Dua Orientasi

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  مَنْ كَانَتْ الْآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتْ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا مَا قُدِّرَ لَهُ

Dari Anas bin Malik, Rasulullah bersabda, “Siapa saja yang menjadikan akhirat sebagai orientasi hidupnya Allah akan letakkan kekayaan di hatinya, Allah mudahkan urusannya dan dunia mendatanginya dalam keadaan hina. Sebaliknya siapa saja yang dunia menjadi orientasi hidupnya Allah akan meletakkan kefakiran di antara kedua matanya. Allah akan cerai beraikan urusannya dan dia tidaklah mendapatkan dunia kecuali sebesar yang Allah takdirkan untuknya” (HR Tirmidzi no 2465)1. 

Dalam hadis ini, Nabi menceritakan perbedaan orientasi hidup manusia di dunia ini. Demikianlah orientasi, sikap, perilaku dan perbuatan manusia itu berbeda-beda.

إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّى 

“Sungguh perbuatan kalian itu beraneka ragam” (QS al-Lail[92]: 04).

Ibnu Katsīr mengatakan, “Maksud ayat adalah perbuatan yang dilakukan oleh manusia itu berbeda-beda bahkan berkebalikan. Ada yang melakukan kebaikan. Sebaliknya ada juga yang melakukan keburukan”2. Sebagaimana perbuatan manusia saling berkebalikan, demikian pula orientasi hidup manusia juga berkebalikan sebagaimana konten hadis di atas. Ada dua orientasi hidup manusia selama hidup di dunia ini.

Pertama, Orang yang menjadikan akhirat sebagai orientasi hidupnya. Orang ini akan mendapatkan tiga hal.

  1. Allah akan meletakkan kekayaan dalam hatinya.  Artinya dia merasa bahwa dirinya itu kaya karena dia dekat dengan Allah yang maha kaya. Orang yang berorientasi akhirat itu mudah untuk memiliki sifat qanā’ah, merasa cukup dengan karunia Allah. Sebagaimana penjelasan al-Mubārakfūri, “Maksudnya Allah jadikan dirinya orang yang merasa puas dengan rizki yang cukup dan sesuai dengan kebutuhan. Demikian itu agar orang tersebut tidak perlu bercapek-capek mencari tambahan”3. 

Qanā’ah itu modal untuk kekayaan itu. Itulah kekayaan yang sesungguhnya.

عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه و سلم قال ليس الغنى عن كثرة العرض ولكن الغنى غنى النفس

Dari Abu Hurairah, Nabi bersabda, “Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta. Hanyalah kekayaan itu kekayaan hati” (HR al-Bukhāri no 6081 dan Muslim no 2417)4. 

Hal ini juga menunjukkan bahwa rajin melakukan ketaatan yang merupakan buah dari orientasi akhirat itu tidak menyebabkan rizki berkurang. Sebaliknya ketaatan itu menambah rizki itu sendiri atau menyebabkan keberkahan rizki. Bahkan sejumlah ketaatan itu dikaitkan dengan rizki. Rizki yang berasal dari jalan yang tidak disangka-sangka itu buah dari takwa kepada Allah. Berbuat baik kepada kerabat yang memiliki hubungan darah itu sebab kelapangan rizki dan seterusnya.

  1. Allah akan lancarkan urusannya. Al-Mubārakfūri menjelaskan bahwa yang dimaksudkan adalah Allah kumpulkan berbagai urusannya yang beraneka ragam. Tanpa disadari Allah siapkan faktor-faktor yang menyebabkan hati dan dirinya fokus dengan suatu hal dan hal tersebut adalah kunci beresnya segala urusannya5.
  2. Dunia mendatanginya dalam keadaan hina. Orang yang berorientasi akhirat tetap akan mendapatkan jatah rizki yang telah Allah takdirkan untuk dirinya. Namun kenikmatan dunia tersebut didapatkan dalam keadaan hina. Maksudnya, “dunia itu hina dina karena dunialah yang mengikutinya. Orang tersebut tidak perlu susah payah untuk mendapatkannya”6. Dunia ‘datang merengek-rengek’ dalam keadaan hina agar orang tersebut mau menerimanya.  

Kedua, orang yang menjadikan dunia sebagai orientasi hidupnya. Orang yang demikian keadaan hatinya akan mengalami tiga hal keburukan.

  1. Allah meletakkan kefakiran diantara kedua matanya. Kefakiran dan kemiskinan itu seakan-akan hal yang konkret yang diletakkan di antara kedua matanya. Yang dimaksud dengan kefakiran adalah merasa memerlukan bantuan dan belas kasian orang lain. Karena kefakiran itu terletak di antara kedua matanya maka orang tersebut selalu menilai dirinya dalam keadaan menderita, hidup susah, hidup sengsara dan seterusnya. Oleh karena itu dia akan selalu bersusah payah mengejar dunia. 
  2. Allah akan cerai beraikan urusannya. Jika keinginan hati hanya semata dunia Allah akan jadikan urusan-urusannya tidak berjalan dengan lancar.
  3. Kenikmatan dunia yang didapatkan hanya sesuai dengan kadar rizki yang Allah takdirkan untuknya. Aartinya rakus dengan dunia yang tercela itu tidaklah bermanfaat bagi pelakunya karena rizki itu sudah dicatat dan ditakdirkan. Betapa pun seorang itu bersusah payah dalam rangka meraih dunia tidaklah dunia yang didapatkan melainkan kadar yang telah Allah tetapkan untuk dirinya. 

As-Sindy menjelaskan hadis di atas dengan mengatakan bahwa rizki yang telah Allah takdirkan untuk seseorang itu pasti akan didapatkan orang tersebut. Hanya saja orang yang berorientasi akhirat mendapatkan jatah rizki tersebut tanpa bercapek-capek yang tidak diperlukan. Sedangkan orang yang berorientasi dunia mendapatkan jatah rizkinya dengan bersusah payah. 

Orang yang berorientasi akhirat itu mendapatkan dunia sekaligus akhirat. Tujuan dibalik mengumpulkan harta adalah mendapatkan rehat dan kenyamanan hati. Tujuan ini telah didapatkan oleh orang yang berorientasi akhirat. Sedangkan orang yang berorientasi dunia itu merugi dunia dan akhirat. Selama hidup di dunia berada dalam capek dan susah payah untuk mencari dunia. Lantas apa manfaat harta jika menyebabkan kehilangan kenyamanan dan rehat?7. 

Siapa yang menjadikan dunia sebagai orientasi hidupnya tidaklah mendapatkan dunia kecuali sebesar yang Allah takdirkan untuknya. Ini adalah kebalikan dari nasib orang yang menjadikan akhirat sebagai orientasi hidupnya. Bisa disimpulkan bahwa untuk orang yang menjadikan akhirat sebagai orientasi hidupnya dia mendapatkan dunia dalam keadaan dunia itu hina. Sebaliknya orang yang menjadikan dunia sebagai orientasi hidupnya kadar dunia yang dia dapatkan itu sebagaimana yang telah Allah takdirkan untuknya dalam keadaan orang tersebut hina karena rakus dan susah payahnya tidak membuahkan manfaat sedikit pun. 

Al-Mubārakfūri mengatakan bahwa potongan hadis “kadar dunia yang dia dapatkan itu sebagaimana yang Allah takdirkan untuknya” itu mengandung muatan makna “dalam keadaan orang tersebut hina dan kecewa karena tambahan nikmat dunia yang dia cari-cari ternyata tidak dia dapatkan. Sehingga orang tersebut kecewa, demikian pula kawan-kawannya”8.

Catatan kaki:

  1. Muhammad bin Isa at-Tirmidzi, Sunan, tahqīq Masyhūr Hasan Salmān cet. ke-2 (Riyādh: Maktabah al-Ma’ārif, 2008), 556.
  2. Ibnu Katsīr, Tafsīr al-Qur’an al-‘Azhīm, tahqīq Hikmat bin Basyīr Yāsīn cet. pertama (Damām: Dār Ibn al-Jauzi, 1431), VII: 583.
  3. Muhammad bin Abdurrahman al-Mubārakfūri, Tuḥfaḥ al-Aḥwāzi bi Syarh Jāmi’ at-Tirmidzi, (Beirūt: Dār Kutub al-‘Ilmiyyah, tt), VII: 139.
  4. Muhammad bin Ismā’īl al-Bukhāri, al-Jāmi’ash-Shahīh al-Mukhtashar, tahqīq Mushthofa Dīb al-Bughā cet. ke-3 (Beirūt: Dār Ibn Katsīr, 1987), V: 2368. Muslim bin al-Hajjāj an-Naisābūri, Shahīh Muslim, tahqīq Khalīl Ma’mūn Syaiḥā cet. kedua (Beirūt: Dār al-Ma’rifah, 2007), 465.
  5. Muhammad bin Abdurrahman al-Mubārakfūri, Tuḥfaḥ al-Aḥwāzi …, VII: 139.
  6. Ibid, VII: 140.
  7. Muhammad as-Sindi, Ḥāsyiah as-Sindi ‘ala Sunan Ibn Mājah, (Beirūt: Dār al-Jīl, tt), II: 525.
  8. Muhammad bin Abdurrahman al-Mubārakfūri, Tuḥfaḥ al-Aḥwāzi …, VII: 140.