Catatan Bisnis Mencari Peluang (bagian 1)

Di dunia ini yang jumlah penduduknya milyaran, semua orang tidak ada yang sama, meskipun kembar sekalipun. Begitupun kebutuhannya, juga tidak sama. Ketidaksamaan tersebut menjadikan manusia saling membutuhkan dan mengharuskan bisa saling melengkapi satu dengan yang lain. Lalu, terjadilah pertukaran atau barter antar kebutuhan dari masing-masing manusia tersebut. Seseorang akan menukarkan barangnya yang dibutuhkan orang lain dengan barang orang lain yang dibutuhkan orang tersebut. Lalu pada jaman sekarang untuk mempermudah pertukaran, dibuatlah standar alat tukar, yaitu uang.
Kira-kira begitulah asal mula terjadi sesuatu yang bernama ‘jual beli’. 
Dari landasan berpikir yang sangat mendasar tersebut, kita bisa menarik kesimpulan sederhana bahwa jual beli itu pada prinsipnya terjadi karena adanya perbedaan kebutuhan pada tiap manusia. Dengan perbedaan tersebut, maka terbukalah pasar yang sangat luas. Oleh karena itu, peluang usaha yang munculpun akan berbanding lurus dengan pasar yang ada, yaitu sangat luas. 
Ada 2 aliran marketing dalam membagi peluang pasar:
1. Blue Ocean (lautan biru)
Yaitu terjun ke area bisnis yang rendah persaingan atau bahkan tanpa pesaing. Caranya adalah dengan menciptakan pasar baru; yaitu menawarkan produk atau jasa baru di masyarakat. Baru yang dimaksud bukanlah baru secara mutlak. Bisa produk/jasa baru yang belum pernah ada, atau bisa baru dalam hal kemasannya, pelayanannya, atau lainnya. Sehingga karena tidak ada pemain lain yang sama dengan produk/jasa kita, maka seakan kita memonopoli pasar. 
Kreatifitas dan inovasi sangat diperlukan pada model ini. Kemudian, penentuan harga produk/jasa kita juga akan sangat bebas bagi kita dalam membandrolnya. Berbeda jika sudah ada produk lain yang sama, tentunya kita akan mempertimbangkan penentuan harga dibanding pemain lain tersebut. 
Kelemahan pada model ini, kita butuh modal relatif lebih besar dan waktu yang lebih lama sebagai bagian dari ‘pengorbanan awal’ dalam mengedukasi masyarakat (calon pasar). Kita semua tahu, tidak semua sesuatu yang baru itu akan langsung diterima masyarakat. Edukasi dan promosi yang bagus, modal yang cukup, kesabaran, dan konsistensi akan sangat membantu bisnis kita. 
Di perusahaan (developer) tempat saya bekerja dulu punya gol akan mengembangkan kawasan wisata sejarah dan budaya, dimulai dengan pembangunan rumah-rumah berdesain Jawa Klasik, hotel dan villa yang eksotik dengan lingkungan bernuansa ‘ndeso’. Jika para developer lain mencari tanah property yang dekat dengan kota dan keramaian, justru di tempat kami sebaliknya. Harga rumah di tempat kami pun sangat tinggi meskipun jauh dari kota dan keramaian. Sehingga, pada masa perintisan di tahun-tahun pertama, omset yang dihasilkan sangat sangat minim. Anda bisa bayangkan, pengeluaran untuk menggaji karyawan belum termasuk biaya operasional kantor dan lainnya sebesar ratusan juta tiap bulan, tetapi pemasukan dari penjualan rumah hanya puluhan juta. 
Pun demikian halnya kita juga bisa melihat contoh lainnya, yaitu Nusa Dua, Bali. Dulu di awal pembentukan lingkungan kawasan disana, membutuhkan energi sangat sangat besar. Dana, tenaga, pikiran, hingga berdarah-darah untuk bisa membranding kawasan tersebut jadi seperti sekarang. Sekarang harga properti di sana sudah berpuluh-puluh lipat dibanding dulu di masa perintisan. 
Resiko lain dari model Blue Ocean ini adalah produk/jasa kita ternyata tidak diterima pasar, tidak laku, tidak sesuai dengan ‘hati’ pasar. Ini adalah resiko paling menyakitkan bagi pebisnis pemula. Kemudian ada resiko lagi, yaitu jika bisnis kita laku di pasar dan berhasil mengeruk keuntungan besar, maka akan segera bermunculan pengekor bisnis kita. Ini sudah hampir pasti. Mereka pengekor ini adalah pemain yang masuk ke area Red Ocean (lautan merah).
2. Red Ocean (lautan merah)
Prinsip yang dipakai dari model ini adalah: ada gula ada semut. Artinya, dimana ada bisnis yang laku berarti disana ada pasar (konsumen), dimana ada produk laris disana pasarnya banyak. Sehingga kita tidak perlu lagi repot-repot eksperimen produk baru, survey pasar, tes rasa, dan lain sebagainya, tetapi kita tinggal nyontek aja bisnis yang sudah ada dan kita bersaing dengannya. 
Model ini enaknya selain yang disebutkan di atas, kita juga tidak perlu cari-cari lokasi bisnis yang strategis. Karena prinsip dari model ini, lokasi paling strategis adalah lokasi di dekat pemain sejenis lain yang sudah ramai. Seperti misalkan kita mau buka depot ayam bakar, maka kita tinggal menempatkan depot kita di dekat depot/warung/restoran lain yang sudah ramai. Kenapa? Karena disitu pasarnya sudah siap. Disitu sudah banyak orang yang suka ayam bakar, sehingga kita tidak perlu lagi banyak promosi untuk mencari orang yang suka ayam bakar. 
Saya pernah jualan nasi pecel. Saya cari tempat strategis, di dekat perempatan dan dekat pertokoan dan Alfamart. Dan di sekitar situ tidak ada penjual makanan/nasi seperti saya. Kemudian saya genjot dengan promosi, bikin undangan gratisan, dan pasang banner besar “Gak Enak Gak Usah Bayar”. Alih-alih berhasil jualan saya ramai, ternyata sepi sama sekali. Bahkan dalam beberapa hari hanya ada 2 pengunjung, itupun salah satunya teman saya sendiri. Ini sungguh ada something error-nya nih. Lalu saya berhenti kontrak tempatnya karena duit saya habis. Kemudian saya coba jualan di lokasi lain. Saya pasang rombong saya di dekat penjual makanan sejenis lainnya. Saya hitung, di sepanjang jalan ini, setidaknya ada 10 penjual yang juga menjual nasi pecel. Saya jalan aja, tanpa promosi, tanpa brosur dan spanduk. Eh, ternyata jualan disini malah laris. 
Kembali ke Red Ocean. Dengan kemudahan memanfaatkan model ini, kita bisa menghemat dana eksperimen, hemat biaya survey, dan hemat dana promosi. Tetapi karena dinamakan Red Ocean, maka kita harus siap dengan ketatnya persaingan, saingan kualitas produk, saingan kualitas pelayanan, dan lainnya. Di samping itu kita juga harus siap disikut tetangga, tidak disukai tetangga, bahkan bisa jadi pesaing kita akan menyantet kita, hehehe… Saya dapat cerita dari seorang penjual es dawet. Dia waktu awal jualan dulu dimusuhi tetangga jualannya yang jualan es degan. Bilangnya merebut pelanggan. Hingga sampai-sampai bawa clurit segala. Begitulah resiko jualan, kata saya. 
Saya tidak sedang menghakimi kedua model bisnis di atas. Karena saya melihat, masing-masing pemegang model tersebut saling mengejek. Para penulis buku marketing aliran Blue Ocean menyindir pemain Red Ocean tidak punya kreatifitas tidak mau berusaha sendiri dan suka sabotase punya orang. Begitupun sebaliknya, aliran Red Ocean menyindir lawannya tidak cerdas, terlalu idealis, tidak realistis. 
Saya hanya ingin sharing saja. Kita bisa mengambil kebijakan sendiri, mana yang paling sesuai dengan karakter kita, isi kepala kita, isi dompet kita, dan kekuatan kita. Semoga bermanfaat. 
Ditulis oleh seorang penjual bumbu pecel, di Malang.

Hudiya S Hakim FB @kanghut.po ( Beliau pemilik Warung Pecel Kanghut di Sawojajar, Kota Malang 54321 HP: 0852-3362-6525)
  • Pengusahamuslim.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.
  • Dukung kami dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. 081 326 333 328 dan 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial