Karyawan Resign: Apakah Hanya Karena Uang?

Karyawan resign
atau berhenti dari pekerjan?
. Bahkan karyawan yang paling loyal dan
kompeten tiba-tiba mengatakan “Pak/Bu, saya ingin berhenti…”. Apa yang
terjadi? Adakah kebijakan yang salah selama ini?. Tentu semua pertanyaan
ini bergelayut di pikiran para pengusaha maupun manajer sumber daya
manusia (SDM) perusahaan baik kecil maupun besar dan pernah mengalami
karyawan yang tiba-tiba mengajukan berhenti (resign) secara mendadak. Apakah ini semata soal uang atau finansial (gaji dan/atau tunjangan)?

Banyak
pengusaha lebih memilih menaikkan gaji dan/atau tunjangan bagi si
karyawan. Menaikkan gaji dan/atau tunjangan bukanlah suatu kesalahan.
Bahkan harus dilakukan jika memang ini adalah motivasi utama yang
menyebabkan karyawan keluar dari tempat dia bekerja. Namun tanpa
disadari, banyak karyawan yang memilih untuk mundur dari perusahaan
disebabkan faktor-faktor non-finansial.

Faktor Non Finansial

Menurut
survey dari Towers Watson, salah satu perusahaan konsultan yang
berbasis di New York, Amerika Serikat, 80% karyawan resign atau berhenti
dari pekerjaan karena alasan non-finansial. Alasan non-finansial bisa
bervariasi, mulai dari hubungan dengan atasan, pelanggan (customer),
rekan sekerja, tidak ada kesempatan untuk berkembang, suasana dan/atau
lingkungan kerja kurang menyenangkan, mencari tantangan baru, dan
berbagai alasan lainnya.

Berikut penjelasannya:

1. Hubungan dengan Atasan, Pelanggan (Customer), dan Rekan Kerja

Hubungan
yang dimaksud disini tidak hanya sebatas hubungan pekerjaan Bahkan
hubungan pribadi/personal. Sering sekali hubungan pekerjaan dapat
merusak hubungan pribadi antara si karyawan dengan atasan, rekan kerja,
dan customer, dan juga sebaliknya. Adalah hal yang wajar manakala
hubungan dalam pekerjaan maupun pribadi mengalami pasang surut. Hari ini
bisa menjadi “teman”, esok hari malah menjadi “musuh”. Hal tersebut
dapat pula dengan pelanggan (custormer), dimana customer
merupakan sumber pendapatan kita. Sehingga hubungan baik dengan customer
mutlak perlu dijaga dan dibina dengan baik. Untuk itu penting bagi
perusahaan untuk bisa menilai dan mengukur  sejauh mana hubungan
karyawan dengan atasan, pelanggan (custormer), maupun rekan
kerjanya. Apakah sudah dilakukan dengan cukup baik dan efektif.
Perusahaan bisa mengadakan survei kecil-kecilan untuk mengetahui hal ini
dengan menanyakan kepada atasan, pelanggan (custormer), maupun
rekan kerja si karyawan dan kemudian memberikan umpan balik (feedback)
kepada si karyawan yang bersangkutan. umpan balik (feedback) juga dapat
berupa saran atau rekomendasi bagaimana supaya hubungan baik dengan
pelanggan (custormer) bisa tetap dijaga, dan bagaimana cara memperbaiki hubungan buruk dengan pelanggan (custormer) apabila terjadi konflik dengan pelanggan.

2. Kesempatan untuk Berkembang

Layaknya
hidup yang terus berkembang dan dinamis, karyawan pun juga harus
berkembang. Sebagai manusia, karyawan akan merasa betah diperusahaan
apabila ia merasa tertantang untuk maju. Sering karyawan keluar dari
perusahaan apabila ia merasa sudah tidak tertantang lagi untuk berkarir
atau berkembang di perusaahaan tempat ia bekerja. Penting bagi
perusahaan untuk menyiapkan dan memikirkan strategi pengembangan
karyawan. Hal ini bisa berbagai macam cara, misalnya menyediakan
pelatihan yang menunjang, mengirim karyawan untuk mengikuti seminar,
kursus, dan lokakarya yang terkait dengan pekerjaan ataupun motivasi.
Selain itu perusahaan dapat menyediakan sarana atau tempat untuk diskusi
dan konsultasi karir, dan tak kalah penting, perusahaan juga harus
menyediakan pekerjaan dan/atau penugasan-penugasan yang memungkinkan
karyawan tersebut belajar untuk mengembangkan skill dan kemampuan
barunya.

