Oleh: Madahat Abdul Wahhab
Tidak diragukan bahwa penjajahan Palestina oleh orang-orang Yahudi dan terlepasnya negeri ini dari pelukan kaum Muslimin sangatlah menyesakkan dada bagi setiap muslim. Apa yang dilakukan oleh penjajah selama beberapa dekade ini seperti penggusuran, pengusiran, pembunuhan warganya, pencaplokan tanahnya, dan perampasan sumber daya alamnya, pasti menjadikan setiap muslim hidup dalam kesedihan, luka batin, dan rasa tidak berdaya dalam mengulurkan bantuan bagi para penduduknya atau melakukan sesuatu yang mungkin dapat mengubah keadaan suram ini menjadi lebih baik.
Sebagian orang merasa putus asa dengan realitas pahit ini, merasa seolah-olah tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Mereka berusaha untuk melupakan persoalan ini, berusaha menjalani hidup seakan-akan tidak terjadi apa-apa, dan terkadang berusaha lari darinya.
Namun, secara berkala—dengan hikmah Allah—terjadi sesuatu yang mengingatkan kembali tentang tragedi besar dan musibah agung ini, yaitu tragedi yang menimpa negeri muslim di tanah suci Palestina; tanah yang kedudukannya tidak seperti tempat lainnya. Ia adalah tempat isra Nabi (naik ke Sidratul Muntaha dalam peristiwa Isra Mi’raj), kiblat pertama kaum muslimin, dan Tanah Suci ketiga.
Apa yang terjadi akhir-akhir ini, berupa kezaliman keji terhadap Gaza yang terkepung, pelanggaran kejahatan terbesar dan terkejam seperti genosida, pembunuhan, pengusiran, dan penghancuran massal, sungguh menjadikan kita semua berada di hadapan tanggung jawab untuk membela Palestina.
Baitul Maqdis dan Palestina dalam Al-Qur’an al-Karim
Allah Ta’ala berfirman:
“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya, untuk Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Al-Isra: 1).
Masjidil Aqsa merupakan tempat turunnya ayat-ayat dan keberkahan. Allah Ta’ala juga berfirman tentang Nabi Ibrahim dan Nabi Luth:
“Dan Kami selamatkan dia (Ibrahim) dan Luth ke negeri yang telah Kami berkahi untuk seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 71).
Allah Ta’ala juga berfirman:
“Dan Kami jadikan antara mereka dan negeri-negeri yang telah Kami berkahi…” (QS. Saba: 18).
Setiap kali tanah Palestina disebutkan, disebutkan bersamanya keberkahan.
Baitul Maqdis dan Palestina dalam as-Sunnah an-Nabawiyyah
Imam Muslim meriwayatkan dalam kitabnya ash-Shahih dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata:
“Aku pernah bertanya, ‘Wahai Rasulullah, masjid apa yang dibangun di bumi pertama kali?’ Beliau menjawab, ‘Masjidil Haram.’ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?’ Beliau menjawab, ‘Masjidil Aqsa.’ Aku bertanya lagi: ‘Berapa tahun jarak pembangunan antara keduanya?’ Beliau menjawab, ‘Empat puluh tahun. Dan di manapun kamu memasuki waktu shalat, dirikanlah shalat; karena ia (bumi) adalah masjid.’” (HR. Muslim).
Dalam Shahih Muslim juga disebutkan riwayat dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
“Tidak boleh melakukan perjalanan (dengan niat ibadah khusus) kecuali ke tiga masjid; masjidku ini (Masjid Nabawi), Masjidil Haram, dan Masjidil Aqsa.” (HR. Muslim).
Kewajiban kita terhadap Baitul Maqdis dan Palestina
Pertama: Memahami permasalahan dengan benar
Setiap dari kita harus memahami seluk-beluk, hakikat, dan aspek-aspek konflik yang terjadi, yang mana ini merupakan konflik antara kebenaran dan kebatilan. Bagi kita kaum Muslimin, Al-Quds merupakan amanah kekhalifahan dari Allah dan tanggung jawab menjaga Baitul Maqdis. Hal ini menunjukkan bahwa Nabi terakhir beserta umat beliau setelahnya menerima panji kepemimpinan umat manusia dari seluruh Nabi terdahulu. Allah mencabut amanah ini dari kaum Yahudi karena kerusakan yang mereka lakukan di muka bumi, sikap berpaling mereka dari kebenaran, dan penyelewengan mereka terhadap agama Allah.
Tanah Palestina merupakan tanah umat Islam dari warisan kenabian, tidak mungkin tanah ini dilepaskan ataupun menyerah dalam membebaskannya.
Kedua: Memberi bantuan kepada penduduk Palestina
Hal ini mencakup berjihad dengan harta, menyokong penduduk Palestina dan al-Quds, membantu mereka untuk tetap teguh di tanah mereka dan berlindung di dalamnya. Hal itu karena mereka juga menghadapi persoalan duniawi, krisis ekonomi, pengekangan yang berkelanjutan, serta penghancuran, pengeboman, dan peledakan rumah-rumah mereka, terutama rumah para pejuang mereka
Ketiga: Berdoa dan bermunajat kepada Allah
Doa merupakan salah satu anak panah takdir. Doa adalah ibadah paling mudah serta merupakan seruan ilahi. Allah Ta’ala berfirman:
“Dan Tuhan kalian berfirman: ‘Berdoalah kepadaku, niscaya Aku kabulkan bagi kalian.’” (QS. Ghafir: 60).
Seorang muslim tidak selayaknya melewatkan suatu waktu ibadah atau musim ketaatan, melainkan ia menyelipkan doa untuk Palestina, al-Aqsa, Gaza, dan penduduknya. Hendaklah mereka setiap hari mendapatkan doa darimu ketika sujud pada salat-salat fardu maupun sunnah, saat salat malam, saat puasa, pada hari Arafah, ketika haji dan umrah, serta pada kesempatan yang lainnya.
Keempat: Mendidik anak-anak kita di atas kecintaan kepada Palestina
Di antara kewajiban kita terhadap Palestina adalah membesarkan anak-anak kita di atas rasa cinta kepada Palestina dan pengetahuan tentang kedudukannya agar urusan ini terus hidup dan berkobar dalam hati mereka, tetap berlanjut dan berkaitan, diwariskan dari generasi ke generasi selanjutnya. Sebab, anak-anak kita inilah—jika memang bukan kita—generasi yang akan meraih kemenangan dan membebaskannya, insyaallah.
Kelima: Mensosialisasikan isu ini di tengah kaum Muslimin
Setiap kita harus menyampaikan isu ini kepada keluarga, kenalan, kerabat, sahabat, serta lingkungan sosial dan keilmuan kita. Jangan sampai para jurnalis, cendekiawan, ilmuwan, atau olahragawan kita ikut serta dalam acara apa pun yang mengumpulkan mereka dengan orang yang mewakili negara zionis ini, agar mereka selalu terkucilkan dan tidak bisa berbaur di antara kita. Bagaimana kita tidak memperlakukan mereka demikian, sedangkan mereka telah menjajah tanah air kita, membunuh dan menyiksa saudara-saudara kita, dan merampas tanah Palestina dan al-Quds?!
Keenam: Memboikot perekonomian
Ini merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang punya nurani. Tidak seharusnya seorang muslim membelanjakan hartanya—dengan nominal yang sedikit maupun banyak—untuk membeli produk yang dibuat oleh musuh utama kaum Muslimin, penjajah tanah mereka, penumpah darah mereka, pelaku genosida, pihak yang membuat anak-anak kelaparan, serta perusak masjid, rumah, rumah sakit, sekolah, dan segala sarana kehidupan.
Hendaklah kita ketahui bahwa keuntungan dari produk-produk yang kita beli ini merupakan urat nadi perekonomian mereka, yang menjadi penopang utama eksistensi mereka. Pabrik-pabrik mereka menggelontorkan dana jutaan bahkan miliaran dolar untuk membuat senjata-senjata mematikan yang dipakai untuk membunuh kaum Muslimin dan menyiksa mereka dengan berbagai bentuk ketakutan dan penderitaan.
Oleh sebab itu, usahakanlah agar hartamu tidak sampai ke tangan mereka yang akan menjadi sebab diproduksinya peluru untuk membunuh orang Islam.
Ya Allah, bebaskanlah Masjidil Aqsa dari najis kaum zionis dan karuniakanlah kepada kami salat di mihrabnya atau kesyahidan di jalan pembebasannya.
***
Sumber:
https://www.alukah.net/culture/0/169412/كيف-نساهم-في-تحرير-فلسطين/
