Aku Sedang Berpuasa

Renungan Ramadhan

Ucapan itu dianjurkan Rasulullah untuk diucapkan saat kita sedang diganggu orang atau dijahili atau diejek dan dibuat sakit hati.

Memang wajar bila manusia ingin menuntut balas akan perbuatan jelek orang lain terhadap dirinya. Namun, Rasulullah mengarahkan kita pada perilaku yang lebih afdhol. Yaitu menahan diri dari sifat marah.

Makna ucapan itu adalah sebuah proklamasi bahwa, bukan karena lemah aku tidak bisa membalas perbuatan kalian padaku. Akan tetapi karena aku sedang berpuasa, dan Allah Ta’ala memerintahkan orang puasa untuk menahan nafsu, dan aku lebih patuh pada Allah Ta’ala daripada melampiaskan nafsu amarah.

Rasulullah mengajarkan kita bahwa puasa bukan hanya menahan nafsu perut dan kemaluan. Namun, ada nafsu lain yang tersembunyi dalam jiwa kita yang perlu untuk dikendalikan. Salah satunya adalah nafsu amarah.

Bahkan, nafsu amarah ini lebih ditekan lagi untuk dikendalikan. Rasulullah menasehati salah seorang sahabatnya dengan ucapan “Jangan marah” sampai diulang tiga kali. Sedangkan untuk urusanmakan dan minum tidak pernah Rasul menasehati untuk tidak makan dan minum.

Berarti, bila di luar puasa, nafsu amarah dimohon untuk ditahan. Terlebih lagi jika ia sedang berpuasa.

Orang super kuat

Memang pada dasarnya, kita diperintahkan menahan amarah, jangan sampai marah. Namun, terkadang amarah itu bisa saja muncul. Maka, kita dianjurkan berubah menjadi manusia super. Yang mengeluarkan kekuatan supernya untuk melawan musuh yang datang ketika kita marah.

Rasulullah bersabda, “orang yang kuat bukanlah orang yang pinter bela diri. Akan tetapi, orang yang kuat adalah yang bisa menahan dirinya saat ia marah” (HR. Bukhari)

Ternyata, bisa mengalahkan orang lain; bisa membanting lawan,bukanlah standar kehebatan seseorang. Masih ada musuh yang lebih berat untuk dikalahkan dibanding lawan tanding kita, yaitu jiwa kita sendiri, hawa nafsu kita sendiri.

Saat marah adalah saat kekuatan nafsu meningkat. Mungkin kita pernah mengalami saat-saat marah yang membuat kita kalap; tidak sadar apa yang kita lakukan; terasa ada kekuatan lain yang membantu kita untuk membanting dan menghancurkan benda sekitar kita, padahal di saat tenang kita tidak mampu melakukan itu.

Saat itulah kita buktikan apakah diri kita termasuk orang kuat ataukah orang lemah. Dengan cara melawan “diri sendiri”; musuh yang ada dalam diri namun sulit dicari.

Cara mengendalikan marah yang muncul

Pertama : mengucapkan

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

“Aku berlindung pada Allah Ta’ala dari setan yang terkutuk”

Rasulullah mengatakan, bila orang marah mengucapkan doa tersebut, maka akan hilang rasa marahnya.

Kedua: mengubah posisi tubuh

Rasulullah bersabda, “ bila kalian marah dan kalian sedang berdiri, maka duduklah. Jika belum hilang juga rasa marahnya, maka berbaringlah” (HR. Abu Daud)

Hikmah dari mengubah posisi adalah, untuk memperkecil / mempersulit kesempatan tubuh untuk melampiaskan kekesalan pada orang yang membuat ia marah.

Ketiga: mengingat balasan bagi orang yang menahan amarah.

Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang bisa menahan amarahnya, padahal ia mampu untuk melampiaskannya, maka pada hari kiamat nanti, Allah Ta’ala akan memanggilnya di hadapan par makhlukNya kemudian ia dipersilahkan untuk memilih bidadari yang ia sukai” (HR. Abu Daud)

Saudaraku Kaum Muslimin

Memang nampaknya mudah untuk mengaku menjadi orang kuat. Akan tetapi, ini membutuhkan mujahadah / perjuangan yang kuat. Kita pasti akan berusaha untuk menjadi orang yang bisa memenangi pertarungan dengan diri sendiri.

Penulis: Ustadz Muhammad Yassir, Lc (Dosen STDI Imam Syafi’i Jember)

PengusahaMuslim.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial