Keberhasilan Memimpin Di Ukm

Menjalankan kepemimpinan yang positif di UKM, khususnya bagi pendiri/pemilik, memerlukan ketrampilan dan bakat.

Untuk mengetahui agar dapat berhasil di fase awal dan dibaliknya diperlukan pemahaman dan analisa pribadi. Beberapa pengusaha tidak cukup mengetahui dirinya sendiri untuk melihat kesalahannya sendiri. Kesalahan-kesalahan ini dapat dan akan menganggu keberhasilan bisnis.

Poin terpenting dalam UKMK adalah analisa pribadi pemimpin diperlukan pada saat transisi ke tahap manajemen profesional. Tiga elemen penting dari manajemen personel, perencanaan dan pelanggan dibangun atas visi dan nilai perusahaan.

Ketika pengusaha menumbuhkan perusahaan, pemimpin harus mengidentifikasikan perlunya kontrol, rasa tidak percaya, operasi defensif, yang juga dikelan sebagai “sisi gelap pengusaha”.

Karakteristik ini jika tidak dimonitor akan mengakibatkan distorsi dalam melakukan transisi (yang diperlukan dalam pertumbuhan organisasi) akan sangat sulit. Karena pemimpin tidak dapat mengenali perilaku yang merusak, organisasi akan tetap kecil atau hancur.

Kebutuhan seperti karyawan baru, penambahan beberapa cabang, dan memperkerjakan manajer untuk memantau tim karyawan mulai muncul. Biasanya pengusaha menginginkan pertumbuhan dan keberhasilan, dan menunjuk para manajer untuk terus mengikuti pelatihan dan mengembangkan relasi bisnis.

Jika pemimpin tidak mampu melakukan kontrol, manajer tidak akan bisa mencapai tujuan yang ditetapkan dengan visi dan misi pemimpin.

Ketidakonsistenan dan ketidakmampuan pemimpin adalah faktor yang membatasi pertumbuhan bisnis. Seorang pengusaha berjuang dengan isu wewenang dan kontrol. Jika pemimpin tidak menyadari perilaku ini, karyawan perlahan akan pergi, yang mengakibatkan perusahaan mengeluarkan biaya untuk merekrut dan melatih karyawan baru.

Jika isu kontrol tetap berlanjut, pemimpin berupaya menarik kembali personel yang pernah dia pekerjakan untuk mengatur pertumbuhan organisasinya. Sehingga, micro-managing dan memindahkan kontrol atau power apapun dari manajer. Sebagai pengusaha terkadang, perencanaan dilakukan dengan insting. Hal ini merubah organisasi untuk mengandalkan beberapa profesional membagi pengetahuan dan pengalaman untuk menuntun perencanaan usaha kecil. Jika pemimpin usaha tidak dapat melakukan hal ini, transisi untuk menjadi manajemen profesional gagal.

Sikap ini juga mempengaruhi konsumen. Integritas dan entusiasme yang semula ada akan tergerus dengan karakter pemimpin yang mengendalikan, tidak percaya dan defensif. Ketika konsumen mendapatkan mutu pelayan yang rendah, harapan karyawan yang tidak dipenuhi dan tidak puas, maka reputasi organisasi secara keseluruhan akan rusak. Sisi gelap pengusaha akan memberikan dampak negatif pada bisnis, karyawan dan pelanggan. Penting bagi pemimpin untuk menganalisa kelebihan dan kekurangannya untuk memelihara kesuksesan usahanya.

Oleh: Robert II Smith

Sumber: http://www.leadershiparticles.net

Diterjemahkan oleh: Iin (Tim PengusahaMuslim.com)