Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia

Nasehat, Rezeki

Sikap Manusia terhadap Nikmat

Oleh: Fadi Nidhal Umar

Golongan pertama: Orang-orang yang tidak menyadari adanya kenikmatan dan baru menyadarinya setelah kenikmatan itu lenyap, seperti mereka yang tidak mengerti dan menyadari besarnya nikmat penglihatan, pendengaran, serta kemampuan berjalan dan berbicara kecuali setelah ada di antara nikmat itu yang hilang, atau tidak menyadari nikmat kedua orang tua, nikmat rasa kanaah, nikmat ketenangan jiwa, ketenteraman, harta, dan nikmat-nikmat lainnya kecuali setelah ia kehilangan.

Dan terkadang ada dari mereka yang mengucap sumpah serapah, berteriak, dan mencela takdir ketika kehilangannya, naudzubillah. Mereka selalu dalam kelalaian. Perumpamaan mereka seperti hewan ternak, sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan,

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آَذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

“Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan untuk (penghuni) neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, (tetapi) tidak mereka pergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah), memiliki mata, (tetapi) tidak mereka pergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan memiliki telinga, (tetapi) tidak mereka pergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 179)

Golongan kedua: Orang yang mengetahui adanya kenikmatan yang dia peroleh, tapi tidak mengetahui dari mana datangnya itu semua. Kondisi mereka seperti kondisi Qarun dalam hal ini. Mereka mengakui adanya pendengaran, penglihatan, dan nikmat-nikmat lain yang mereka dapatkan. Apabila mereka melihat seorang tunanetra atau tunarungu, mereka hanya mengatakan, “Kami baik-baik saja!” 

Mereka mengetahui bahwa ketenangan adalah sebuah kenikmatan dan harta juga sebuah kenikmatan, tapi mereka mengatakan, “Ini memang berasal dari usaha kami sendiri.” Layaknya orang yang mengatakan, “Dengan diriku dan usahaku sendiri, aku bisa sampai di posisi ini! Dengan usaha dan kecerdasanku, aku mampu meraih gelar doktor! Dengan usahaku, aku dapat mengumpulkan gelimang harta ini! Sudah menjadi bawaan bahwa harta ini akan datang kepadaku! Dan ungkapan-ungkapan sejenis lainnya.”

Golongan ketiga: Orang yang mengakui adanya nikmat yang ia terima, dan mengakui bahwa itu semua berasal dari Allah dan berkat taufik-Nya. Hanya saja, mereka justru sibuk dengan nikmat-nikmat itu sehingga lalai untuk bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atau menggunakannya untuk perkara yang mungkar.

Seperti halnya orang-orang yang bersyukur kepada Allah Ta’ala atas nikmat penglihatan, pendengaran, gerakan, dan lain sebagainya hanya dengan lisannya saja, dan justru menggunakan nikmat-nikmat itu untuk bermaksiat kepada Allah. Mereka tidak menjauhkan diri dari mendengarkan musik-musik, gibah, dan hal-hal haram lainnya, atau mereka tidak menghindar dari melihat hal-hal yang diharamkan untuk dilihat.

Juga seperti para pemilik harta, perusahaan, dan properti, mereka bersyukur kepada Allah secara lisan, tetapi bermaksiat kepada Allah secara perbuatan. Kalian dapat melihat mereka sibuk mengembangkan aset-aset itu siang dan malam, terus mengikuti perkembangan bursa saham, atau berusaha menjilat si A dan si B, mendekati kementerian ini dan itu untuk memuluskan transaksi tertentu, demi memperbaiki jabatan atau perusahaannya.

Kalian mendapati mereka lalai dari pelaksanaan salat pada waktunya, dari hak-hak istri, anak, dan keluarga, dari hak-hak Allah Ta’ala, dan bahkan menggunakan kenikmatan itu untuk hal yang mengundang kemurkaan Allah Ta’ala.

Sebagai contoh, gadis muda yang cantik jelita, ia bersyukur kepada Allah atas nikmat kecantikan itu, tetapi ia justru keluar rumah tanpa menutup aurat dengan baik dan tidak menjaga diri dari kaum pria. Juga seperti pegawai dengan jabatan yang baik, ia bersyukur kepada Allah atas nikmat itu, tetapi ia memakai gajinya untuk hal yang mengundang kemurkaan Allah.

Mungkin ada dari mereka yang berujar, “Alhamdulillah, Allah telah memudahkanku untuk meraih ini dan itu!” Ia tidak sadar bahwa ucapannya adalah kemungkaran besar. Seperti penyanyi atau penari, Allah memberinya suara yang indah dan merdu, dan ia mengetahui bahwa itu adalah bentuk nikmat dari Allah, tetapi ia justru menggunakannya untuk perkara yang mengundang kemurkaan Allah.

Lalu dengan dingin ia berkata, “Alhamdulillah, Allah memberiku kemudahan untuk mengeluarkan albumku yang terakhir atau rekaman video klip.” Atau orang kaya yang berkata, “Alhamdulillah, Allah telah memudahkanku untuk membuka atau membeli stasiun televisi untuk siaran lagu dan film, membuka warnet, dan lain sebagainya.” 

Golongan ini seperti orang-orang Arab Badui yang disebutkan Allah Ta’ala dalam firman-Nya,

سَيَقُولُ لَكَ الْمُخَلَّفُونَ مِنَ الْأَعْرَابِ شَغَلَتْنَا أَمْوَالُنَا وَأَهْلُونَا فَاسْتَغْفِرْ لَنَا يَقُولُونَ بِأَلْسِنَتِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ قُلْ فَمَنْ يَمْلِكُ لَكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ بِكُمْ ضَرًّا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ نَفْعًا بَلْ كَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

“Orang-orang Arab Badui yang tertinggal (tidak ikut ke Hudaibiyah) akan berkata kepadamu, ‘Kami telah disibukkan oleh harta dan keluarga kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami.’ Mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya. Katakanlah, ‘Maka, siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah sedikit pun terhadap kamu jika Dia menghendaki kemudaratan bagimu atau jika Dia menghendaki kemanfaatan bagimu? Sebenarnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Fath: 11)

Golongan keempat: Orang-orang yang mengakui adanya nikmat yang mereka peroleh, dan mengakui bahwa itu berasal dari Allah Ta’ala. Mereka tidak lalai dari rasa syukur kepada Allah dan menggunakannya untuk ketaatan kepada-Nya. 

Mereka adalah orang-orang yang bersyukur dan memuji Allah Ta’ala secara ucapan dan perbuatan, seperti orang-orang yang menjaga kemaluan dan penglihatan mereka, sehingga mereka tidak memandang hal yang haram, tidak mendengar dan mengucapkan hal haram, tidak memakan hal yang haram, dan tidak mengusahakan hal yang haram.

Mereka justru senantiasa mendengar dan membaca al-Qur’an, berbicara dalam hal yang diridai Allah, berusaha selalu taat kepada Allah dan beribadah kepada-Nya semata, berdakwah dan berjihad di jalan Allah, berinfak di jalan-Nya, mendirikan salat, berzikir, berbakti kepada orang tua, menjaga silaturahmi, berakhlak yang mulia, memuliakan tamu, bersikap baik kepada orang lain, dan hal-hal lainnya yang menambah rasa syukur mereka kepada Allah Ta’ala. Mereka adalah golongan minoritas yang disampaikan Allah Ta’ala dalam firman-Nya,

وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

“Sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba: 13)

Wahai saudara-saudaraku! Mari kita tengok kembali keadaan kita terhadap nikmat-nikmat Allah yang tidak terhitung dan terbilang jumlahnya, dan janganlah kita berlari mengejar dunia dan memuaskan hawa nafsu.

قَدْ هَيَّئُوكَ لِأَمْرٍ لَوْ فَطِنْتَ لَهُ * فَارْبَأْ بِنَفْسِكَ أَنْ تُرْعَى مَعَ الهَمَلِ

“Sungguh mereka telah menyiapkamu untuk suatu urusan besar yang seandainya kamu menyadarinya. Maka muliakanlah dirimu dari digembalakan bersama hewan ternak yang dibiarkan tanpa arah.”

 

Sumber:

https://www.alukah.net/sharia/11874/6798/حال-الناس-مع-النعم/ 

PDF Sumber Artikel

 

Video Belajar Iqro Belajar Membaca Al-Quran

KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28