12 Kiat Ngalap Berkah: Kiat Pertama (4/6) Iman Kepada Allah

Saudaraku, tahukah Anda apa yang dikatakan oleh orang-orang mendambakan agar memiliki kekayaan dan keberhasilan seperti yang dicapai oleh Karun, di saat mereka menyaksikan adzab yang menimpa idola mereka? Mereka serentek mengakui bahwa kepandaian, kegigihan, dan kehebatan Karun tidaklah berguna. Rezeki, kebahagiaan, keselamatan, dan kesengsaraan adalah bagian dari ketentuan Allah yang berlaku pada makhluk-Nya. Oleh karen itu, mereka berkata,

وَيْكَأَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَن يَشَاء مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَوْلا أَن مَّنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا لَخَسَفَ بِنَا وَيْكَأَنَّهُ لا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ

Aduhai, benarlah (hanya) Allah-lah yang melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya. Kalaulah Allah tidak melimpahkan karunia-Nya kepada kita, niscaya Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai, benarlah tidak beruntuk orang-orang yang kufur (mengingkari nikmat Allah).” (Qs. al-Qashash: 82).

Saudaraku, coba bandingkanlah ucapan mereka di atas dengan keadaan kita pada saat ini. Kita semua ramai-ramai mengakui, bahwa tidak semua apa yang ada dan diterapkan oleh dunia barat layak untuk ditiru. Mungkin sekarang ini -dengan terpaksa- banyak dari pakar ekonomi yang mengakui, bahwa berbagai paham dan teori ekonomi yang mereka pelajari dari para pewaris Karun tidak dapat menyelamatkan dan memakmurkan dunia. Di berbagai mass media, kita dapatkan berbagai ulasan yang merinci berbagai kesalahan dan kebobrokan paham ekonomi yang dianut oleh dunia barat.

Saudaraku, tidakkah krisis ekonomi global ini cukup menjadi peringatan bagi kita untuk kembali kepada Syariat Allah?! Bukankah kita semua menyadari dan beriman, bahwa dunia berserta isinya adalah ciptaan Allah? Akan tetapi, mengapa kita tidak mengindahkan dan menerapkan aturan dan ketentuan yang telah Allah turunkan dalam memakmurkan dunia?!

Bukankah bila kita membeli suatu mesin dari suatu perusahaan, dengan sepenuhnya kita mematuhi tatacara pengoperasian dan perawatan yang mereka tentukan?! Akan tetapi, mengapa kita menyelisishi kebiasaan ini, tatkala kita hendak menggunakan dan merawat dunia yang merupakan ciptaan Allah?!

Saudaraku! Simaklah janji Allah Ta’ala,

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا {2} وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan beginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya. Sesungguhnya, Allah (berkuasa untuk) melaksanakan urusan yang dikehendakai-Nya. Sesungguhnya, Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap urusan.” (Qs. at-Thalaq: 2-3).

Pada ayat lain, Allah Ta’ala berfirman,

(إِنَّ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ لا يَمْلِكُونَ لَكُمْ رِزْقًا فَابْتَغُوا عِندَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ. (العنكبوت: 17

Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezki kepadamu, maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan beribadah dan bersyukurlah kepada-Nya,. Hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan.” (Qs. al-Ankabut: 17).

Janji Allah Ta’ala pada ayat kedua ayat ini bukan berarti bila kita telah shalat, puasa, dan berdzikir lalu akan segera turun hujan emas dan perak. Tidak demikian, ayat ini ditafsirkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sabdanya,

(لو أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ على اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كما يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصاً وَتَرُوحُ بِطَاناً (رواه أحمد وغيره

Andaikata engkau bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, niscaya Allah akan melimpahkan rezeki-Nya kepadamu, sebagaimana Allah melimpahkan rezeki kepada burung, yang (setiap) pagi pergi dalam keadaan lapar dan pada sore hari pulang ke sarangnya dalam keadaan kenyang.”  (HR. Ahmad dan lain-lain).

Demikianlah aplikasi ayat ini, umat Islam harus bekerja keras, berjuang dengan pantang menyerah. Gambaran tawakkal umat Islam adalah bagaikan seekor burung yang bekerja jeras pantang menyerah. Pada setiap pagi, setiap burung meninggalkan sarangnya menuju ke berbagai arah, guna mengais rezekinya, dan pada sore hari, masing-masing kembali ke sarangnya dalam keadaan kenyang.

Alangkah indahnya jiwa seorang mukmin yang mengamalkan ayat dan hadits di atas. Ia bekerja keras, pantang menyerah, dan pada saat yang sama, ia beriman bahwa rezekinya ada di Tangan Allah Ta’ala. Setiap usahanya senantiasa diiringi dengan iman, doa dan tawakkal, serta ditutup dengan rasa syukur. Semboyannya adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا الله وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْساْ لَنْ تَمُوَت حَتىَّ تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا، فَاتَّقُوا الله وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ، خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرَمَ

(رواه ابن ماجة وعبد الرزاق وابن حبان والحاكم وصححه الألباني)

Wahai umat manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga ia benar-benar telah mengenyam seluruh rezekinya, walaupun terlambat datangnya. Maka bertakwalah kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki. Tempuhlah jalan-jalan mencari rezeki yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR. Ibnu Majah, Abdurrazzaq, Ibnu Hibban dan al-Hakim, serta dishahihkan oleh al-Albani).

Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Baderi, M.A
Artikel www.PengusahaMuslim.com