3. Lingkungan (suasana) Kerja

Salah
satu hal yang membuat karyawan betah bekerja disuatu perusahaan atau
organisasi adalah lingkungan kerja. Lingkungan kerja disini bisa berarti
tersedianya fasilitas dan/atau sarana ibadah, seperti mesjid dan/atau
musholla untuk menunaikan ibadah sholat (wajib dan sunnat), adanya
pengajian rutin (mingguan dan/atau bulanan) dan diskusi internal
mengenai agama, suasana kerja yang akrab, hangat, dan menyenangkan, dan
bisa juga desain atau tata letak (layout) sarana dan peralatan kerja, seperti ruangan, meja,
kursi, dan Personal Computer (PC) yang memungkinkan bagi karyawan untuk bekerja secara efektif dan maksimal.

4. Strategi Bisnis

Penting
buat pengusaha atau perusahaan untuk menentukan dan mengevaluasi
strategi bisnisnya. Strategi bisnis adalah cara ataupun metode yang kita
gunakan untuk mencapai sasaran dan tujuan bisnis. Sering sekali
pengusaha atau perusahaan tidak mengomunikasikan strategi bisnisnya
secara lisan ataupun tertulis kepada karyawan dengan alasan strategi
tersebut “ada di kepala” atau tidak tertulis. Hal ini lazim terjadi pada
pengusaha atau perusahaan skala menengah ke bawah. Ini sering sekali
justru membuat sebagian karyawan merasa bisnis berjalan ditempat atau
tidak menentu. Akibatnya dia merasa tengah hidup dalam ketidakpastian.
Untuk itu, ada baiknya jika pengusaha mengomunikasikan ide maupun
strategi bisnisnya kepada karyawan. Tidak harus secara detail dan
formal, namun cukup inti atau hal-hal penting dari strategi bisnis
tersebut, bahkan dapat dilakukan secara informal.

5. Peraturan, Kebijakan, dan Tata Cara

Banyak
peraturan, kebijakan, dan tata cara (prosedur) diperusahaan yang
membuat karyawan tidak betah, sehingga membuat ia memutuskan untuk
keluar. Apalagi jika peraturan tersebut dirasa atau dinilai tidak atau
kurang manusiawi. Ambil contoh, peraturan yang membuat karyawan lembur
secara berlebihan melebihi aturan yang ditetapkan oleh undang-undang
tenaga kerja. Sering perusahaan beralasan untuk memenuhi target atau
deadline pekerjaan dari customer atau pihak-pihak tertentu, seperti
owner proyek maupun perusahaan. Namun sebagaimana layaknya manusia
biasa, karyawan butuh keseimbangan antara bekerja dan hidup (work-life balance).
Hal tersebut dapat disiasati dengan cara membantu karyawan untuk
membagi-bagi pekerjaannya dan mengelola waktunya secara efektif.

Karyawan sebagai Aset

Mengelola
karyawan merupakan suatu tantangan tersendiri, apalagi di tengah
persaingan bisnis yang ketat seperti sekarang ini. Namun bukan tidak
mungkin mengelola karyawan secara efektif mudah untuk dilakukan dengan
catatan para pengusaha mengetahui dan memahami cara ataupun strateginya.
Yang dapat menjadi sebuah pola pikir (mindset) yang baik adalah
karyawan merupakan salah satu aset perusahaan yang berharga. Sehingga
harus diperlakukan dengan sebaik mungkin. Jangan sampai dianggap atau
menjadi beban bagi perusahaan.

Muhammad Aulia Amri
Pengamat & Pemerhati Bisnis

##

PengusahaMuslim.com didukung oleh Zahir Accounting
Software Akuntansi Terbaik di Indonesia

Dukung kami dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR. 081 326 333 328 & 087 882 888 727

Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial