Karakter Penting Seorang Pengusaha Yang Perlu Anda Tahu

Karakter baik sang pengusaha berkontribusi
besar bagi sukses bisnisnya. Berikut 10 karakter penting yang biasanya
melekat pada pengusaha sukses.

Dalam hampir setiap success story
sebuah bisnis—jika kita cermat menyimaknya—terselip fakta mengenai
karakter baik sang pengusaha yang berkontribusi besar bagi kesuksesan
bisnisnya. Tentu pula kompetensi sang pengusaha dan orang-orang yang
membantunya—namun karakter-lah yang signifikan.

Karakter baik
tidak terbentuk semalam, sebagaimana pepatah lama mengatakan: “Taburlah
pemikiran, maka kamu akan menuai tindakan; taburlah tindakan, maka kamu
akan menuai kebiasaan; taburkanlah kebiasaan, maka kamu akan menuai
karakter.”

Manusia yang bersungguh-sungguh berusaha memiliki sifat yang baik, insyaAllah akan dimudahkan untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa berusaha melatih dirinya melakukan kebaikan, maka dia akan dapatkan, dan barangsiapa berusaha menghindari keburukan, maka dia dihindarkan dari keburukan tersebut.”—HR Bukhari dalam Adabul Mufrad dan dihasankan al-Albani dalam as-Shahihah No. 342

Ada
minimal 10 karakter baik yang melekat pada pengusaha sukses. Yakni, (1)
Memiliki intuisi bisnis; (2) Memiliki visi yang jelas; (3) Inovator;
(4) Tidak cepat puas; (5) Risk taker (berani mengambil risiko); (6) Determined (mantap, bulat tekad); (7) Persistant (gigih, pantang menyerah, tidak lemah); (8) Problem solver (penyelesai masalah); dan (10) Pembelajar. Berikut saya uraikan satu per satu.

Motivasi tinggi

Motivasi
adalah dorongan sangat kuat yang menggerakkan seseorang untuk berbuat
sesuatu. Tantangan seorang pengusaha lebih besar ketimbang seorang
karyawan. Ada banyak hambatan dan kesulitan di jalan menuju sukses.
Perlu motivasi tinggi untuk melewatinya.
Seringnya, seseorang ingin
menjadi pengusaha hanya termotivasi ingin menafkahi keluarga, memiliki
rumah, kendaraan, dan seterusnya. Hanya sampai di situ. Saat semua itu
ada, motivasi malah melembek. Saya menyarankan, bangunlah motivasi lebih
dari sekadar untuk meraih tujuan-tujuan keduniaan. Tingkatkan motivasi
sampai ke tujuan akhirat—misal ingin masuk surga dengan jalan lebih
banyak bersedekah, menafkahi keluarga tidak mampu, membangun pesantren,
masjid, dll. Meraih tujuan akhirat akan menuntun langkah kita untuk
selalu berada di koridor syariah.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa
yang niatnya adalah untuk menggapai akhirat, maka Allah akan memberikan
kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai
berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk padanya. Barangsiapa yang
niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia
tidak pernah merasa cukup, Allah akan mencerai-beraikan keinginannya,
dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.”
—HR Tirmidzi No. 2465 dan dishahihkan al-Albani dalam Silsilah as-Shahihah No. 404

Motivasi,
cita-cita, sebaiknya ditulis dengan jelas menjadi visi dan misi bisnis
Anda, kemudian dirinci jadi sasaran berjangka yang jelas pula dan
terencana, agar mengarah tujuan yang jelas. Bukankah hidup akan lebih
bergairah jika kita memiliki tujuan yang jelas?

Intuisi Bisnis

Intuisi
para pengusaha sering dimaknai sebagai keajaiban. Padahal kepekaan
bisnis terasah oleh “jam terbang” atau pengalaman, dan proses belajar
sang pengusaha. Bagi orang beriman, bersyukurlah, sebab intuisi dapat
kita peroleh dengan pertolongan Allah Ta’ala berupa kemantapan hati atau ide cemerlang. Islam memberi tools jitu berupa doa dan sholat istikharah ketika kita bimbang menentukan pilihan dan langkah.

Bertakwalah, sebab petunjuk dari Allah Ta’ala akan datang pada hambaNya yang bertakwa. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidada disangka-sangkanya.”—QS At Thalaq : 2-3

Ibnu Syuja’ Al-Kirmani berkata, “Siapa yang memakmurkan lahiriahnya dengan mengikuti sunnah, memakmurkan batiniahnya dengan muraqabah
(merasa diawasi Allah), menahan nafsunya dari syahwat dan menahan
pandangannya dari apa yang diharamkan serta ia membiasakan diri makan
yang halal, niscaya firasatnya tidak akan salah.”

Visi yang Jelas

Visi
adalah gambaran masa depan yang ingin diraih. Gambarkan dengan sangat
masa depa seperti apa bisnis yang hendak Anda bangun. Contoh visi Bill
Gates, pendiri Microsoft: “Di semua meja yang ada komputernya, Windows
adalah sistem operasinya”. Visi yang jelas dapat menuntun langkah.
Seorang pengusaha hendaknya mampu menggambarkan dengan jernih visinya
kepada para karyawan agar mereka dapat ikut serta mewujudkannya.

Inovator

Kita
bisa memulai bisnis dengan meniru, ide atau cara pengusaha lain. Namun
dewasa ini tidak cukup lagi. Kita harus kreatif menemukan hal-hal
baru—produk, kemasan, pelayanan dan pemasaran, dll. Ya, benar-benar baru
dan unik, sehingga membedakan bisnis kita dengan pesaing.

Kalau
pun meniru, janganlah tanpa nilai tambah. Harus ada inovasi.
Syukur-syukur baru. Inovasi harus tiada henti—karena pilihannya:
inovatif atau mati. Konsumen tak akan berpaling kepada produk kita
karena mereka tidak mempunyai alasan cukup untuk membeli produk kita
jika produk kita biasa-biasa saja.

Tidak Cepat Puas

Sony,
produsen produk elektronik terkemuka, dikenal unggul, salah satunya,
karena inovatif. Sony punya cara unik untuk memenangkan persaingan.
Sementara di lantai bawah sedang diadakan peluncuran produk baru, di
lantai atas, dalam waktu yang sama berlangsung pencarian untuk menemukan
produk yang lebih hebat daripada produk baru yang sedang diperkenalkan
di lantai bawah. Tujuannya jelas, agar selalu terdepan dalam inovasi
produk.

Cepat puas dalam berkarya hanya akan membuat bisnis
jalan di tempat, dan tinggal menunggu masa kadaluarsa. Mereka yang
sukses tidak cepat puas hanya dengan karya yang sudah ada, baik dari
sisi produk, pelayanan maupun pemasaran. Kualitas produk dan pelayanan
harus terus ditingkatkan untuk selalu lebih unggul daripada yang lain.

Salah satu hikmah nyata dapat Anda petik dari firman Allah Azza wa Jalla, yang artinya, “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain” –QS Al Insyirah: 7

Demikianlah,
seyogyanya pola kerja setiap orang Muslim tidak pernah berhenti. Setiap
selesai sebuah pekerjaan, segeralah melakukan pekerjaan baru
lainnya. Namun jangan salah, rasa tidak cepat puas bukanlah untuk
rezeki. Seberapa pun rezeki yang kita terima, kita harus merasa puas dan
penuh rasa terima kasih. Sebagai orang beriman, kita harus selalu
bersyukur atas rezeki yang kita terima dari Allah. Dengan selalu
bersyukur, Allah Ta’ala akan menambah nikmatNya. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Sesungguhnya jika kalian bersyukur, Kami pasti menambah (nikmat) kepada kalian.” –QS Ibrahim: 8

Berani Ambil Risiko(Risk Taker)

Berani
mengambil risiko bukan berarti nekat, tanpa pertimbangan. Mereka yang
sukses berani memilih langkah yang menurut kebanyakan orang sangat
berisiko.

Manusia adalah makhluk yang lemah. Tidak ada yang
terbebas dari kesalahan. Sebagai orang yang beriman dan bertakwa, kita
memiliki “senjata ampuh”, yaitu doa dan sholat istikharah. Gunakan
senjata ini untuk meminta pertolongan kepada Allah Ta’ala yang Maha Mengetahui untuk memilihkan mana yang terbaik bagi dunia dan akhirat kita.

Determined (Mantap dan Bulat Tekad)

Pengusaha
sukses memiliki karakter, yang menurut sebagian orang, diaggap kurang
akomodatif, adaftif atau kaku. Jika telah meyakini sesuatu hal, pendapat
atau keputusannya tidak mudah berubah. Dia mantap dan yakin akan
pilihan dan keputusannya. Karakter ini tampaknya buruk. Apalagi jika
kemudian pilihan atau keputusan meleset atau keliru. Tapi ini sebenarnya
kelebihan seorang pengusaha. Keyakinan dan tekadnya yang bulat menjadi
energi untuk membakar semangatnya.

Sebagai Mukmin yang baik, tekad bulat saja belumlah cukup. Kita hamba yang lemah, karena itu mohonlah pertolongan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” –QS Ali ‘Imran: 159
“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” –QS Ath Thalaaq: 3

Kita
tidak boleh menggantungkan harapan kesuksesan kepada diri kita sendiri.
Kepada perusahaan atau kepada makhluk lain. Gantungkan harapan hanya
kepada Allah Ta’ala, karena Dia-lah tempat kita meminta pertolongan dan menggantungkan harapan.

