Tamu dan Titipan

Tamu dan Titipan

Ibnu Mas’ud mengatakan:

مَا أَحَدٌ أَصْبَحَ فِي الدُّنْيَا إِلَّا وَهُوَ ضَيْفٌ وَمَالُهُ عَارِيَةٌ. فَالضَّيْفُ مُرْتَحِلٌ وَالْعَارِيَةُ مَرْدُوْدَةٌ 

Semua orang di dunia ini adalah ‘tamu’. Sedangkan harta seluruhnya adalah titipan. Semua tamu pasti pergi sedangkan barang titipan itu harus dikembalikan kepada pemilik.” (Az-Zuhd karya Imam Ahmad no 906)

Demikianlah hakekat hidup di dunia. Manusia yang hidup di dunia hakekatnya adalah adalah ‘tamu’.  Semestinya ‘tamu’ itu memikirkan rumahnya yang sesungguhnya, bukan malah memikirkan rumah tempat bertamu. 

Oleh karena itu orientasi hidup seorang muslim di dunia adalah akherat. Semua kita akan ‘mudik’ ke akherat. Pastikan kita tidak salah pulang kampung. Kampung asli kita adalah surga Allah Ta’ala.

Pastikan kendaraan mudik itu siap. Demikian pula bekal untuk mudik ke kampung akherat itu benar-benar cukup. 

Hakekat harta adalah barang titipan yang sewaktu-waktu bisa diminta oleh pemilik tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu. Dengan menyadari hal ini kita akan mudah untuk bersabar menghadapi musibah kehilangan harta. 

Tentu saja kita tidak boleh marah marah ketika pemilik mengambil barang titipan. Demikian pula sikap yang seharusnya kita miliki ketika Allah Ta’ala mengambil barang titipan-Nya dengan musibah yang menimpa harta kita.