Syawwal Menamparku – Renungan Setelah Ramadhan

SYAWWAL MENAMPARKU

Semalam, ketika mataku hampir terpejam, gelap diantara dua gelap. Lampu kamar yang rusak dan kelopak mata yang memberat. Tiba-tiba Syawwal datang menghampiriku, dia menyapa dengan suara serak memilukan. Karena mengantuk kujawab sapanya ala kadarnya.

Aku penasaran kenapa suaranya serak pilu, sementara manusia diluaran berbahagia. Apa dia hanya berpura-pura mempermainanku. Kupelototkan bola mata untuk mengusir rasa kantuk dan penasaran. Ternyata dugaanku salah, paras syawwal pucat pasi dengan beberapa tetes air mata yang menyisa di pipinya.

Kudekati dia, aku bertanya, ” Kamu kenapa wal, apa yang terjadi denganmu, kamu sakit?”

“Aku sedang berduka, sedih sekali?” Suara Syawwal serak

“Ah kamu mengada-ada syawwal, bagaimana bisa orang-orang bahagia dengan kedatanganmu, engkau malah bersedih?”

“Aku benci orang-orang itu, termasuk kamu Ihsan!!”

“Benci, ke aku juga?!”

“Iya aku benci, benci”!!” Syawwal berteriak kencang sekali.

Kantukku hilang seketika, kuperbaiki posisi dudukku, aku membatin, ” Kelihatannya serius sekali apa yang terjadi pada Syawwal.”

“Ok syawwal, sekarang biarkan aku mendengarkan masalahmu dengan kami. Maaf, denganku maksudnya.” Kataku

“Ihsan, jawab dengan jujur! Kenapa kamu bergembira dengan kedatanganku?”

“Kehadiranmu adalah hari raya, hari kemenangan setelah kami berjuang bersama kawanmu Ramadhan.”

“Bohongg, bohongg, aku bukan hari kemenangan untuk kalian. Aku adalah hari pelampiasan untuk dosa yang kalian tahan selama bersama ramadhan.”

“Syawwal, jangan ngelantur kamu. Buktikan omonganmu, kalau kamu ngawur, gak segan aku tendang bokongmu keluar dari kamar ini!”

“Selama bersama ramadhan alangkah baiknya kalian. Berbagai ketaatan kalian lakukan, berbagai dosa kalian jauhi. Setelah bersamaku kalian berubah, ketaatan kalian mengendor dan berbuat dosa menjadi semudah membalik telapak tangan!” Syawwal menumpahkan jeritan hatinya.

Aku diam menundukkan kepala.

“Ihsan, jangan diam belagak bodoh. Jawab!! Betulkan yang aku katakan?!Di mana tilawah, qiyamul lail, shadaqah, wirid, dan segala ketaatan saat engkau bersama ramadhan?

“Beda syawwal, kita berbeda keadaan? Aku coba membela diri.

“Apanya yang beda? Apakah Allah yang engkau bersama Ramadhan Maha Melihat, sedang Allah yang engkau bersamaku buta? Apakah Ia yang engkau bersama ramadhan Maha mendengar, dan Ia yang engkau bersamaku menjadi tuli?” Syawwal terus mencecarku.

Aku yang tersudut masih menyela, “Tapi syawwal, saat bersama ramadhan kami memang terkondisi dengan ketaatan kepada Allah.”

“Alaaah, masih saja ngeles. Asal engkau tahu jika ketaatanmu amburadul saat bersamaku tidak seperti di bulan ramadhan. Engkau sebenarnya gagal dalam jalinan bersama ramadhan, atau engkau tidak paham dengan ayat la’allakum tattaqun-agar kalian bertaqwa?”

“Apa maksudmu syawwal, jangan terus menyudutkanku!”

“Kamu betulan bodoh apa cuma pura-pura? Kebersamaan dengan ramadhan ditujukan ‘agar’ kalian bertaqwa. Yaitu ketika ramadhan telah berlalu kamu menjadi hamba yang bertaqwa saat bersamaku. Menjadi manusia yang berbakti kepada Allah. Lalu sekarang bercerminlah! Apakah engkau pantas meraih gelaran manusia bertaqwa setelah bersama ramadhan, tidak khan?!”

Aku semakin menundukkan muka. Lidahku terkunci, aku sadar benar apa yang dikatakan Syawwal.

“Ihsan angkat mukamu!” Syawwal membentak

Aku dongakkan kepala, ” Plakk..plakk! Syawwal menamparku dua kali.

“Itu sebagai peringatan untukmu!” Sambungnya lagi.

Aku berusaha meraih tangannya untuk meminta maaf, namun ia malah berbalik badan dan melompat keluar menerobos jendela.

“Syawwal..syawwal…maafkan aku..maafkan aku..aku akan berubah!! Aku terus berteriak hingga suaraku habis dan jatuh terduduk kelelahan.

Apakah Syawwal datang dan menampar kalian sebagaimana yang terjadi padaku?

=======

Kediri, Syawwal 1436

Abu Zubair Ihsanul Faruqi