Momen Idul Adha, Penjual Hewan Kurban Ini Raup Untung Rp 60 Juta

Jelang hari raya Idul Adha, di banyak tempat biasanya mulai ramai para penjual hewan kurban yang menawarkan kambing dan sapi dengan variasi harga dan kualitas hewan. Para pejual musiman ini memanfaatkan momen tersebut untuk meraih untung sebesar-besarnya.

Ahyadi (57), salah satu penjual hewan kurban di Jalan Setiakawan, Duri Pulo, Jakarta Pusat yang sudah menggeluti bisnis jual beli hewan kurban selama 40 tahun ini mengatakan, dirinya mampu meraup untung besar hanya dengan berjualan kambing dan sapi.

“Saya biasanya mulai buka itu 15 hari sebelum hari H. Kalau lagi bagus, untungnya bisa sampai Rp 50 juta-Rp 60 juta. Tapi sial-sialnya ya hanya Rp 30 juta. Keuntungan dari masing-masing hewan rata-rata Rp 500 ribu,” ujar Ahyadi tatkala diwawancara Liputan6.com .

Harga yang ditawarkan oleh Ahyadi bervariasi, tergantung bobot dan fisik dari hewan kurban. Untuk kambing, dia membanderol harga mulai Rp 2 juta-Rp 8 juta per ekor. Sedangkan untuk sapi mulai Rp 13 juta-Rp 50 juta per ekor.

Dari variasi harga hewan kurban tersebut, Ahyadi mengatakan yang paling banyak minati oleh orang yaitu kambing dengan harga antara Rp 2,5 juta-Rp 3,5 juta per ekor. Pembelinya pun bermacam-macam, mulai dari perusahaan hingga perorangan. Selain itu, dia juga menyuplai kambing dan sapi untuk penjual hewan kurban lainnya.

“Kalau dari perusahaan kadang ada yang minta sampai 50 ekor. Ada juga penjual yang kambing dan sapinya dari kita, seperti penjual di Tanah Abang itu rata-rata dari sini,” kata dia.

Ahyadi mendatangkan hewan kurban ini dari berbagai wilayah. Untuk kambing, biasanya dia datangkan dari Cianjur, Jawa Barat. Sedangkan untuk sapi didatangkan dari daerah Jawa Timur seperti Madiun dan Ngawi. Untuk ongkos kirim dari Cianjur, Ahyadi biasanya harus membayar Rp 2 juta per truk, sedang dari Jawa Timur sebesar Rp 6,5 juta per truk.

Meski berjualan hewan kurban terlihat mudah dan bisa menghasilkan keuntungan yang besar, namun Ahyadi mengaku pernah rugi hingga Rp 800 juta. Hal itu terjadi ketika banjir besar yang melanda Jakarta yang terjadi jelang Idul Adha.

“Kalau tidak salah itu waktu tahun 2007. Hewan kurban yang saya jual tidak ada yang laku. Karena kondisinya juga sudah tidak bagus, kambing dan sapi itu pada stres, akhirnya saya potong sendiri dan saya kasih ke orang-orang,” ungkapnya.

Meski demikian, Ahyadi tetapi yakin bisnis hewan kurban ini akan tetap menguntungkan. Dia hanya berharap bisnis yang turun temurun yang dimulai dari kakeknya tersebut bisa diteruskan oleh anak dan cucunya nanti.

“Jualan seperti ini kadang untung, kadang rugi, itu wajar. Kalau sedang untung, saya bisa sampai naik haji dua kali atau bisa beli rumah dari hanya jualan hewan kurban. Tetapi ketika rugi ya tidak apa-apa, anggap saja sebagai hobi,” tandasnya. [Liputan6.com]