Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia

Nasehat

Mayat-Mayat Hidup

Oleh: Fahd bin Abdul Aziz Abdullah asy-Syuwairikh

Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Selawat dan salam semoga terlimpah kepada nabi dan rasul yang paling mulia, Nabi kita Muhammad, dan kepada keluarga, dan seluruh sahabat beliau, amma ba’du.

Manusia itu kondisinya antara masih hidup atau sudah meninggal dunia. Yang sudah meninggal dunia berada di dalam pagar kuburan, sedangkan yang masih hidup ada di luar pagarnya. Namun, ada orang-orang yang sudah mati tapi berada di luar pagar kuburan dan jumlah mereka tidaklah sedikit. Seorang salaf berkata, “Orang yang sudah mati yang ada di luar pagar kuburan jumlahnya lebih banyak daripada yang ada di dalam pagarnya.” Mereka disebut dengan mayat hidup, yaitu orang yang tidak mengenal kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran.

Seorang sahabat bernama Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Apakah kalian mengetahui siapa itu mayat mati yang disebutkan dalam syair:

لَيْسَ مَنْ مَاتَ فَاسْتَرَاحَ بِمَيِّتٍ * إِنَّمَا الْمَيِّتُ مَيِّتُ الْأَحْيَاءِ

“Orang yang mati lalu tenang dalam kuburnya bukanlah mayat. Tapi mayat adalah orang yang (nuraninya) mati tapi jasadnya hidup di antara orang-orang hidup.”

Orang-orang pun bertanya, “Lalu siapa dia?” Abdullah bin Mas’ud menjawab, “Yaitu orang yang tidak mengenali kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran.”

Agar seorang Muslim tidak termasuk orang-orang hidup tapi mati nuraninya, berikut adalah nasihat-nasihat yang semoga Allah menjadikannya bermanfaat.

Nasihat pertama: 

Seorang muslim hendaknya senantiasa mengawasi dan menghisab dirinya, alih-alih melalaikannya. Ia juga harus selalu berusaha agar api keimanan tetap hidup dalam hatinya, separah apa pun perubahan yang ia lihat pada keadaan manusia. Karena kebaikan tetap akan menjadi kebaikan meskipun tidak ada yang mengamalkannya kecuali sedikit. Dan kemungkaran tetaplah kemungkaran meskipun dikerjakan oleh begitu banyak orang. 

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

قُلْ لَا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ ۚ فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Katakanlah, ‘Tidaklah sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu. Maka bertakwalah kepada Allah, wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat, agar kamu beruntung.’” (QS. Al-Maidah: 100)

Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Di antara faedah yang dapat dipetik dari ayat ini adalah tidak pantas bagi seseorang untuk menjadikan jumlah sebagai timbangan kebenaran.”

Oleh sebab itu, janganlah terbuai dengan banyaknya orang yang menempuh jalan kebinasaan dan jangan merasa asing oleh sedikitnya orang yang menempuh jalan petunjuk dan kebenaran. Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata, “Orang yang mencari hidayah dan menempuh jalan yang lurus tidak peduli dengan orang-orang yang menyelisihinya karena mereka lebih rendah derajatnya meskipun mereka lebih banyak jumlahnya. Seperti yang dikatakan seorang salaf, ‘Engkau harus menempuh jalan kebenaran dan jangan merasa asing dengan sedikitnya orang yang menempuhnya. Dan jangan sekali-kali menempuh jalan kebatilan, dan jangan terbuai dengan banyaknya orang yang menempuhnya.’”

Nasihat kedua:

Seorang muslim harus memperbanyak amal ketaatan yang dapat mendekatkannya kepada Allah dan menjauhi perbuatan dosa yang dapat menyebabkan hatinya mati—jika ia tidak bertobat—sehingga menjadi mayat hidup yang tidak lagi mengenal kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran.

Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata, “Hidupnya hati dengan konsisten berzikir, bertobat kepada Allah, dan meninggalkan dosa-dosa. Sedangkan kelalaian yang menguasai hati, dan keterpautan dengan amal-amal keburukan, dan syahwat yang terputus dari kedekatan kepada Allah akan melemahkan kehidupan ini. Kelemahan akan terus menguasainya hingga akhirnya mati dan tanda kematiannya adalah ketika ia sudah tidak mengenal lagi kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran.”

Nasihat ketiga:

Orang yang jiwanya lemah dan setannya mengalahkannya serta senantiasa berbuat kemaksiatan, hendaklah berhati-hati menjadi orang yang bahagia dengan semua itu, dan bahkan mengajak orang lain kepadanya, atau menghiasinya dan memudahkan orang lain untuk melakukannya dengan cara dan media apa pun. Sebaliknya, hendaklah kondisinya selalu dalam penyesalan atas dosanya, menangisinya, dan berusaha menuntun jiwanya untuk bertobat darinya dan tidak kembali kepadanya.

Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata, “Senang dengan kemaksiatan adalah tanda betapa kuat kecintaannya kepadanya, kebodohannya terhadap kedudukan Zat yang ia durhakai, dan kebodohannya terhadap buruknya akibatnya dan besarnya bahayanya. Namun, kesenangannya dengan kemaksiatan membuatnya buta dari itu semua. Rasa senangnya dengan kemaksiatan jauh lebih berbahaya baginya daripada ia terjerumus ke dalam kemaksiatan itu.

Padahal, orang beriman tidak mungkin rasa nikmatnya terpenuhi dengan kemaksiatan dan rasa senangnya tidak mungkin sempurna dengannya. Sebaliknya, tidaklah ia melakukan kemaksiatan melainkan kesedihan akan merasuk ke dalam hatinya. Hanya saja, mabuk syahwat telah menghalanginya dari perasaan itu.

Oleh sebab itu, ketika hatinya tidak lagi merasakan kesedihan itu, tapi justru rasa senang dan keinginannya semakin memuncak, maka hendaklah ia mencurigai keimanannya dan menangisi kematian hatinya. Karena seandainya hatinya masih hidup, niscaya perbuatan dosa akan membuatnya sedih, marah, dan terasa berat baginya, hatinya pasti merasakan hal itu. Namun, ketika hatinya tidak lagi merasakannya, maka sungguh luka itu memang tidak lagi terasa sakit bagi mayat.”

Nasihat keempat:

Selain terdapat orang-orang hidup yang mati, ada juga orang-orang mati yang hidup, dan mereka adalah para ulama yang telah mati dan dikubur, tapi ilmu mereka tetap hidup. Abdullah bin Muhammad as-Sayyid al-Bathalusi at-Tinnisi (wafat 521 H) berkata,

أَخُو الْعِلْمِ حَيٌّ خَالِدٌ بَعْدَ مَوْتِهِ * وَأَوْصَالُهُ تَحْتَ التُّرَابِ رَمِيمُ

“Orang yang berilmu tetap hidup dan kekal setelah kematiannya. Meski anggota tubuhnya telah hancur di bawah tanah.”

وَذُو الْجَهْلِ مَيِّتٌ وَهُوَ مَاشٍ عَلَى الثَّرَى * يُظَنُّ مِنَ الْأَحْيَاءِ وَهُوَ عَدِيمُ

“Sedangkan orang yang bodoh adalah orang mati, meskipun ia masih berjalan di atas tanah. Ia disangka termasuk orang yang masih hidup, tapi hakikatnya ia bagaikan tidak ada.”

Barang siapa yang ingin memiliki bekal untuk perjalanannya ke negeri akhirat maka hendaklah ia gemar duduk dengan para ulama, melalui membaca buku mereka dan mempelajari ilmu mereka. Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata saat membahas tentang hijrah menuju Allah dan Rasul-Nya dalam kitabnya ar-Risalah at-Tabukiyah, “Barang siapa yang ingin melakukan perjalanan ini, hendaklah ia bersama dengan orang-orang yang telah mati tapi masih hidup di alam ini, karena dengan bersama mereka, ia akan sampai ke tujuannya.”

Syekh Shalih bin Abdul Aziz bin Muhammad Alu asy-Syaikh berkata, “Saya berpesan kepada semua agar banyak duduk dengan para ulama yang masih hidup dan yang telah wafat. Adapun yang masih hidup, maka ambillah manfaat dari mereka melalui ucapan dan mendengarkan mereka. Sedangkan yang telah wafat, maka dengan membaca buku-buku mereka.”

Dengan ilmu, seorang insan menjadi hidup. Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata, “Orang bodoh telah mati hati dan jiwanya, meskipun jasadnya masih hidup. Jasadnya hanya menjadi kuburannya yang ia bawa berjalan di atas muka bumi. Allah Ta’ala berfirman,

أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا

‘Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah manusia, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan, sehingga dia tidak dapat keluar darinya? Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang kafir apa yang mereka kerjakan.’” (QS. Al-An’am: 122)

Nasihat kelima:

Hendaklah seorang muslim menghindari duduk dan bergaul dengan orang-orang yang hidup tapi mati. Karena bergaul dengan mereka adalah penyakit, berinteraksi dengan mereka adalah racun, duduk dengan mereka adalah kebinasaan.

Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata, “Hendaklah seseorang menghindari berteman dengan orang-orang hidup tapi telah mati di tengah-tengah manusia. Karena mereka akan memotong jalannya. Seorang salaf berkata, ‘Amat jauh perbedaan antara orang-orang yang telah wafat tapi hati menjadi hidup dengan mengingat mereka, dan orang-orang yang masih hidup tapi hati menjadi mati dengan berinteraksi dengan mereka.’”

Sumber:

https://www.alukah.net/sharia/1001/157801/ميت-الأحياء/ 

PDF Sumber Artikel

 

Video Belajar Iqro Belajar Membaca Al-Quran

KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28