Cara Mensyukuri Uang 100 Ribu (juni 2013)

Bulan Juni sudah hampir tenggelam. Sementara Juli 2013 sebentar lagi akan datang. Datangnya bulan bisa menjadi cerita bahagia, atau malah sebaliknya. Buat para pengusaha atau pegawai yang tidak punya hutang atau pinjaman, datangnya bulan tentulah saatnya untuk melompat-lompat gembira. Tapi bagi yang masih banyak urusan dengan Bank, BPR, BPD, Bla-Bla-Bla Finance atau Koperasi, datangnya bulan adalah masa yang biasa-biasa saja karena uang di tangan sudah dikapling oleh “sesuatu” yang bertebaran di mana-mana.

Tapi …

Setidaknya Anda masih memegang uang 100 ribu di tangan bukan? Dan Saya merasa tergerak untuk menjabarkan banyak hal yang bisa Anda lakukan dengan uang tersebut. Beberapa bulan lalu saya sudah melakukannya, dan bulan ini pun saya akan mengulanginya lagi. Dengan cerita yang baru juga tentunya. 

Di edisi kali ini, saya hendak membawa Anda beserta uang 100 ribu ke sebuah tempat bernama pelelangan ikan. Di tempat saya tinggal sekarang, Gorontalo, ada sebuah tempat pelelangan ikan (TPI) terkenal yang terletak di kota. Tepatnya di daerah objek wisata “tangga 2000” yang memang merupakan zona pelabuhan. Di tempat ini, ada banyak pedagang yang menjual hasil tangkapan para nelayan dalam jumlah yang melimpah dan beragam. Ada ikan, kepiting, udang, juga cumi-cumi. TPI ini buka sejak pagi-pagi buta hingga zuhur menjelang. Selepas itu, pasar akan lengang dan mulai “tutup” dengan sendirinya.

Di beberapa daerah atau kota di Indonesia, TPI dengan deskripsi di atas mungkin agak sulit untuk ditemui. Terlebih di wilayah yang pusat kegiatan ekonominya merapat ke arah laut. Tapi meskipun begitu, saya tetap yakin kalau di tempat tersebut biasanya akan ada “pasar ikannya”. Jadi, Anda bisa mempraktikkan trik yang ada di tulisan kali ini di pasar ikan tersebut. Tidak ada TPI, pasar ikan pun jadi. Hehehe …

Dengan uang 100 ribu di genggaman tangan, Anda sejatinya sudah bisa membeli ikan dan berbagai hasil laut lainnya dalam jumlah yang lumayan banyak. Hal ini terjadi karena di TPI harga ikan dan hasil laut lainnya cenderung lebih murah ketimbang Anda membeli di pasar-pasar biasa. Dari pantauan saya, selisih harganya bisa mencapai Rp 5 – 50 ribu tergantung dari jenis dan ukuran ikan yang Anda beli. Sebagai contoh, ikan nike (berukuran kecil mirip ikan teri) yang di pasar-pasar tradisional dihargai Rp 10.000,- per kaleng susu kental manis, bisa dibeli dengan harga di interval Rp 20.000 – Rp. 30.000 per kantong plastik ukuran sedang yang seukuran dengan tiga kaleng susu kental manis. Untuk ikan-ikan dengan ukuran besar seperti ikan cakalang, tentu selisih harganya bisa lebih besar lagi. 

Trik membeli ikan dengan uang 100 ribu

Supaya 100 ribu rupiah bisa berubah menjadi ikan, udang, cumi-cumi, atau kepiting dalam jumlah yang signifikan, Anda harus punya trik tersendiri. Salah satunya adalah dengan cara membeli hasil-hasil laut tadi ke pedagang yang sudah menjadi teman Anda sendiri. Ini adalah cara klasik, bisa langsung dipraktikkan bila Anda sudah punya kenalan dengan pedagang di TPI. Bagi Anda, dan juga saya, yang kebetulan memang belum punya kenalan dengan pedagang di TPI, tidak perlu khawatir. Sebagai seorang anak rantau di negeri orang, kita juga bisa mendapatkan hasil melimpah dengan uang 100 ribu apabila kita mengaplikasikan trik sederhana ini. Apakah itu?

Datanglah agak siang. Yup, itulah triknya. Sederhana bukan. Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya. Sebagaimana pedagang di pasar pada umumnya, pedagang di TPI juga harus istirahat. Tidak mungkin mereka bekerja 24 jam. Mustahil. Di TPI Kota Gorontalo, para pedagang biasanya sudah mulai mengemasi lapak dan dagangannya pada pukul 10 – 12 siang. Pada jam-jam tutup tersebut, terkadang mereka masih menyimpan stok ikan yang belum terjual. Nah stok-stok ikan inilah yang biasanya dibanting harganya. Anda bisa bayangkan, cumi-cumi seharga Rp 10.000,- per satu kaleng susu kental manis (KSKM), akan menjadi Rp 40.000,- per kg atau lima sampai tujuh kali lipat dari takaran KSKM. Ikan cakalang ukuran sedang (saya tulis sedang karena ada cakalang yang panjangnya hampir mencapai satu meter lebih) yang di pagi hari di jual sekitar 10 – 20 ribu rupiah per ekornya, bisa berubah menjadi 50 ribu per 7 atau 8 ekornya. Perlu saya informasikan juga di sini bahwa harga-harga yang saya sebutkan tadi adalah harga yang ditawarkan oleh para pedagangnya sendiri. Dengan kata lain, kalau Anda adalah “si raja tega”, Anda sebenarnya masih diperkenankan kok untuk menawarnya ke harga yang lebih di rendah dari tawaran pertama. 

Mungkin Anda akan bertanya, “jangan-jangan ikannya sudah tidak segar lagi?”. Kalau Anda membeli ikan-ikan tadi lebih pagi, tentu saja Anda akan mendapatkan ikan yang lebih segar. Tapi percayalah, di TPI, ikan yang Anda beli pada jam 6 pagi sebenarnya tidak akan jauh berbeda dengan ikan yang Anda beli jam 11 atau 12 siang. Apalagi kalau ikan-ikan tadi sudah masuk ke wajan penggorengan. Betul tidak? Saya yakin bahwa para pedagang yang membanting harga dagangannya di TPI adalah mereka yang sudah memegang keuntungan dari transaksi di pagi hari sehingga mereka berani menjual murah kepada calon pembeli di siang hari. Anda mungkin lebih paham dengan istilah BEP (Break Even Point) alias balik modal bukan? Jadi tidak ada alasan untuk terlalu takut ke TPI di siang hari. Waspada boleh, was-was jangan.

Baiklah, itu dulu untuk kali ini. Bila Anda punya 100 ribu di tangan, maka pergilah ke TPI sekarang juga. Pergilah agak siang supaya hasilnya bisa maksimal. Ketimbang mengeluhkan rizki di tangan, mending kita syukuri di tempat pelelangan ikan. Selamat bersyukur …. dan makan ikan. Hahahaa …..