Mengaku Salah

Renungan Ramadhan Hari ke-23

Mengaku Salah

Manusia tidak akan luput dari salah dan dosa. Siapapun bisa terjerumus dalam kesalahan, baik itu kesalahan berupa melakukan dosa atau kesalahan karena lalai dalam melaksanakan kewajiban: baik kesalahan itu berupa dosa kecil maupun dosa besar:. Namun, Allah Ta’ala memberi kesempatan bagi hambaNya untuk memperbaiki diri, menghapus dosa dalam dirinya, yaitu dengan jalan taubat.

Taubah adalah ibadah yang sangat agung. Dia merurupakan perintah Allah Ta’ala kepada hambaNya orang mukmin. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

Maknanya: Wahai orang-orang beriman, taubatlah kalian kepada Allah Ta’ala dengan taubat yang murni (QS. At Tahrim: 8)

Para ulama mengatakan, yang dimaksud dengan taubat nasuha (murni) adalah taubat yang memenuhi tiga syarat, yaitu: menyesali dosa, meninggalkannya dan bertekat untuk tidak mengulanginya lagi. Adapun kalau dosanya berhubungan dengan orang lain, maka ditambahkan syarat satu lagi yaitu meminta maaf pada orang tersebut.

Pengakuan salah adalah permulaan taubat

Kalau kita perhatikan dari syarat-syarat taubat yang disebutkan di atas, maka sebenarnya kita dapat mengambil kesimpulan bahwa taubat itu dimulai dari garis “start” pengakuan salah. Kalau orang mengaku salah, pastilah ia bisa menyesalinya lalu meninggalkannya dan bertekat tidak akan mengulanginya. Tapi, bila perbuatannya saja tidak diakui salah, bukannya mau menyesalinya, pastilah ia akan membela perbuatannya dengan sungguh-sungguh. Segala bukti dan sumpah palsu pun akan dikumpulkannya, dengan tujuan memutar-balikkan fakta agar kesalahannya tampak benar di mata orang lain.

“Pengakuan dosa” inilah yang termuat dalam doa istighfar yang paling baik. Rasulullah bersabda, bahwa “komandannya” doa istigfar adalah mengucapkan:

اللهم أنت ربي لا إله إلا أنت خلقتني وأنا عبدك وأنا على عهدك ووعدك ما استطعت أعوذ بك من شر ما صنعت أبوء لك بنعمتك علي وأبوء لك بذنبي فاغفر لي فإنه لا يغفر الذنوب إلا أنت

Artinya: Ya Allah Ta’ala, Engkau adalah Tuhanku, tiada yang berhak disembah kecuali Engkau. Engkau lah yang menciptakan aku, aku hanyalah hambaMu, dan aku selalu menjaga janjiku untuk mengabdi padaMu sekuat kemampuanku. Aku mohon perlindunganMu dari dosa yang aku perbuat. Aku mengakui semua nikmat yang telah Engkau limpahkan padaku. Aku mengakui semua dosa yang telah kuperbuat, maka ampunilah aku, karena tidak ada yang bisa mengampuni dosa kecuali hanya Engkau ya Allah Ta’ala. (QS. Bukhari)

Adapun orang-orang munafik memilki sifat tidak mengaku bersalah. Allah Ta’ala menyebutkan sifat mereka di awal surat Al Baqarah:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ () أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لَا يَشْعُرُونَ ()

Maknanya: Dan bila dikatakan kepada mereka (orang munadif): Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. (QS. Al Baqarah: 11-12)

Kalau sudah jelas-jelas membawa kerusakan di muka bumi, namun masih menganggap tindakannya adalah bentuk perbaikan, maka mana mungkin ia mau berubah.

Saudaraku kaum muslimin, marilah kita belajar mengucapkan “Ya, saya salah”, atau “ya, saya kalah”, atau “terima kasih sudah mengingatkan saya, saya akui bahwa saya salah”.

Kalau akhlak ini kita semai dalam hati kita, maka taubat akan mudah tumbuh dalam amalan kita.

PengusahaMuslim.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial