Allah Bersama Orang yang Sabar

Orang Yang Sabar

Alhamdulillahirabbil ‘alamin wa shalatu wa salamu ‘ala nabiyyina muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. Amma ba’du

Pada kesempatan kali ini saya hendak menyampaikan beberapa hal:

Pertama, kewajiban kita untuk memanjatkan puji syukur atas nikmat-nikmat Allah yang melimpah dan terus-menerus kepada para hamba. Allah berfirman “Dan sedikit sekali hamba-hambaku yang bersyukur.” (QS. Saba’: 13). Hendaknya di antara kita menjadi golongan yang sedikit ini.

Kedua, kewajiban berpegang teguh kepada petunjuk agama dalam permasalahan syukur atau sabar dan masalah-masalah yang lain. Seorang hamba diperintahkan untuk mengikuti ajaran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan dilarang berinovasi dalam masalah agama. Di antara hal yang termasuk petunjuk agama adalah sabar di saat lapang dan sempit karena yang perbuatan ini merupakan perwujudan dari penghambaan dan peribdatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla . Imam Ibnu Al-Qayim menerangakan dalam karyanya Al-Wabilu Ash-Shayyib Hal. 11-12, “Perjalanan hidup seorang hamba itu tidak lepas dari tiga keadaan; Saat ia berdosa maka ia hendaknya meminta ampunan, saat ia ditimpa musibah maka hendaknya ia bersabar, dan saat it diberi nikmat maka hendaklah ia bersyukur. Kemudian beliau mengulangi, “Seorang hamba tiu tidak akan pernah lepas dari tiga permasalahan ini.”

Nikmat dari Allah senantiasa tercurah kepada seorang hamba, maka hendaknya disyukuri. Syukur tersebut dibangun dengan dua pondasi; pengakuan dengan hati dan melafalkannya dengan ucapan.
Ditimpa ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa cobaan maka ia wajib bersabar. Sabar adalah menahan hati untuk tidak berkeluh kesah, menahan lisan dari meratapi, dan menahan anggota tubuh dari sesuatu yang dilarang; seperti menampar pipi, merobek-robek baju dan menjambak-jambak rambut, dan cara-cara lainnya.
Parameter kesabaran itu terdapat pada tiga permasalahan ini.

Apabila seorang hamba mengaplikasikannya dengan semestinya, cobaan pun berubah menjadi anugerah, bala pun menjadi dihadapi dengan tenang, dan yang dibenci pun berubah menjadi dicintai.

Sesungguhnya Allah memberi musibah bukan untuk membinasakan, akan tetapi bala tersebut menjadi ujian dan pengabdian seorang hamba. Allah mewajibkan penghambaan seorang hamba pada masa sulit sebagaimana Dia memerintahkan hal itu pada saat seseorang bahagia. Allah memiliki hak peribadatan pada saat masa-masa nestapa sebagaiman juga punya hak pada masa suka cita. Namun demikian, kebanyakan hamba-Nya mewujudkan nilai-nilai ubudiyah tersebut di kala suka cita saja.

Adapun cara mengaplikasikan peribadatan pada masa-masa duka lara ini bervariasi tergantung tingkatan keimanan seorang hamba dan tergantung kedudukannya di sisi Allah Ta’ala. Kemudian Ibnu Al-Qayyim menyampaikan, “Orang-orang yang sempurna keimanan dan memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah maka ia mewujudkan nilai-nilai ubudiyah dengan cara sempurna. Sebaliknya orang-orang yang kurang imannya dan rendah derajatnya di sisi Allah, pula beribadah dengan cara yang tidak sempurna. Oleh karena itu, barangsiapa mendapatkan suatu kebaikan maka hendaklah ia memuji Allah. Adapun orang yang mendapati selain dari kebaikan, janganlah ia cela selain dirinya sendiri.”

Inilah apa yang hendak saya sampaikan. Aku memohon kepada Allah dengan nama dan sifat-Nya Yang Maha Indah lagi Maha Sempurna agar membimbing kita semua menuju apa yang Ia ridhai dan menjauhkan kita dari tipu daya setan. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Mengabulkan. Akhirnya shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan sahabatnya.

Syaikh Abdullah bin Abdurrahim Al-Bukhari
Diterjemahkan dari http://www.sahab.net/home/?p=154