Cara Mensyukuri Uang 100 Ribu (mei 2013)

Alhamdulillah, saya kembali lagi! Saya kaget, ternyata sudah hampir tiga bulan lebih saya tidak menerbitkan tulisan saya di situs ini. Tidak seperti dulu, sekarang saya sudah bukan seorang jejaka lagi. Pada tanggal 14 April 2013 lalu, Si pemilik takdir sudah memutuskan untuk menikahkan saya dengan seorang ciptaannya, yang kebetulan sama-sama menulis di situs ini, di Palembang. Penting gak sih? Apakah memberitahukan peristiwa penting ini perlu dilakukan oleh seorang penulis lepas yang bekerja di situs seperti pengusahamuslim.com?

Mungkin banyak yang bilang ini tidak penting tapi penulis merasa sebaliknya. Setidaknya, setelah saya menjadi seorang suami, salah satu serial tulisan saya di sini akan ketambahan sudut pandang baru. Tulisan yang saya maksud adalah “Cara mensyukuri uang 100 ribu”. Sebelumnya, semua yang saya sampaikan di dalam serial tulisan tersebut merupakan pengalaman pribadi saya sebagai seorang bujangan. Membeli obat herbal, membeli sepatu olahraga, sampai meregister nama domain untuk pondok pesantren adalah beberapa contoh hal-hal yang yang sering saya lakukan untuk mensyukuri selembar uang 100 ribu yang hinggap di tangan saya. Tapi kini, pembaca harus siap dengan tema-tema atau cerita baru yang akan saya hidangkan di dalam serial tulisan ini. Sekali lagi, sebagai seorang suami. Bukan bujangan. Hehehe … get ready.

Mandi keringat di Pasar Isimu

Hari Minggu tanggal 21 April 2013 akan saya catat sebagai hari yang bersejarah karena pada hari itu untuk pertama kalinya saya mengantarkan istri saya belanja ke sebuah pasar tradisional yang terkenal dengan riuhnya, sesaknya, dan tentu saja bau khasnya. Pasar itu adalah Pasar Isimu. Sebuah pasar yang hanya buka di hari minggu dan sumpek dengan berbagai jenis barang kebutuhan. Mulai dari sembako, sayur-mayur, buah-buahan, daging-dagingan, ikan-ikanan, bumbu-bumbu, perabot rumah tangga, alat-alat pertukangan, alat-alat listrik, hingga obat kaki lima semua ada di sana. “Seperti Hypermart”, ujar istriku sambil tertawa.

Pagi itu kami berangkat sekitar pukul 7 pagi dengan kuda pacu Honda Blade plus uang beberapa ratus ribu di tas. Kami pulang dua sampai tiga jam kemudian. Anda tidak perlu tanya lagi tentang letihnya kami sepulangnya dari sana. Cukuplah keringat di baju dan bau amis yang menempel di badan sebagai penanda untuk semuanya. Sungguh lelah, tapi kami berdua senang. Dengan beberapa ratus ribu tadi, kami sudah bisa membawa beberapa macam sayur, beberapa macam daging dan ikan, berkilo-kilo beras, sekilo gula, bumbu, alat dapur, dan masih banyak lagi yang lainnya. Istriku bilang, “cukuplah buat stok seminggu, insyaallah.”

Relativitas Uang 100 ribu

Setelah seminggu berlalu, sadarlah saya bahwa istriku memang benar. Belanjaan kami minggu lalu memang cukup untuk menutup kebutuhan selama satu minggu ke depan. Sebagai seorang mantan bujang, ehemmm …, saya jadi terperangah. Saya akhirnya menyadari bahwa ternyata para pria yang sudah menikah, khususnya untuk mereka yang berhasil mempersunting gadis dengan keahlian masak-memasak, sebenarnya bisa menghemat beberapa ratus ribu uang di kantongnya. Caranya ya itu tadi, berbelanjalah di pasar tradisional, lalu masaklah sendiri semua makananmu. Baik untuk makan pagi, siang, ataupun malam.

Dahulu sewaktu masih mandiri – mandi sendiri, makan sendiri, cuci baju sendiri, dan tidur sendiri – biasanya saya bisa menghabiskan uang sekitar 350 ribuan per minggunya atau sama dengan sekitar 50 ribu per hari hanya untuk makan. Kini, setelah menikah, kalau hanya untuk makan 3 kali sehari selama seminggu, uangnya hanya keluar di kisaran 250 sampai 300 ribu. Dengan kata lain, saya bisa menghemat 50 sampai 100 ribu. Not bad. Di samping menghemat uang, salah satu nikmat lain yang tidak bisa dinilai dengan uang adalah kebersamaan saya dengan sang istri tercinta di rumah plus memakan berbagai jenis variasi makanan yang sebelumnya jarang sekali bisa saya jumpai di rumah makan di Gorontalo pada umumnya. Awesome!

Merenungi 100 ribu saat ini

Untuk beberapa kalangan di Indonesia, uang 100 ribu terkadang sudah tidak ada gunanya. Saat mendapatkannya, banyak yang tidak mampu mensyukurinya. Saya sendiri dulu mungkin termasuk salah satunya. Saya atau mungkin juga Anda kan inginnya 1, 10, atau 100 juta, bukannya 100 ribu. Kita sering tidak sadar bahwa dengan nominal uang seperti itu sejatinya banyak hal-hal baik yang bisa kita lakukan, baik untuk diri sendiri, keluarga, maupun lingkungan. Duh, sedihnya kalau kita menjadi orang yang tidak pandai bersyukur. Banyak sekali yang akan hilang dari diri kita bila penyakit kufur nikmat datang menghinggapi. Artikel kecil seperti ini saya harap ada faedahnya saat Anda baca. Siapa tahu Anda bisa terinspirasi untuk melakukan sesuatu yang hebat dengan bantuan uang se pek ceng (100 ribu dalam bahasa hokien) itu. 

Hmmm … dan saya pun sekarang bersyukur karena selain sudah mulai menulis lagi, saya juga sudah bisa menambahkan katalog rasa syukur baru untuk uang 100 ribu ke dalam basisdata di kepala saya, juga di pengusahamuslim.com. Beras 2 kg, gula 1 kg, garam 1 botol, sayur bayam dua ikat, 5 timun, 2 jeruk purut, cumi satu canting, udang 10 ribu, dan seterusnya. Bila Anda sempat menemani istri ke pasar, Anda pasti bisa dengan mudah menambahkan daftar belanjaan tersebut. Selamat berbelanja. Bareng istri tercinta tentunya.

PS: Bagi para pembaca pengusahamuslim.com yang belum menikah tidak perlu berkecil hati karena Allah lebih tahu yang terbaik untuk kita. Sabar dan teruslah berdoa serta berusaha. Insyaallah sang dambaan hati kan datang juga. Amin.