Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia

Motivasi Diri, Nasehat, Rezeki, Umum

Tangan di Atas Lebih Baik daripada Tangan di Bawah

Segala puji hanya bagi Allah. Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah, keluarga, para sahabat, dan para pengikut beliau.

Amma ba’du:

Diriwayatkan dari Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata, “Aku pernah meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau memberiku. Lalu aku meminta beliau lagi, dan beliau memberiku. Lalu aku meminta beliau lagi, dan beliau memberiku. Kemudian beliau bersabda:

يَا حَكِيمُ إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ مَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ النَّفْسِ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ وَكَانَ كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ وَالْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنْ الْيَدِ السُّفْلَى

‘Wahai Hakim! Sesungguhnya harta ini hijau dan manis. Barang siapa yang mengambilnya dengan kelapangan hati (dari orang yang memberi), maka ia akan diberkahi dalam harta tersebut.

Dan barang siapa yang mengambilnya dengan ketamakan hati, maka ia tidak akan diberkahi dalam harta tersebut; dan ia seperti orang yang makan tetapi tidak merasa kenyang. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.’” 

Hakim kemudian berkata, “Lalu aku berkata kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, demi Zat yang mengutusmu dengan benar! Aku tidak akan menerima pemberian apa pun dari siapa pun setelah engkau, hingga aku meninggalkan dunia ini.’”

Dahulu Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu mengundang Hakim radhiyallahu ‘anhu untuk memberinya pemberian, tetapi ia enggan menerimanya. Kemudian Umar radhiyallahu ‘anhu juga mengundangnya untuk memberinya pemberian, tetapi ia juga enggan menerimanya sedikit pun.

Lalu Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sungguh aku mempersaksikan kalian atas Hakim, wahai kaum Muslimin! Bahwa aku telah menawarkan kepadanya haknya dari harta fa’i (harta rampasan dari orang-orang kafir tanpa melalui peperangan), tetapi dia enggan menerimanya.”

Hakim radhiyallahu ‘anhu tidak pernah menerima pemberian seorang pun setelah menerima pemberian dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, hingga dia meninggal dunia. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Demikianlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan kepada kita bahwa barang siapa yang menerima harta dari hasil meminta dengan disertai desakan, ketamakan atas apa yang dimiliki orang lain, keinginan kuat untuk mendapatkannya, dan memaksa serta mempermalukan pemberinya, maka dia tidak akan mendapatkan keberkahan dari harta itu karena dia tidak menjaga dirinya dari meminta-minta, yang merupakan sikap tercela dalam syariat.

Oleh sebab itu, dia mendapatkan balasan berupa ketidakberkahan atas apa yang diterimanya. Selain itu, sebagaimana sabda Nabi “… dan ia seperti orang yang makan tapi tidak merasa kenyang”, dia tidak merasa puas atas apa yang dia dapatkan.

Semakin banyak dia makan, dia akan semakin lapar. Semakin banyak dia mengumpulkan harta, dia akan semakin berhasrat untuk memiliki harta lainnya, dan semakin besar pula kebakhilan dan kecintaannya terhadap apa yang telah dia miliki.

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah,” yaitu orang yang memberi lebih baik daripada orang yang menerima. Tangan yang di atas adalah tangan yang berinfak dan memberi, sedangkan tangan yang di bawah adalah tangan yang menerima. Allah Ta’ala berfirman:

لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

“(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu akan menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari meminta-minta. Kamu dapat mengenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya; mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 273).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Makna firman Allah, ‘mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak’, yaitu bahwa mereka tidak memaksa saat meminta dan tidak membebani orang lain dengan apa yang tidak mereka butuhkan. Sebab, barang siapa yang meminta sedangkan dia sendiri memiliki sesuatu yang cukup tanpa harus meminta, maka sungguh dia telah memaksa dalam meminta.”

Demikianlah syariat yang suci menganjurkan kita agar tidak meminta-minta saat tidak membutuhkan dan agar tidak bergantung kepada orang lain. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِيَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَيْسَ فِي وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ

“Tidaklah seseorang terus meminta-minta hingga kelak pada hari kiamat ia menjumpai Allah sementara di wajahnya tidak ada sepotong daging pun.” (Muttafaq ‘alaih).

Makna hadis ini yaitu dia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan hina dan rendah, tidak punya wajah di hadapan Allah.

Ada juga yang berpendapat bahwa maknanya sesuai dengan teks hadis tersebut, yaitu bahwa dia akan dibangkitkan dalam keadaan wajahnya hanya berupa tulang saja tanpa ada dagingnya, sebagai balasan baginya dan sebagai tanda atas dosanya yang meminta dan mengorbankan kehormatan wajahnya.

Hadis ini berkenaan dengan orang yang meminta-minta tanpa adanya kebutuhan mendesak, yaitu bentuk meminta-minta yang dilarang dan sering dilakukannya.

Yang mengherankan, orang yang terbiasa meminta-minta (atau menjadikannya pekerjaan) mengira bahwa perilaku itu dapat membuatnya kaya. Padahal, hakikatnya, semakin sering dia meminta dan menerima pemberian, semakin bertambah pula kefakirannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَلَا فَتَحَ عَبْدٌ بَابَ مَسْأَلَةٍ إِلَّا فَتَحَ اللهُ عَلَيْهِ بَابَ فَقْرٍ

“Dan tidaklah seorang hamba membuka pintu meminta-minta kecuali Allah akan membukakan baginya pintu kefakiran.” (HR. Ahmad). Dengan demikian, Allah akan membuka baginya pintu kekurangan atau menarik kenikmatan yang dimilikinya.

Balasan yang lebih berat dari itu, dengan meminta-minta padahal tidak membutuhkan, dia telah mengambil bara api untuk disetrikakan pada dirinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَأَلَ النَّاسَ أَمْوَالَهُمْ تَكَثُّرًا، فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْرًا، فَلْيَسْتَقِلَّ أَوْ لِيَسْتَكْثِرْ

“Barang siapa yang meminta harta orang lain untuk memperbanyak hartanya sendiri, maka sesungguhnya dia telah meminta bara api; maka terserah baginya mengambil sedikit atau banyak.” (HR. Muslim).

 

Meminta adalah Kehinaan

Mutharrif bin Abdullah pernah berkata kepada keponakannya, “Jika kamu membutuhkan sesuatu, maka tulislah di selembar kertas karena aku ingin menjaga wajahmu dari kehinaan.”

Seorang penyair berkata:

“Wahai pengharap pemberian orang,

Peminta-minta dari orang dermawan,

Jangan kira mati itu karena sudah usang,

Tetapi mati itu jika meminta-minta kepada orang lain.

Keduanya adalah mati, tetapi mati yang ini

Lebih berat, mati karena kehinaan meminta-minta.”

Al-Ghazali rahimahullah berkata, “Dalam meminta-minta terdapat tindakan menghinakan diri sendiri di hadapan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Padahal, seorang mukmin tidak boleh menghinakan diri di hadapan selain Allah karena seluruh makhluk juga hamba Allah seperti dirinya.”

 

Bekerja dan Mencari Nafkah Lebih Baik daripada Meminta-minta

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa ada seorang lelaki dari kaum Anshar yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dia meminta sesuatu kepada beliau. Beliau kemudian bertanya, “Apakah di rumahmu ada sesuatu?” Dia menjawab, “Tentu, ada kain tebal yang terkadang kami pakai dan terkadang kami hamparkan sebagai alas; dan gelas besar yang kami gunakan untuk minum.”

Beliau bersabda, “Ambillah keduanya kepadaku.” Lalu lelaki itu mendatangkannya. Rasulullah kemudian mengambil kedua barang tersebut dengan tangan beliau, lalu bersabda, “Siapa yang mau membeli dua barang ini?” Ada seorang lelaki yang menanggapi, “Saya mau membeli keduanya dengan satu dirham!”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang mau membelinya lebih dari satu dirham?” Beliau mengulang pertanyaan ini sampai dua atau tiga kali. Kemudian ada lelaki lain yang berkata, “Saya mau membeli keduanya dengan dua dirham!”

Lalu Rasulullah memberikan dua barang itu kepada lelaki tersebut dan mengambil dua dirham darinya. Kemudian beliau memberikan dua dirham itu kepada lelaki dari kaum Anshar tadi seraya bersabda, “Belilah makanan dengan satu dirham dan berikanlah kepada keluargamu. Belilah kapak dengan satu dirham lainnya, lalu datangkanlah kapak itu kepadaku.”

Lelaki itu lalu datang kepada Rasulullah dengan membawa kapak. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memasangkan pegangan kayu pada kapak itu dengan tangan beliau sendiri, lalu bersabda, “Pergilah dan carilah kayu, lalu jual kayu itu! Dan jangan sampai aku melihatmu selama 15 hari ke depan!”

Lelaki itu pun melakukan seperti apa yang diperintahkan. Setelah itu, dia datang lagi dan telah mendapatkan sepuluh dirham. Dia menggunakan sebagiannya untuk membeli pakaian dan sebagian lainnya untuk membeli makanan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda kepadanya, “Ini lebih baik bagimu daripada sikap meminta-minta itu mendatangkan titik hitam di wajahmu pada hari kiamat. Meminta-minta tidak boleh dilakukan kecuali oleh tiga golongan; orang yang sangat fakir, orang yang terlilit utang yang memberatkan, dan orang yang punya tanggungan membayar diyat (dan tidak mampu membayarnya).” (HR. Abu Dawud).

Dari kisah tersebut, kita saksikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengarahkan orang yang mampu bekerja untuk tidak meminta-minta lagi dan untuk mencari pekerjaan, meskipun pekerjaan itu berat. Beliau membantunya menyiapkan hal-hal yang dibutuhkan untuk bekerja dan mencari nafkah, daripada harus menjadi beban masyarakat.

Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengarahkan kaum Muslimin untuk bekerja dan mencari nafkah, dan menjelaskan kepada mereka bahwa makanan terbaik yang dimakan seseorang adalah yang berasal dari hasil kerjanya. Beliau bersabda:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

“Tidaklah seseorang makan suatu makanan pun yang lebih baik daripada makan dari hasil kerjanya.” (HR. Bukhari) 

Tidak meminta-minta kepada orang lain merupakan bentuk menjaga kehormatan diri dan wajahnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

أَتَانِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ، وَأَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مَفَارِقُهُ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ، ثُمَّ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ شَرَفُ الْمُؤْمِنِ قِيَامُهُ بِاللَّيْلِ، وَعِزُّهُ اسْتِغْنَاؤُهُ عَنِ النَّاسِ

“Jibril pernah datang kepadaku lalu berkata, ‘Wahai Muhammad! Hiduplah sesukamu karena sesungguhnya kamu akan mati. Cintailah siapa yang kamu suka karena sesungguhnya kamu akan berpisah dengannya, dan berbuatlah sesukamu karena sesungguhnya kamu akan diberi balasan karenanya.’

Kemudian dia berkata, ‘Wahai Muhammad! Kemuliaan seorang mukmin adalah berdirinya dia pada malam hari (untuk salat malam), dan kehormatannya adalah dengan tidak membutuhkan pemberian dari manusia.’” 

Luqman ‘alaihissalam berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, janganlah sekali-kali kamu meminta-minta karena itu menghilangkan rasa malu dari wajah; dan yang lebih parah dari itu, ia menyebabkan orang lain meremehkanmu.”

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Memindahkan batu besar dari puncak gunung lebih mudah bagiku daripada menerima pemberian dari orang lain. Ada orang yang berkata kepadaku, ‘Bekerja itu adalah aib.’ Lalu aku jawab, ‘Aib itu adalah kehinaan saat meminta-minta.’ Aku telah merasakan pahit getir dari segala hal, tetapi tidak ada yang lebih pahit daripada meminta-minta.”

 

Sampaikan Kebutuhanmu kepada Allah

Apabila seseorang memiliki suatu kebutuhan, hendaklah dia menyampaikannya kepada Allah ’Azza wa Jalla dan memohon kepada-Nya agar kebutuhan tersebut dipenuhi dan dicukupi. Sesungguhnya Allah Ta’ala Maha Mengabulkan doa orang yang berada dalam kesulitan ketika dia berdoa. Allah Ta’ala berfirman:

أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَإِلَٰهٌ مَّعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ

“Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan dan menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sedikit sekali (nikmat Allah) yang kamu ingat.” (QS. An-Naml: 62).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

مَنْ أَصابَتْهُ فَاقَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ لَمْ تُسَدَّ فاقَتُهُ، وَمَنْ أَنْزَلها باللَّه فَيُوشِكُ اللَّه لَهُ بِرِزقٍ عاجِلٍ أَوْ آجِلٍ

“Barang siapa yang tertimpa kemiskinan, lalu dia mengadukannya kepada manusia, maka kemiskinannya tidak akan tertutupi; dan barang siapa yang mengadukannya kepada Allah, maka Allah akan memberinya rezeki, baik segera maupun kelak.”

Dalam bait syair disebutkan:

“Jika kamu merasa miskin dan mengorbankan kehormatanmu untuk meminta, maka memintalah kepada Zat Yang Maha Pemurah Maha Pemberi Karunia.

Sungguh, jika Yang Maha Pemurah memilihmu untuk diberi karunia-Nya, maka Dia akan memberimu karunia itu begitu saja tanpa menunda-nunda.”

Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga membaiat sebagian sahabat untuk tidak meminta-minta apa pun kepada orang lain sehingga di antara mereka ada yang ketika cambuk untanya jatuh, dia tidak meminta orang lain untuk mengambilkannya.

Kendati demikian, apabila keadaan sudah sangat sulit dan dia telah mengetuk pintu Tuhannya, tetapi kebutuhannya belum juga terpenuhi, maka tidak mengapa baginya untuk meminta bantuan kepada orang yang dapat membantunya memenuhi kebutuhan itu dengan tetap menggantungkan hatinya kepada Tuhannya. Sebab, tidak ada yang dapat menghalangi apabila Dia telah memberi dan tidak akan ada yang dapat memberi apabila Dia telah menghalangi.

Muhammad bin Wasi’ pernah berkata kepada Qutaibah bin Muslim,

“Aku datang kepadamu untuk suatu kebutuhan yang telah aku sampaikan kepada Allah sebelum kepadamu. Apabila Allah mengizinkan untuk memenuhi kebutuhan itu, maka kamu akan dapat memenuhinya dan kami akan berterima kasih kepadamu. Namun, jika Allah tidak mengizinkan untuk memenuhi kebutuhan itu, maka kamu tidak akan dapat memenuhinya dan kami akan memberi uzur untukmu.”

 

Segala puji hanya bagi Allah sebelum dan sesudahnya. Selawat, salam, dan keberkahan semoga selalu tercurah kepada hamba dan rasul-Nya, Muhammad, serta keluarga dan seluruh sahabat beliau.

 

Sumber:

islamweb.net/ar/article/236371/اليد-العليا-خير-من-السفلى

PDF Sumber Artikel

Video Belajar Iqro Belajar Membaca Al-Quran

KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28