3 Tips Menghadapi Kritik

Dalam hidup ini, salah satu yang tidak akan pernah lepas dari hidup kita adalah kritik. Ya, kita semua sepertinya pernah menerimanya. Kritik merupakan sebuah konsekuensi bagi mereka yang mengambil risiko untuk melakukan sesuatu sekaligus keniscayaan bagi mereka yang berani menjadi sesuatu. Konon, filsuf Yunani kenamaan, Aristoteles, pernah berujar bahwa satu-satunya cara untuk menghindari kritik adalah dengan cara tidak melakukan apapun; tidak bekerja, tidak bicara, dan tidak menjadi apapun. Lucu bukan? Di masa sekarang, mengikuti saran dari sang filsuf pun tetap bukanlah jalan keluar yang baik karena satu-satunya orang yang masuk dalam klasifikasi saran Aristoteles mungkin adalah mereka yang berani memutuskan untuk menjadi pengangguran lalu diam tidak bicara sepatah kata pun sepanjang hidupnya. Adakah manusia yang sanggup berada di posisi itu? 

Meskipun secara naluriah tidak ada manusia yang suka dikritik, namun kita juga harus sadar bahwa kritik pun terkadang ada manfaatnya. Seperti yang pernah terjadi pada Sahabat Umar Bin Khatab RA. Dalam sebuah riwayat yang mashyur, disebutkan bahwa Umar Bin Khatab RA pernah mendengar kritikan dalam bentuk keluh kesah seorang ibu yang kesulitan memenuhi kebutuhan pangan untuk anak-anaknya. Uniknya, sang khalifah yang mendengar kritikan tersebut secara langsung bukannya marah atau memanggil tentara untuk memenjarakan sang ibu beserta anak-anaknya. Tetapi justru menyediakan pundak beserta tenaganya untuk mengangkat sendiri bahan makanan yang dibutuhkan oleh ibu tersebut. Masyaallah, itulah Umar bin Khattab RA, salah satu sahabat yang dijamin akan masuk surga oleh Baginda Rasul. Lalu bagaimana dengan kita yang bukan Umar?

Bagi para pembaca pengusaha muslim yang berstatus sebagai pedagang, pegawai, atau pemilik usaha, berikut saya sajikan beberapa tips untuk menghadapi kritikan secara positif. Mudah-mudahan, dengan tips ini, Anda akan memiliki kemampuan untuk mengubah kritikan yang masuk menjadi berkah ketimbang musibah. Sudah siap? Bismillah.

1. Senyum dan ucapkanlah “terima kasih”

Awalilah dengan sebuah senyuman disertai ucapan “terima kasih”. Bila Anda dikritik lalu Anda langsung mengucapkan dua kata ini plus sebuah senyuman maka si pengkritik akan langsung tahu bahwa Anda bukanlah orang sembarangan. Mengucapkan “terima kasih” plus senyum pada saat dihujani kritik adalah sebuah sinyal bahwa Anda sudah dewasa dan matang. Kata “terima kasih” dan senyum juga bisa menjadi “serangan balik” yang baik bagi mereka yang mengkritik karena biasanya mereka belum tentu akan melakukan hal yang sama pada saat dirinya yang kena kritik. 

Dan satu lagi, mengucapkan “terima kasih” dan tersenyum tidak akan menurunkan status Anda. Bila Anda adalah pegawai yang tersenyum dan mengucapkan “terima kasih” pada saat dikritik, maka Anda tidak akan turun pangkat dengan melakukannya. Begitu pula dengan pedagang, reputasi Anda tidak akan menurun bila Anda mengucapkan dua kata tersebut plus melontarkan sebuah senyuman. Bahkan tidak jarang, hal ini justru bisa membuat pelanggan Anda akan tambah sayang dan setia pada warung atau toko milik Anda. Buktikan deh kalau tidak percaya. 

2. Dengar dahulu, respon belakangan

“Wah makanannya kurang enak”. “Nasinya kok sedikit”. “Bajunya kok mahal banget”. “Modelnya jadul sekali”. Empat kalimat tadi adalah beberapa contoh kritikan yang sering menerpa mereka yang punya warung makan dan toko baju. Suka atau tidak suka, kritikan-kritikan tadi adalah sebuah kenyataan yang harus diterima meski terkadang belum tentu valid. Tidak jarang, mereka yang dikritik sering menanggapi pesan-pesan tadi dengan emosional. Mereka cenderung membalas kritikan tersebut dengan kritik balik yang sama sekali tidak perlu dan bahkan tidak ada hubungannya sama sekali dengan inti kritikan tersebut. Dengan kata lain, pihak yang dikritik justru fokus pada manusia yang mengkritik alih-alih pada pesan dalam kritikan tadi. Misalnya saja dengan berucap, “Ah, baru makan sekali saja sudah belagu.”, untuk menjawab kritikan pertama; atau “Situ saja yang rakus. Pelanggan lain tidak begitu kok.”, untuk membalas kritik kedua; “Kalau mau murah cari merek lain di toko sebelah saja Pak/Bu.”, dan seterusnya.

Bila memang itu yang sudah terjadi, maka kedua belah pihak tadi tidak akan menerima manfaat apapun dari kritik-kritik tersebut. Si pengkritik rugi, pedagang pun bernasib sama. Si pengkritik akan rugi karena ia akan kehilangan satu tempat lagi untuk mencari makanan atau barang yang ia inginkan, sementara si pedagang juga akan ketiban hal yang sama karena ditinggal satu lagi calon pembeli yang sudah “ilfil” dengan toko atau warungnya. Parahnya lagi, si calon pembeli tadi biasanya akan membawa kisah pilunya ke teman, sanak, atau keluarganya. Untuk melengkapi penderitaan yang sudah ia alami, sebagai manusia yang tersakiti, biasanya ia juga akan mencegah kenalannya untuk mengalami hal yang sama, meski di lapangan hal yang sama belum tentu terulang. 

Solusi dari keadaan di atas adalah dengan mencoba untuk menjadi pendengar yang baik terlebih dahulu. Sebagai pendengar, Anda tidak perlu menanggapi kritik yang masuk dengan emosi yang sama seperti yang sudah ditampilkan oleh si pengkritik. Dengan mendengarkan, Anda akan mendapatkan keuntungan besar yakni mengambil inti dari kritikan yang masuk. Seperti contoh di atas, inti dari kritik yang berbunyi “Wah, nasinya kok sedikit” adalah dengan menambahkan porsi nasi KHUSUS buat pelanggan yang merasa kurang tadi. Tapi supaya Anda tidak rugi, Anda juga berhak untuk menaikkan harga nasi tersebut secara diam-diam alias tanpa pengumuman terlebih dahulu. Jadi, bila porsi normal sepiring nasi di warung Anda adalah Rp3.000,00 berarti khusus untuk si pelanggan tadi harganya akan menjadi Rp4.000,00 atau Rp5.000,00. Sebuah harga spesial yang diharapkan tidak akan menyakiti perut sekaligus kantong pelanggan tersebut. Kalau bisa begini, warung Anda dijamin aman. Insyaallah. 

3. Tidak ada yang sempurna, termasuk si dia

Anda sudah berusaha memperbaiki terus-menerus tapi kritik terus saja datang, lalu apa yang harus Anda lakukan? Ya tipsnya sama; senyum, terima kasih, dengar dulu, dan menerima ketidaksempurnaan, lalu kembali lagi ke nomor satu tadi. Di dunia ini, manusia bukanlah makhluk yang ditakdirkan untuk sempurna. Semua orang pasti memiliki kekurangan. Hal yang sama juga berlaku untuk merk, toko, atau warung makan. Terkadang kesalahan ada di cara Anda melayani, terkadang kurang garam, terkadang salah warna, terkadang salah ukuran, dan seterusnya. Bila direnungi, posisi Anda yang dikritik seharusnya sama dengan mereka yang mengkritik, yakni sama-sama tidak sempurna. Jadi, keberanian kita untuk membuat kesimpulan bahwa kita selaku individu maupun tim tidak akan pernah sempurna akan menjadi pondasi yang kuat untuk terus melangkah ke depan tanpa harus berlebihan menyikapi serangan-serangan dari pihak luar, termasuk kritikan. 

Toh, kenyataannya, di luar sana memang tidak ada yang bebas dari kritikan. Perusahaan besar kena kritik, perusahaan sedang juga kena, apalagi yang masih berskala kecil. Apple, Inc. pernah dikritik karena menjual iPhone tanpa keypad QWERTY, Google pernah dikritik karena dianggap hanya mengcopy-paste hasil pekerjaan Apple melalui Android-nya, Microsoft dikritik karena sering keluar dari rel utamanya sebagai pembuat software, Starbucks dikritik karena menjual kopi dengan harga yang terlalu fantastis (Rp48.000,00 untuk jenis frappuchino), kemudian perusahaan (isi dengan nama badan usaha milik Anda) dikritik karena mengambil keputusan untuk (masukkan di sini risiko yang sudah Anda ambil), dan seterusnya. 

Kesimpulannya? Tidak ada yang bebas dari kritikan bukan? Semua manusia bisa menjadi dua pihak sekaligus, pengkritik dan yang dikritik. Namun di posisi manapun Anda berada, pastikan tahu cara memainkannya. Karena bila tidak, maka Anda sendiri yang akan kena getahnya. Wallahu’alam bisshowab.

Mudah-mudahan bermanfaat. 

Pengusahamuslim.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial