Benteng Agama

Benteng Agama

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Abu Hamid al-Ghazali mengatakan, 

فَالتَّلَذُّذُ بِالْمُبَاحِ حِصْنٌ لِلدِّيْنِ 

“Kepuasan menikmati yang halal dan mubah adalah benteng pelindung kualitas agama seseorang.” (Ihya’ Ulumiddin 2/45, Dar al-Fikr)

Terkadang timbul perasaan jenuh dan bosan jadi orang baik. Terkadang anak merasa jenuh dengan keshalihan yang menjadi tuntutan ortu. Mungkin isteri merasa tuntutan menjadi isteri shalihah dari suami itu suatu hal yang berat. Boleh jadi suami beranggapan bahwa jadi laki-laki shalih yang dituntut untuk menjauhi ini dan itu adalah suatu hal yang menyiksa padahal itulah yang diharapkan oleh isteri. 

Diantara faktor timbulnya hal ini adalah jiwa yang dikekang untuk menikmati hal-hal yang halal dan mubah

Di dunia ini, hal yang halal dan mubah itu jauh lebih banyak dibandingkan hal yang haram. 

Memilih sikap menjauhi fudhul, hal mubah yang berlebihan adalah sikap yang dianjurkan

Ada kaedah penting dalam menerapkan aturan untuk diri sendiri dan orang lain. 

Berikan sikap ketat untuk diri sendiri namun berikan sikap longgar selama dalam lingkup yang halal dan mubah untuk orang lain.

Selama itu halal dan mubah biarkan dan maklumi orang yang melakukannya. 

Selama itu halal dan mubah berikan kesempatan kepada diri kita sendiri untuk terkadang menikmatinya. 

Semisal menikmati makanan halal, jalan-jalan ke tempat yang mubah, game dan permainan yang mubah dll

Karena kepuasan dengan hal yang halal dan mubah adalah alat bantu untuk bisa merasa ridho dan puas dengan aturan dan ketentuan Allah.

Akan tetapi memastikan sesuatu itu halal dan mubah itu memerlukan panduan ilmu agama. 

Semoga Allah jadikan penulis dan semua pembaca tulisan ini orang-orang yang merasa nyaman dan bahagia  hidup bersama aturan-aturan Allah. Aamiin.