Janganlah rasa percaya diri menjadikan kita lupa berharap pertolongan Allah Ta’ala. “dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” –QS Al-Inshirah: 8

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai seorang Rasul selalu berdoa agar tiap langkahnya selalu dalam bimbingan Allah Ta’ala: “…(Ya
Allah,) jadikanlah baik semua urusanku dan janganlah Engkau membiarkan
aku bersandar kepada diriku sendiri (meskipun cuma) sekejap mata.”
—HR An-Nasa`i dan Al-Hakim; dihasankan oleh Syekh Al-Albani

Persistant

Disebut
gagal jika kita berhenti berusaha, lemah dan menyerah. Pengusaha sejati
tidak mudah menyerah. Ia gigih merajut cita-citanya. Kalah dalam suatu
pertarungan bukan berarti kalah perang. Masih banyak arena pertarungan
lain yang akan bisa mengantarkannya pada kemenangan sejati.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersemangatlah atas hal-hal yg bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. –HR Muslim

Mintalah pertolongan kepada Allah Ta’ala
agar diberi kekuatan menghadapi kesulitan. Bertakwalah agar diberikan
jalan keluar. Jadikan kegagalan sarana introspeksi diri. Boleh jadi,
kita gagal karena belum siap sukses. Kesuksesan dan kekayaan adalah
ujian, dan bisa jadi kita belum mampu melaluinya.

Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Dan jikalau Allah melapangkan rezeki
kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka
bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran.
Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha
Melihat.”
–QS Asy Syuraa: 27

Problem Solver

Mencari
kambing hitam biasa dilakukan orang-orang gagal, para pecundang untuk
membenarkan alasan atas kegagalannya. Orang-orang sukses selalu mencari
solusi. Mereka dalah orang-orang yang menyelesaikan masalah. Pengusaha
sukses adalah orang yang bertanggung jawab dan lebih memilih mencari
solusi ketimbang mencari kambing hitam.

Bertakwalah, sebab jalan keluar terbaik dari Allah Ta’ala akan diberikan kepada hambaNya yang bertakwa. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar.” –QS At Thalaq: 2
Siapakah problem solver terbaik selain Allah Ta’ala?

Pembelajar

Kita
tidak dilahirkan langsung pintar. Karena itu, banyaklah belajar. Dari
buku dan dari mereka yang lebih dulu sukses. Rasanya tidak ada pengusaha
sukses yang tidak hobi membaca. Pengusaha sukses adalah seorang
pembelajar yang tekun. Selain ilmu-ilmu dunia, selayaknya sebagai
seorang Muslim kita juga mendalami ilmu agama. Sebab kunci-kunci
kesuksesan lebih banyak ditentukan oleh seberapa baik agama kita.

Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Barangsiapa
yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam
keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan
yang baik (di dunia) dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada
mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka
kerjakan.”
—QS An-Nahl: 97
Para ulama salaf menafsirkan makna
“kehidupan yang baik (di dunia)” dalam ayat di atas sebagai “kebahagiaan
(hidup)” atau “rezeki yang halal dan baik” dan kebaikan-kebaikan
lainnya yang mencakup semua kesenangan hidup hakiki—lihat Tafsir Ibnu Katsir (2/772)

Bagaimana
kita bisa beriman dengan benar dan beramal dengan benar tanpa belajar
ilmu agama secara benar? Bagaimana pula kita sebagai pengusaha Muslim
bisa berjual-beli dengan halal jika tidak mempelajari fikih jual-beli?
Salah-salah terjebak riba, yang akhirnya menghilangkan keberkahan usaha
kita.

Sebagai orang beriman, kita memiliki kelebihan
dibanding mereka yang tidak beriman, dan berpeluang menjadi pengusaha
sukses jauh lebih besar, sebab Allah Ta’ala adalah penolong orang-orang yang beriman selama kita selalu bertakwa.

Janganlah pula pernah merasa bahwa kesuksesan Anda raih hanya karena kepandaian dan kerja keras Anda, dan melupakan Allah Ta’ala yang
telah memberi karuniaNya berupa akal, kesehatan dan pertolongan kepada
Anda. Kekaguman terhadap diri sendiri akan mengantarkan kita kepada ujub, sombong, dan akhirnya seperti Karun yang diadzab Allah Ta’ala.***

Fadhil Fuad Basymeleh ( Penulis adalah pemilik dan chairman Zahir Accounting; pendiri Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia )