أَرْحَامٍ بَيْنَهُمْ وَلاَ أَمْوَالٍ يَتَعَاطَوْنَهَا

Mereka adalah orang yang saling mencintai karena Allah, bukan karena hubungan kerabat, bukan pula karena harta benda yang mereka miliki. (HR. Abu Daud 352, Ibn Hibban 573 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Allahu akbar… betapa agungnya janji indah Allah untuk amalan ini. Loyal karena Allah. saling mencintai dan saling membela, karena Allah.

KPMI Komunitas Karena Ikatan Islam??

Setidaknya ada beberapa alasan bahwa ikatan KPMI adalah untuk maslahat umat islam.

Pertama, KPMI dibentuk untuk memerangi Riba

Semua anggota KPMI berangkat dari permusuhannya terhadap riba. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang dulunya adalah pegawai bank riba atau aktivis riba. Termasuk dorongan keresahan mereka ketika berinteraksi dengan bank-bank riba. Karena mereka menyadari, betapa bahayanya riba.

Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ ( ) فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) bila kamu orang yang beriman. Jika kamu tidak melaksanakannya, maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Tetapi jika kamu bertaubat, maka kamu berhak atas pokok hartamu..” (QS. al-Baqarah : 278 – 279)

Kedua, KPMI dibentuk karena dorongan taubat dari harta haram

Tidak sedikit dari anggota KPMI yang berangkat dari keresahan terhadap kehalalan penghasilan mereka.

KPMI terbentuk, untuk bersama-sama membebaskan daging tubuh mereka dari hukuman akhirat, karena tumbuh dari sesuatu yang haram.

Dari Kaab bin Ujrah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّهُ لاَ يَرْبُوْ لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلاَّ كَانَتْ النَّارُ أَوْلَى بِهِ

“‏Sesungguhnya setiap daging yang tumbuh dari makanan yang haram, maka Neraka yang ‎lebih pantas baginya‏.” (Ahmad 14815, Tirmidzi 617, dan dishahihkan al-Albani)

Dalam riwayat lain,

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ جَسَدٌ غُذِيَ بِالْحَرَامِ

“Tidak akan masuk surga tubuh yang diberi makan dengan yang haram. (Baihaqi)

Ketiga, Belajar Fikih Muamalah

Bisa kita sebut, inilah pengikat terbesar KPMI. Mereka berkumpul untuk bersama-sama memahami aturan syariat dalam berbisnis. Mendekat kepada dalil dan penjelasan para ulama. Berangkat dari kekhawatiran, jika tidak memiliki modal ilmu syariah, ada harta haram yang masuk ke kantong  mereka tanpa sadar

Ali bin Abi Tholib mengatakan,

مَنْ اتَّجَرَ قَبْلَ أَنْ يَتَفَقَّهَ ارْتَطَمَ فِي الرِّبَا ثُمَّ ارْتَطَمَ ثُمَّ ارْتَطَمَ

“Barangsiapa yang berdagang namun belum memahami ilmu agama, maka dia pasti akan terjerumus dalam riba, kemudian dia akan terjerumus ke dalamnya dan terus menerus terjerumus.” (Mughnil Muhtaj, 2/22).

Umar bin Khatab keliling pasar Madinah, sambil membawa tongkat kecil. Beliau mengusir pedagang yang tidak paham fikih muamalah, sambil mengatakan,

لا يبيع في سوقنا إلا من تفقّه، و إلا أكل الربا شاء أم أبى

Tidak boleh jual beli di pasar ini kecuali yang paham fikih. Jika tidak, dia akan makan riba, sadar maupun tidak. (HR. Turmudzi 489 dan dishahihkan al-Albani).

Taubat dari Harta Haram tidak Harus Menguntungkan

Jangan anda berfikir, jika saya keluar dari bank riba atau asuransi konvensional, rizki anda pasti akan semakin lancar. Jangan anda berfikir, dengan mengikuti prinsip ekonomi syariat, pasti menguntungkan.

Justru sebaliknya, ketika kita mengikuti aturan ekonomi syariah, kita harus siap dengan setiap konsekuensi pahit yang akan kita jumpai. Karena bisa dipastikan ada beberapa aturan yang akan berbenturan dengan kepentingan kita selama selama berbisnis.

Kita tidak ingin seperti manusia yang digambarkan oleh Allah di surat al-Hajj. Allah sebut manusia yang beribadah di pinggiran. Hanya mencari enaknya saja.

Allah berfirman,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

Di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata (QS. al-Hajj: 11)

Dia berfikir, mengikuti aturan ekonomi syariat, haruslah menguntungkan. Ketika benar dia dapat untung setelah meninggalkan riba, dia merasa semakin yakin bahwa ekonomi syariat itu benar. Sebaliknya, ketika kenyataan tidak seperti yang dia bayangkan, dia kecewa, lalu kembali melakukan aktivitas bisnis seperti yang rentan dengan harta haram.

Dia menilai kebenaran syariat berdasarkan standar dunia.

Halal Haram itu Domain Akhirat

Seharusnya kita berfikir, mengikuti ekonomi syariat, bukan untuk mencari dunia. Mengikuti ekonomi syariat tujuan besarnya, menyelamatkan kita dari akhirat.

Anda bisa berkreasi sebisa mungkin untuk menjadi sukses di dunia. Tapi untuk sukses akhirat, anda perlu bimbingan syariat.

Ketika Allah menjelaskan masalah tathfif (orang yang curang), Allah ingatkan hisab di akhirat. Allah berfirman,

وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ . الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ . وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ . أَلَا يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ

“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang,  (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi,  Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan.” (QS. al-Muthaffifin: 1-4)

Karena masalah halal haram dalam harta adalah tidak hanya masalah dunia, tapi pada kajian domain akhirat.

Tanamkan iman kepada hari akhir, sehingga kita akan lebih mudah meninggalkan yang haram.

Allahu a’lam.

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina PengusahaMuslim.com)

PengusahaMuslim.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung kami dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK