Pengusaha Sejati, 80 Kali Gagal Masih Kurang

Apakah sebuah bisnis akan menguntungkan atau memberikan kerugian. Kita tidak pernah tahu sampai kita memulainya. Pun demikian jika kita sudah memulainya, apakah bisnis kita akan sukses? Tidak juga. Memulai berkali-kali pun tidak ada jaminan bahwa bisnis kita akan sukses, ada kemungkinan akan gagal.Gagal lagi, gagal lagi dan lagi. Bagaimana apabila sudah memulai sampai 78 kali, bisa saja yang ke 79 juga akan gagal lagi. Yang ke 80 pun juga demikian, gagal juga.

Namun lebih baik mana, hanya mengkhayal membayangkan memulai bisnis, atau memulainya namun gagal, dan gagal lagi. Manakah yang kita pilih? Membayangkan terus sampai usia menua dan baru sadar kita tidak melakukan apapun, selain membayangkan dan mengkhayalkan suksesnya sebuah bisnis. Atau bangkit, berdiri, berpikir optimis, positif (daripada menggerutu, mengumpat dan menyalahkan keadaan) dan memulai sebuah bisnis, walaupun hanya kecil, dan menjadi cibiran orang.  Lebih mudah memang menggerutu, menyalahkan keadaan, bahkan orang lain atas derita, susahnya diri kita. Namun apakah kita akan terbelenggu terus, menua dengan perasaan itu, dan akhirnya habis menggerogoti energi kita yang semakin hari semakin kecil. Lebih mudah memang berpikir pesimis akan suatu keadaan, cobaan yang kita terima. Karena rasa pesismis tidak akan mencolek rasa gairah hidup kita selain hanya takut, gelisah, khawatir atas sesauatu yang sebenarnya belum terjadi dan bisa jadi itu tidak terjadi pada kita. Namun kenapa kita harus membuang energi yang tersisa, kalaupun ada, untuk itu. Betapa sia-sianya.

Ada cerita menarik. Ada seorang anak disuruh orang tuanya untuk memecahkan batu besar dengan martil. Si anak heran bagaimana mungkin memecahkan batu sebesar itu hanya dengan sebuah martil. Si anak sedikit ragu namun dipukul lah juga batu itu berkali-kali, namun apa daya batu itu tak jua pecah.Si anak merasa kesal dan sedikit menyalahkan orang tuanya atas perintah itu. Si anak akhirnya menyerah dan kemudian menyerahkan martil itu kepada orang tuanya. Orang tuanya menerima martil itu dan, takjub, hanya sekali pukulan, batu itu pecah berkeping-keping. Cerita ini ada dalam buku Rasulullah’s Business School oleh Kang Monif Ph.D.

Sebuah bisnis membutuhkan kerja keras, melebihi yang biasa kita lakukan. Jika orang lain biasa kerja 8 jam sehari, bisa jadi seorang pebisnis akan kerja lebih dari itu, apalagi untuk sebuah bisnis yang baru berdiri, yang membutuhkan perhatian ekstra. Sebuah hasil ekstra membutuhkan perhatian ekstra, kerja ekstra, bukan kerja yang biasa-biasa saja. Di saat orang lain sedang asyik-asyiknya berkutat dengan segala hal kesenangan, hobi mereka, seorang pebisnis akan meluangkan waktunya untuk hal-hal yang menunjang keberhasilan bisnisnya. Di saat orang lain istirahat, bisa jadi seorang pebisnis sedang ada di dalam keasyikannya untuk mencurahkan tenaga dan pikiran bagi keberhasilan bisnisnya. Hanya dibutuhkan sedikit kerja ekstra daripada kerja yang biasa kita lakukan. Hasil ekstra membutuhkan usaha ekstra, kalau tidak akan terjadi seperti kisah di atas. Manakah yang anda pilih?