Beri Suap Atau Tidak Makan!

Beri Suap atau Tidak Makan !

Disusun oleh : Fadil Basymeleh

Suap dalam mencari proyek atau mark up harga demi mendapatkan proyek adalah sebuah kondisi yang ’dianggap wajar’ di republik tercinta ini, sebuah kondisi yang sangat mengkhawatirkan.

Sungguh ini merupakan ujian yang berat bagi kita para pengusaha muslim, apakah kita yakin bahwa rezeki kita ditentukan oleh Allah Ta’ala atau ditentukan oleh pejabat tersebut ? Siapa yang lebih berkuasa ? Allah atau manusia ?

Jika kita yakin bahwa kalau kita tidak memberikan suap maka bagaimana bisa mendapatkan rezeki ? maka berarti kita yakin bahwa Allah Ta’ala bukan penentu rezeki bagi hambanya. Maka jika demikian, Allah akan membenarkan keyakinan kita, karena Allah beserta sangkaan hambanya!

Katakanlah: “Siapakan yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?” Katakanlah: “Allah”, dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata.” QS. Saba’:24

“Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.” QS. Ali ‘Imran:37

Sayang kebanyakan dari kita menyetujui konsep pedagang yang selama ini sudah putus asa, mereka yang punya keyakinan “jangankan cari rezeki halal, yang haram saja sulit” atau “kalau tidak begini bagaimana bisa cari uang?”

Ini ujian kehidupan, bersabarlah! dengan sabar terhadap larangan Allah, maka insyaAllah akan diganti dengan rezeki yang halal yang berlimpah.

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya” QS. Ath Thalaaq:2-3

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhu , ia berkata : “Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melaknat yang memberi suap dan yang menerima suap”.[HR At-Tirmidzi, 1/250; Ibnu Majah, 2313 dan Hakim, 4/102-103; dan Ahmad 2/164,190. Syaikh Al-Albani berkata,”Shahih.” Lihat Irwa’ Ghalil 8/244>

Banyak yang sudah membuktikan, bahwa dengan menolak budaya suap dalam mencari proyek atau mark up harga, maka Allah akan membukakan jalan keluar serta rezeki yang jauh lebih baik dari nilai proyek2 tersebut (yang ada bumbu suap didalamnya). Memang diawalnya berat, tapi dengan kesabaran dan bersunguh-sungguh dalam berikhtiar (istiqomah) insyaAllah waktunya pasti datang.

Sekali lagi hindarilah suap atau markup harga tersebut, karena suap atau markup harga dalam mendapatkan proyek dapat diartikan bekerjasama dalam kemaksiatan dan pelanggaran.

“Artinya : Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertawaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksaNya”. QS. Al-Ma’idah : 2

Ada banyak jalan keluar yang diberikan Islam untuk mendapatkan rezeki halal, bekerja bersungguh – sungguh, banyak berbuat baik kepada manusia, bersodaqoh, istighfar, silaturahmi, zakat, haji, merupakan pintu-pintu pembuka rezeki yang banyak… bukan dengan suap, markup harga, riba dan tipu muslihat.

Memang tidak dapat dipungkiri secara akal manusia yang jahil ini bahwa peluang untuk mendapatkan sebuah proyek akan jauh lebih besar jika kita menjalankan aksi suap tsb. Tapi ingat, kita berbisnis bukan untuk cari proyek tapi cari rezeki yang halal dan kebahagian dunia akhirat!!

Rezeki jangan dilihat dalam bentuk uang/harta semata, ketenangan batin, anak-anak yang soleh, istri yang solehah, kesehatan, dsb… adalah rezeki yang lebih berharga daripada uang yang melimpah. Jadi untuk apa harta melimpah tapi batin tersiksa, anak yang durhaka, mati bunuh diri, masuk neraka, dst… befikirlah wahai pengusaha muslim, jika Anda ingin dirahmati Allah Ta’ala dan ingin bahagia dunia akhirat.