Oleh: Fahd Abdul Aziz Abdullah asy-Syuwairikh
Segala puji hanya bagi Allah Tuhan semesta alam. Selawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada nabi dan rasul terbaik, Nabi Muhammad, dan kepada keluarga, serta seluruh sahabat beliau. Amma ba’du.
Barang siapa yang menginginkan kehidupan yang baik, maka hendaklah ia bersikap qanaah. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
“Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia dalam keadaan beriman, sungguh Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik…” (QS. An-Nahl: 97)
Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Penjelasan tentang makna ‘kehidupan yang baik’ terdapat lima pendapat: …
Pendapat kedua: Yakni rasa qanaah. Pendapat ini dikemukakan oleh al-Hasan al-Bashri, Zaid bin Wahb, Wahb bin Munabbih, dan Ibnu Abbas yang diriwayatkan al-Hakim dari Ikrimah darinya, dan pendapat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.”
Imam Ibnu Aqil rahimahullah berkata, “Seandainya engkau mengetahui kadar kedamaian yang ada dalam sikap qanaah dan kemuliaan yang ada di dalam lingkupnya, niscaya engkau akan mengetahui bahwa itulah kehidupan yang baik.”
Sungguh beruntung orang yang dikaruniai rasa qanaah. Dalam Sahih Muslim diriwayatkan dari Abdullah bin Amru bin al-Ash radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan dianugerahi rasa qanaah (merasa cukup/puas) oleh Allah atas apa yang Dia diberikan kepadanya.”
Dalam sikap qanaah juga terdapat kemuliaan jiwa. Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata dalam kitabnya Qam’u al-Hirsh Bil-Zuhd Wa al-Qanaah beberapa bait syair yang dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, yang berbunyi,
“Orang yang mulia jiwanya adalah yang selalu bersikap qanaah. Dan tidak menyingkap kesulitannya kepada makhluk.”
“Sifat qanaah telah memberinya segala bentuk kemuliaan. Dan adakah kemuliaan yang melebihi sifat qanaah?”
“Maka jadikanlah qanaah itu sebagai modal utamamu. Dan setelah itu jadikanlah takwa sebagai barang daganganmu.”
“Agar engkau mendapat kecukupan dari bergantung pada orang pelit. Dan meraih surga dengan bersabar sesaat.”
Dalam qanaah terdapat ketenangan pikiran. Imam Ibnu Hibban rahimahullah mengatakan dalam kitabnya Raudhah al-Uqala Wa Nuzhah al-Fudhala, “Andai dalam qanaah tidak ada hal yang terpuji kecuali ketenangan dan tidak terjerumus ke dalam keburukan demi meraih keutamaan, niscaya cukup menjadikan orang berakal tidak boleh meninggalkan sikap qanaah dalam kondisi apa pun.
Orang yang tidak punya rasa qanaah, tidak akan merasa kaya dengan bertambahnya harta. Sedangkan kemampuan orang untuk hidup dengan harta terbatas tapi minim beban pikiran, jauh lebih menenteramkan daripada orang dengan banyak harta tapi punya banyak tuntutan. Orang yang berakal akan membalas sifat serakah dengan sikap qanaah, sebagaimana ia membalas musuh dengan qisas. Sebab, hal yang menahan rezeki orang cerdas bisa jadi juga merupakan hal yang justru mendatangkan rezeki bagi orang yang bodoh.”
Barang siapa yang merasa puas dengan apa yang telah Allah ‘Azza wa Jalla karuniakan, maka Dia akan memberkahinya dalam rezeki itu. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata dalam penjelasan hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “…dan barang siapa yang merasa cukup, maka Allah akan mencukupkannya.” Yakni merasa cukup dengan apa yang dimiliki, meskipun sedikit, niscaya Allah ‘Azza wa Jalla akan membuatnya berkecukupan dan memberkahinya.
Orang yang qanaah adalah manusia yang paling kaya. Saad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu pernah berkata kepada anaknya yang bernama Umar, “Wahai anakku, apabila engkau mencari kekayaan maka carilah dengan rasa qanaah, karena jika engkau tidak punya rasa qanaah, maka harta tidak akan membuatmu kaya.”
Zainul Abidin, Ali bin al-Husain berkata, “Siapa yang merasa qanaah dengan apa yang telah Allah bagikan, maka ia termasuk orang yang paling kaya.”
Abu al-Atahiyah berkata,
“Kefakiran jiwa itu sesuai dengan kadar tuntutan hawa nafsunya. Sedangkan kekayaan jiwa itu sesuai dengan kadar rasa qanaahnya.”
Aus bin Haritsah berkata, “Kekayaan terbaik adalah qanaah, dan kemiskinan terburuk adalah ketundukan terhadap manusia.”
Orang yang qanaah adalah manusia yang berakal sempurna. Abu Hazim rahimahullah berkata, “Ada tiga perkara, siapa yang di dalam dirinya terdapat tiga perkara ini maka sempurnalah akalnya, yaitu orang yang mengenal hakikat dirinya, menjaga lisannya, dan merasa puas atas apa yang Allah rezekikan kepadanya.”
Barang siapa yang dikaruniai rasa qanaah, maka ia akan terbebas dari hasad. Al-Madaini berkata, “Dua hal yang tidak akan berkumpul selamanya: rasa qanaah dan hasad.”
Apabila seorang insan telah qanaah, maka Allah akan membuat orang lain merasa qanaah dengannya. Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkata dalam kitabnya Mudawah an-Nufus, “Bersikaplah qanaah dengan orang yang ada di sekitarmu, niscaya orang yang ada di sekitarmu juga merasa qanaah denganmu.”
Siapa yang tidak merasa qanaah dan terus menuntut banyak perhiasan dunia, maka ketika ia tidak dapat meraihnya, ia akan merasakan kegundahan dan kegelisahan. Dan jika ia dapat meraihnya, mungkin ia akan lalai dari perkara-perkara agama dan dunianya yang bermanfaat baginya. Abu ad-Darda radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ketahuilah bahwa sedikit yang mencukupimu itu lebih baik daripada banyak yang melalaikanmu.”
Ketamakan terhadap dunia dan tidak merasa puas adalah azab lahir dan batin. Seorang penyair berkata,
“Sesungguhnya qanaah adalah separuh dari kehidupan, maka puaslah dengannya. Janganlah sekali-kali bersikap serakah, karena keserakahan itu adalah siksaan.”
Orang bahagia adalah orang yang tidak membuang-buang waktunya untuk mengejar dan mengumpulkan dunia. Imam al-Jauzi rahimahullah berkata, “Orang yang bahagia adalah orang yang merasa puas dengan rezeki yang cukup, karena waktu lebih berharga daripada dibuang-buang untuk mencari dunia.”
Orang yang qanaah adalah insan yang didambakan. Malik bin Dinar rahimahullah berkata, “Sungguh aku mendambakan orang yang kehidupannya pas-pasan tapi ia merasa puas dengannya.”
Siapa yang tidak puas dengan rezeki yang cukup baginya, maka tidak akan ada hal yang mampu membuatnya cukup di dunia ini. Salamah bin Dinar rahimahullah berkata, “Apabila apa yang mencukupimu sudah membuatmu merasa kaya, maka kehidupan yang terbatas juga sudah cukup bagimu. Namun jika apa yang mencukupimu tidak membuatmu merasa kaya, maka tidak ada apa pun lagi yang dapat membuatmu merasa kaya.”
Ya Allah, karuniakanlah kepada kami sifat qanaah, dan berkahilah kami dalam rezeki yang engkau karuniakan kepada kami.
Sumber:
https://www.alukah.net/sharia/11874/154306/القناعة-راحة-وبركة-وسعادة/
