Transaksi Kredit dengan Menjaminkan Barang yang Dibeli

Kredit dengan Jaminan Barang yang Dibeli?

Bolehkah menjadikan barang yang dijual sebagai barang gadai? Misalkan begini tadz, saya beli rumah dg kredit ke developer, dan sertifikat rumah dipegang developer sebagai jaminan.. bolehkah seperti itu? Sukron

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Dalam hadis dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنِ اشْتَرَطَ شَرْطًا لَيْسَ فِى كِتَابِ اللَّهِ فَهْوَ بَاطِلٌ

Siapa yang mengajukan syarat, yang bertentangan dengan kitabullah maka statusnya batil. (HR. Bukhari 2155 & Muslim 3852)

Melihat dari sababul wurud hadis ini, salah satu diantara bentuk syarat yang bertentangan syariat adalah syarat yang tidak sejalan dengan konsekuensi akad.

Keberadaan gadai dalam akad jual beli, statusnya adalah bagian dari syarat dalam jual beli. Mengenai hukum menjaminkan barang yang dibeli secara kredit, di sana ada 2 pendapat ulama. perbedaan ini didasari pada perbedaan mereka dalam memahami keberadaan syarat ini, apakah bertentangan dengan konsekuensi akad ataukah tidak. Bagi yang menganggap ini bertentangan dengan konsekuensi akad menilai bahwa syarat penjaminan semacam ini tidak berlaku. Meskipun tidak mempengaruhi keabsahan jual beli.

Kita simak pendapat mereka masing-masing,

Pertama, syarat ini hukumnya terlarang objek transaksi sebagai barang gadai, bertentangan dengan konsekuensi akad. Karena tidak terjadi pemindahan kepemilikan dengan sempurna. Penjual masih menahan barang itu sebagai barang gadai.

Ini merupakan pendapat al-Ghazali, salah satu pendapat Imam Syafii, dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad.

Ibnu Hajar al-Haitami – ulama Syafiiyah w. 974 H –dalam fatwanya menyatakan,

لا يصح البيع بشرط رهن المبيع سواء أشرط أن يرهنه إياه قبل قبضه أم بعده

“Tidak boleh jual beli dengan syarat menjaminkan barang yang dibeli. Baik dia mensyaratkan agar digadaikan kepada penjual setelah diterima atau sebelum diterima.” (al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubra, 2/287).

Ibnu Qudamah menyebutkan perbedaan pedapat ini,

إذا تبايعا بشرط أو يكون المبيع رهنا على ثمنه لم يصح قاله ابن حامد وهو قول الشافعي لأن المبيع حين شرط رهنه لم يكن ملكا له سواء شرط أن يقبضه ثم يرهنه، أو شرط رهنه قبل قبضه

“Jika dua orang melakukan jual beli dengan syarat menjadikan barang yang dibeli sebagai jaminan atas harganya, maka syarat ini tidak sah. Ini pendapat Abu Hamid (al-Ghazali), dan pendapat as-Syafii. Karena ketika  barang yang dibeli dijadikan jaminan, berarti barang itu belum menjadi milik pembeli. Baik dia mempersyaratkan diterima dulu kemudian digadaikan atau mempersyaratkan digadaikan sebelum diterima.” (Al-Mughni, 4/461).

Kedua, dibolehkan menjadikan objek transaksi kredit sebagai barang gadai

Ini merupakan pendapat Abu Hanifah, Malik, salah satu pendapat as-Syafi’i, dan pendapat yang shahih dari Ahmad. Pendapat ini yang dinilai kuat oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnul Qoyim, dan Ibnu Utsaimin.

Ibnul Qoyim mengatakan,

وهكذا في المبيع يشترط على المشتري رهنه على ثمنه حتى يسلمه إليه، ولا محذور في ذلك أصلاً، ولا معنىً، ولا مأخذاً قوياً يمنع صحة هذا الشرط والرهن، وقد اتفقوا أنه لو شرط عليه رهن عين أخرى على الثمن جاز، فما الذي يمنع جواز رهن المبيع على ثمنه؟

Demikian pula (dibolehkan)barang yang telah dijual (kredit), penjual mensyaratkan ke pembeli untuk menggadaikan barang tersebut hingga lunas pembayaran barang. Tidak ada larangan sama sekali. Tidak ada alasan kuat untuk menghalangi sahnya syarat dan barang gadai ini. Para ulama sepakat jika disyaratkan yang menjadi barang gadaian atas utang kredit adalah barang lain hukum persyaratannya boleh,  maka begitu juga hukumnya jika disyaratkan sebagai barang gadaian atas utang kredit barang yang dibeli itu.

Ibnul Qoyim juga menegaskan bahwa hukum ini berlaku baik barang telah diterima maupun belum diterima.

لا فرق بين أن يقبضه أو لا يقبضه على أصح القولين، وقد نص الإمام أحمد على جواز اشتراط رهن المبيع على ثمنه… وهو مذهب مالك وأبي حنيفة، وأحد قولي الشافعي، وبعض أصحاب الإمام أحمد، وهو الصحيح” (4/33)

Tidak ada beda, baik barangnya sudah diterima atau belum diterima, menurut pendapat yang kuat. Imam Ahmad menegaskan, bolehnya mempersyaratkan gadai barang yang dijual untuk harga yang belum lunas… ini pendapat Malik, Abu Hanifah, Ahmad, salah satu pendapat Syafiiyah, dan sebagian ulama hambali. Dan ini pendapat yang kuat.  (I’lam al-Muwaqqi’in, 4/33).

Inilah yang mejadi acuan keputusan Majma’ al-Fiqh al-Islami (divisi fikih OKI) dengan keputusan No. 51 (2/6) tahun 1990, menyatakan,

لا حق للبائع الاحتفاظ بملكية المبيع، ولكن يجوز للبائع أن يشترط على المشتري رهن المبيع عنده لضمان حقه في استيفاء الأقساط المؤجلة

Penjual tidak dibenarkan menahan kepemilikan barang yang dijual. Namun penjual boleh mensyaratkan kepada pembeli agar barang yang dibeli digadaikan sebagai jaminan untuk haknya selama masa pelunasan angsuran.   (Majalah al-Majma’, volume 6, 1/453)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina PengusahaMuslim.com dan Konsultasisyariah.com)

PengusahaMuslim.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK