Kualitas Ibadah Kita

Renungan Ramadhan Hari ke-14

Kualitas Ibadah Kita

Ramadhan adalah bulan Ibadah. Sejak sebelum subuh sudah ada ibadah yang dianjurkan untuk dimulai, yaitu makan sahur. Sampai malam hari setelah shalat isya, yaitu melaksanakan shalat tarawih di masjid atau surau secara berjamaah. Inilah rutinitas kita pada umumnya di bulan Ramadhan. Belum lagi membaca Al Quran yang tidak dibatasi oleh waktu. Baik pagi, siang, atau malam, merupakan saat-saat membaca Al Quran.

Shalat tarawih, ibadah shalat berjamaah yang hanya kita temui di bulan Ramadhan. Antusias masyarakat untuk mengikutinya juga sangat dibanggakan. Mereka dengan senang hati berpakaian rapi menuju masjid atau musholla untuk shalat tarawih berjamaah. Dan juga menyempatkan diri mendengarkan beberapa nasehat singkat dalam kultum sebelum tarawih. Sungguh pemandangan yang sangat kita syukuri; sungguh bulan yang penuh berkah, menarik jiwa muslimin untuk menuju kemenangan.

Kita bukan sedang membincangkan jumlah rakaatnya. Karena, baik 11 rakaat ataupun 23 rakaat, itu semua tidak ada yang salah. Itu semua adalah kuantitas. Yang ingin kita lirik dalam semangat masyarakat untuk shalat tarawih adalah kualitasnya.

Anda bisa menyaksikan sendiri di masjid sekitar tempat tinggal anda. Lalu hitunglah, berapa lamakah shalat tarawih didirikan? Bagaimanakah bacaan imam? Bagaimana gerakannya?

Mungkin anda pernah melihat jamaah shalat tarawih menyelesaikan 23 rakaat hanya dalam waktu 30 menit; imam membaca Al Fatihah hanya dengan sekari tarikan nafas; ruku’ dan sujud hanya dalam waktu sekejap; merasa bangga bila menjadi jama’ah yang paling cepat selesai di kampungnya.

Belum lagi shaf shalat yang sembrautan; tidak sejajar; ada yang mundur dan ada yang lebih ke depan; lebih memilih shaf belakang padahal shaf di depan belum penuh.

Dan fenomena ini hampir di setiap tempat, hampir disetiap surau. Sadar atau tidak, inilah fenomena kualitas ibadah shalat masyarakat kita. Suatu PR yang sangat besar bagi para Kyia, da’I dan ustadz. Ternyata, masih banyak hal yang harus diperbaiki dalam kehidupan beragama masyarakat muslimin Indonesia.

Shalat yang seharusnya menjadi tempat untuk mencari khusyu; mentadabbur bacaan imam; menangis ketika mendengar ayat tentang azab. Namun, hal ini belum bisa diterapkan, dan banyak yang akan menolak bila diberlakukan.

Tapi, bukan berarti kita tinggal diam. Perubahan tidak bisa dilakukan dalam sekejap. Butuh waktu yang panjang. Asalkan, para alim ulama mau bergerak menuju perubahan ini. Mereka mau menasehati masyarakat untuk mengajak masyarakat meningkatkan kualitas dalam beribadah. Dimulai dari kualitas shalat.

Kaum Muslimin…..

Kita semua tahu, bahwa kita akan menjadi orang beruntung bila hari ini lebih baik daripada kemarin, hari esok lebih baik daripada hari ini. Maka, sudah seharusnya kita memperbaiki ibadah kita di Ramadhan tahun ini menjadi lebih berkualitas dibandingkan tahun sebelumnya. Kita mulai dari diri kita sendiri, kemudia keluarga, barulah kita mengajak handai taulan serta masyarakat luas.

Penulis: Ustadz Muhammad Yassir, Lc (Dosen STDI Imam Syafi’i Jember)

PengusahaMuslim.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial