Bebas Banjir Informasi

Bebas Banjir Informasi

Saat kita kebanjiran informasi, bisa jadi kita tidak punya waktu lagi untuk memilih dan memilahnya.

 Berikut kiat yang dapat membantu Anda mengontrol informasi yang berseliweran di sekitar Anda, sekaligus mencegah agar situasi serupa tidak terulang kembali.

Oleh Budhi Wuryanto

Anda—juga pengusaha lain di mana pun—kini telah menjadi bagian dari jutaan orang yang kebanjiran informasi. Setiap hari, setiap jam, dan bahkan setiap menit! Banjir informasi, demikian istilah untuk situasi demikian banyaknya informasi yang menghampiri dan masuk ke dalam otak kita, sampai-sampai tidak ada lagi waktu untuk memilih dan memilahnya—mana informasi yang bermakna, mana yang cuma “sampah” (spam)—dan tak tersedia lagi ruang untuk mengendapkannya.

Ya, setiap hari, sekarang, kita memang memburu, dan disuguhi, informasi sampai pada tingkat kelebihan—melalui radio, televisi dan media elektronik lain, lewat berbagai media cetak, dan bahkan melalui Internet dan short messege service (SMS). Kita mengalami kelebihan informasi, karena kita menerima lebih banyak informasi daripada yang bisa diproses oleh otak kita. Kita berpacu dengan ledakan informasi. Dan, ancaman bahaya banjir informasi dan masuknya “informasi sampah” ke dalam otak kita itu sangatlah nyata, sekarang!

Ada beberapa nasihat mengenai bagaimana caranya agar tidak kebanjiran informasi, dan mencegah agar “informasi sampah” (spam) tidak masuk ke otak Anda. Tetapi sekarang sudah terlambat untuk itu semua. Anda mengalami kelebihan informasi karena Anda menerima lebih banyak informasi daripada yang bisa Anda proses. Dan satu-satunya pertanyaan yang ingin Anda dapatkan jawabannya adalah bagaimana caranya agar tidak tenggelam di tengah banjir informasi, yang di dalamnya juga mengandung “informasi sampah.”

Yang Anda perlukan adalah bantuan untuk dapat membuat manajemen informasi dalam kehidupan Anda kembali normal, dan informasi yang berseliweran di sekitar Anda dapat Anda kontrol kembali. Anda membutuhkan kiat untuk mencegah agar situasi serupa tidak terulang kembali di masa depan.

Minimalkan Bacaan yang tidak Perlu

Beberapa tip berikut semoga dapat membantu Anda mengatasi ancaman bahaya banjir informasi.

  • Perlakukan bahan bacaan Anda seperti film di bioskop. Kalau Anda tidak bisa nonton pada kesempatan tertentu, ya sudah. Namun kalau memang film itu sangat bagus atau istimewa, pasti akan diputar lagi. Begitulah salah satu cara meminimalkan bahan bacaan yang tidak perlu. Berikut ini beberapa tips lainnya.
  • Jangan membaca hanya karena seseorang memberi Anda bacaan. Anda yang memutuskan apakah bacaan tadi layak mendapat perhatian atau tidak. Ukurlah dengan tujuan inti Anda: apakah dengan membacanya akan membantu Anda mencapai tujuan, ataukah tidak.
  • Untuk buku, bacalah daftar isi dan pengantar terlebih dahulu, karena mungkin yang perlu Anda ketahui dapat diperoleh di sana. Kadang pengantar buku memberi tahu Anda bahwa Anda tidak perlu membaca buku itu sama sekali.
  • Kalau punya staf, mintalah dia membacakan sebuah artikel atau dokumen. Mintalah pula dia juga memberi laporan verbal atau laporan tertulis singkat mengenai kegiatannya. Minta pula dia untuk menandai—dengan spidol warna atau stabilo, misalnya—paragraf singkat yang dia rasa harus Anda ketahui dari laporan mereka.
  • Banyak buku, laporan dan proposal mempunyai ringkasan. Baca saja bagian yang ini.
  • Jika tidak ada ringkasan, sebuah dokumen yang ditulis dengan baik sering kali mengandung paragraf akhir yang merangkum paling tidak setiap sub bab. Bacalah paragraf pertama dan terakhir saja dari setiap sub bab itu. Hal ini cukup memberikan informasi tentang bagian mana yang harus Anda baca lebih teliti dan mana yang dapat Anda lewati.
  • Identifikasi dua-tiga artikel paling relevan pada majalah ataun koran langganan Anda. Bacalah hanya artikel-artikel itu, dan lupakan sisanya.
  • Jika Anda harus membaca sejumlah dokumen, meski tidak perlu membaca semua hal yang sampai ke meja Anda, jadwalkan waktunya pada buku rencana kerja Anda setiap minggu untuk mengejar ketertinggalan.
  • Sampaikan permintaan kepada semua orang yang bekerja dengan Anda bahwa setiap laporan atau dokumen tercetak lain harus dilampiri ringkasan yang panjangnya tidak boleh lebih dari satu halaman kertas A-4. Memo atau e-mail internal juga harus Anda minta tidak boleh lebih satu halaman, sebagaimana juga Anda melakukannya untuk orang lain.
  • Matikan televisi; lebih baik gunakan waktu Anda untuk membaca buku. Tonton televisi hanya jika ada yang perlu ditonton.***

* Penulis adalah wartawan, penulis & editor buku

PengusahaMuslim.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK