Para Rasul dan Pasar

Para Rasul dan Pasar

Oleh Ustadz Ammi Nur Baits

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Bagian dari karunia yang Allah berikan kepada umat manusia, Allah mengutus para nabi dan rasul dari kalangan mereka. Sehingga mereka bisa berinteraksi secara baik dengan para utusan Allah. Mereka manusia, beraktifitas sebagaimana manusia, berbahasa dengan bahasa manusia, dst. Ini akan memudahkan mereka untuk meniru para utusan itu.

Allah berfirman,

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (QS. Ali Imran: 164).

Sayangnya, keberadaan rasul dari kalangan manusia, justru dijadikan celah bagi orang kafir untuk menghina sang rasul, yang tentu saja celaan ini menjadi tidak nyambung. Diantaranya, mereka mencela para rasul karena sang rasul beraktifitas di pasar.

Allah berfirman,

وَقَالُوا مَالِ هَذَا الرَّسُولِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِي فِي الْأَسْوَاقِ لَوْلَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَلَكٌ فَيَكُونَ مَعَهُ نَذِيرًا

Dan mereka berkata: “Mengapa rasul itu memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama- sama dengan dia.” (QS. al-Furqan: 7)

Ada dua pelajaran yang bisa kita ambil dari ayat ini,

Pertama, celaan yang diberikan orang kafir kepada Nabi ﷺ. Menurut mereka, seharusnya rasul itu berasal dari kalangan malaikat. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah di pasar, menyampaikan dan mengajak manusia untuk mengikuti kebenaran, mereka menganggap, Muhammad seperti para penguasa yang ingin menguasai pasar. Kemudian hal ini dibantah oleh Allah, bahwa para rasul di masa silam juga melakukan yang sama. Mereka berdakwah di pasar.

Allah berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ

“Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar..” (QS. al-Furqan: 20).

Kedua, bahwa masuk pasar hukum asalnya mubah, dalam rangka berdagang, atau mencari nafkah. Dan ada tugas mulia yang dilakukan oleh para rasul ketika di pasar, disamping melakukan transaksi di pasar, mereka juga berdakwah menyampaikan kebenaran, mengajak para kabilah untuk kembali kepada kebenarn.

Atha’ bin Yasar pernah ketemu Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu, lalu beliau meminta,

‘Tolong sampaikan kepadaku mengenai sifat Rasulullah ﷺ dalam Taurat?’

Abdullah mengatakan,

أَجَلْ ، وَاللَّهِ إِنَّهُ لَمَوْصُوفٌ فِى التَّوْرَاةِ بِبَعْضِ صِفَتِهِ فِى الْقُرْآنِ

Baik, demi Allah, sifat beliau yang disebutkan dalam taurat, merupakan sebagian dari sifat beliau yang disebutkan di al-Quran…

Diantara yang beliau sebutkan,

لَيْسَ بِفَظٍّ وَلاَ غَلِيظٍ وَلاَ سَخَّابٍ فِى الأَسْوَاقِ

Beliau kalau bicara tidak kasar, hatinya tidak keras, dan tidak suka teriak-teriak di pasar. (HR. Bukhari 2125).

Karena itu, diantara sikap ideal bagi mukmin ketika di pasar, disamping berdagang adalah mendulang pahala di pasar. Seperti menebar senyum, menebar salam, berdakwah, mengajak masyarakat agar kembali kepada kebenaran, dst.

Seperti yang dilakukan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,

إِنْ كُنْت لأَخْرُجُ إلَى السُّوقِ وَمَا لِي حَاجَةٌ إلاَّ أَنْ أُسَلِّمَ وَيُسَلَّمَ عَلَيَّ

“Aku pernah datang ke pasar, padahal aku tidak memiliki kebutuhan apapun, selain untuk menyampaikan salam atau menjawab salam.” (HR. Ibnu Abi Syaibah 26260).

Terkadang para sahabat masuk pasar, hanya untuk mengajak masyarakat untuk banyak takbiran ketika masuk sepuluh pertama bulan Dzulhijjah. Imam Bukhari menyebutkan,

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ وَأَبُو هُرَيْرَةَ يَخْرُجَانِ إِلَى السُّوقِ فِى أَيَّامِ الْعَشْرِ يُكَبِّرَانِ ، وَيُكَبِّرُ النَّاسُ بِتَكْبِيرِهِمَا

“Dulu Ibnu Umar dan Abu Hurairah pergi ke pasar pada tanggal 1 – 10 Dzulhijjah. Mereka berdua mengucapkan takbiran kemudian masyarakat bertakbir disebabkan mendengar takbir mereka berdua.” (HR. Bukhari, bab: Keutamaan beramal di hari tasyriq).

Demikian, Allahu a’lam.

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989