Pelajaran Dari Perang Badar

Renungan RamadhanHari ke-18

Pelajaran Dari Perang Badar

Salah satu perang bersejarah dalam perjalanan hidup Rasulullah adalah perang Badar. Perang ini terjadi di bulan Ramadhan di tahun kedua sejak Rasulullah hijrah ke Madinah. Perang yang dimenangkan dengan telak oleh kaum muslimin ini menjadi pukulan pertama bagi kafir Quraisy. Tak mereka sangka, kaum muslimin yang dulu tertindas di Mekkah, sekarang berbalik arah menunjukkan kekuatan mereka.

Perang Badar sudah terjadi. Kita hanya bisa membaca kejadiannya di buku sejarah Islam. Kita tidak ikut langsung secara fisik, dan kita tidak berada dalam rombongan Rasulullah saat itu, karena zaman yang memisahkan kita. Namun, banyak hikmah dan pelajaran yang bisa kita petik dari sejarah perjuangan Rasulullah bersama para sahabatnya. Itulah tujuan sejarah diceritakan kepada generasi berikutnya. Agar mereka dapat mendulang pelajaran berharga dari sejarah agama mereka sendiri. jadi, sejarah bukanlah sekedar dongeng yang diceritakan sebagai penghantar tidur.

Kami akan mengajak anda untuk merenungi beberapa pelajaran berharga yang akan kita tuai dari kisah perang Badar. Hanya dua pelajarn saja Insya Allah Ta’ala:

Pelajaran Pertama: Beramal adalah karena perintah Allah Ta’ala, bukan bermodalkan semangat belaka.

Perjuangan dakwah Rasulullah sudah dimulai sejak di Mekkah, sudah berlalu selama 13 tahun sebelum beliau Hijrah ke Madinah. Banyak duka lara yang dihadapi kaum Muslimin dalam dalam mengamalkan agamanya di Mekkah. Siksaan, ejekan, penindasan dan pemboikotan sudah dirasakan oleh mereka. Sampai-sampai mereka harus mengungsi ke Negeri seberang, negeri Habasyah. Kaum Muslimin lari terusir dari tanah airnya untuk menyelamatkan agamanya.

Pernah suatu ketika, di tahun ke-13 dari sejak Rasulullah di angkat menjadi Nabi. Ada suatu peristiwa yang bersejarah juga di Mekkah, tepatnya di daerah Mina, lebih detilnya di Aqabah. Di sanalah terjadi perjanjian Aqabah antara Rasulullah dengan para pendatang dari Madinah. Mereka mengadakan perjanjian secara diam-diam. Akan tetapi, perkumpulan mereka ketahuan juga oleh orang kafir.

Di saat itulah, salah seorang perwakilan dari pendatang Madinah bernama Abbas bin Ubadah mengatakan pada Rasulullah, “Demi Allah, kalau anda mau wahai Rasulullah, kami akan menyerang mereka besok dengan pedang kami”

Rasulullah pun menjawab, “Kita belum diperintahkan Allah Ta’ala untuk berperang”.

Perhatikanlah ! Rasulullah tidak terpancing dengan semangat para sahabat yang berkobar untuk berperang. Semua amalan Rasulullah berlandaskan perintah Allah Ta’ala. Jika belum ada perintah berperang maka Rasulullah tetap memirintahkan sahabatnya untuk sabar.

Ketika sudah hijrah ke Madinah, barulah kemudian mendapatkan izin dari Allah Ta’ala untuk berperang.

Allah Ta’ala berfirman:

أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا وَإِنَّ اللَّهَ عَلَى نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ

Artinya: Telah diizinkan berperang bagi orang-orang Mukmin yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu. (QS. Al Hajj: 39)

Pelajaran Kedua: Tidak semua harapan kita dapat dicapai dengan mulus.

Mengadakan perang di daerah badar bukanlah tujuan rasulullah dan para sahabatnya. Pada awalnya, Rasulullah mengajak sahabatnya untuk mencegat rombongan pernaiagaan Quraisy yang baru pulang dari berdagang di negeri Syam. Kafilah tersebut membawa harta tidak kurang dari 50.000 dinar yang dan 1000 onta. Hanya ada 40 orang yang mengawal kafilah tersebut.

Rasulullah mengajak para sahabatnya dengan berkata, “ini rombongan Quraisy datang bersama harta-harta kalian. Mari kita cegat mereka, semoga Allah Ta’ala menganugerahkan harta rampasan perang untuk kalian”.

Akan tetapi, untuk mendapatkan harta itu tidaklah semudah yang dibayangkan. Ternyata rombongan Quraiys yang dipimpin oleh Abu Sufyan mengetahui rencana Rasulullah. Akhirnya mereka mengirim utusan untuk meminta bala bantuan dari Mekkah.

Akhirnya, perkiraan kaum muslimin yang hanya berjumlah sekitar 313 orang, bahwa mereka hanya akan menghadapi 40 orang pengawal rombongan dagang. Sekarang, mereka harus menghadapi 1300 para pasukan perang dari Mekkah.

Namun, walaupun tidak semulus yang dibayangkan, kaum Muslimin berhasil mengalahkan pasukan kafir Quraisy di perang yang tidak terduga tersebut.

Penulis: Ustadz Muhammad Yassir, Lc (Dosen STDI Imam Syafi’i Jember)

PengusahaMuslim.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial