The Future Is Open (bagian 3)

Memberikan SDK

Baiklah, sekarang kita akan masuk ke poin kedua; memberi SDK alias Software Development Kit.

Bila Anda adalah seorang mahasiswa atau sarjana ilmu komputer, saya prediksi Anda pasti akan langsung tahu dengan definisi SDK. Tapi kalau Anda memang bukanlah keduanya, maka Anda tidak perlu cemas, saya akan mencoba untuk menjelaskan apa itu sebenarnya SDK. Pertama, sebagai pembukaan. Saya akan memberi Anda link di Wikipedia untuk melihat definisi SDK. Kedua, percaya atau tidak percaya, saya akan menganalogikan SDK dengan sebuah kotak tool kit seperti yang biasa dipakai oleh pekerja listrik, penggemar tamiya, dan sejenisnya. 

Pada dasarnya, SDK adalah sebuah resource alias sumber daya yang akan memberikan kemampuan kepada penggunanya untuk melakukan atau membuat sesuatu. Jadi, bila Anda menggunakan Java SDK, berarti Anda secara tidak langsung mengunduh “semacam” sumber daya yang memungkinkan Anda untuk membuat sesuatu dengan sumber daya tersebut. Dalam kasus ini tentu saja library-library yang jumlahnya luar biasa banyak itu. Lalu apa saja yang bisa Anda kembangkan dengan sumber daya ini? Banyak sekali tentunya. Ada yang menggunakan Java untuk membuat sistem informasi akuntansi. Ada juga yang membuat Java untuk aplikasi handphone. Ada pula yang memanfaatkan resource Java SDK untuk mengembangkan peta. Bahkan ada juga yang menggunakan Java untuk mengembangkan sebuah sistem operasi untuk ponsel cerdas, Android adalah salah satu contohnya. 

Lalu, Anda mungkin akan bertanya? Kalau SDK ini saya bagikan secara gratis kepada para developer, lalu bagaimana cara saya mendapatkan uang? Hehehe, gampang saja. Buatlah pasar!

Dan itulah yang dilakukan oleh Apple melalui App Store. Kalau Anda sadar, sebenarnya App Store adalah sebuah pasar. That is a market place. Apple adalah pengelola pasarnya. Developer adalah penjualnya. Sementara pengguna iPhone, iPad, dan iPod Touch di seluruh dunia adalah para pembelinya. Tunggu dulu Mas Wim, saya masih bingung nih … ada analogi yang lebih sederhana tidak?

Anda meminta penjelasan yang lebih sederhana? Tidak masalah. Saya bisa memberikannya sekarang juga. Di kehidupan nyata, in a real world (kata orang Inggris), Anda mungkin sudah tahu dengan pasar tradisional bukan? Itu lho, sebuah pasar yang di dalamnya ada bermacam-macam manusia yang kalau diciutkan akan menjadi tiga golongan saja. Pertama, penjual. Kedua, pembeli. Ketiga, pengelola. 

Pihak pertama, memperoleh uangnya dari pasar dengan cara menjual barang-barang yang dibutuhkan oleh para pembeli. Sementara pembeli, dengan sejumlah uangnya bisa mendapatkan barang-barang kebutuhannya dari para penjual. Entah itu kebutuhan pangan, sandang, maupun papan. Dan terakhir, di bagian inilah Apple tampak menyerupai, yakni pengelola pasar – biasanya pemerintah daerah setempat – yang akan memperoleh pemasukan dari hasil retribusi yang mereka pungut dari pedagang maupun pembeli, baik itu secara langsung (dengan menagih langsung kepada pedagang) maupun tidak langsung (bagi hasil uang parkir dengan pengelola parkir setempat).

Kembali ke App Store milik Apple. Di pasar miliknya, Apple menerapkan skema bagi hasil 70:30. Artinya, 70 persen pendapatan developer dari hasil penjualan aplikasinya akan masuk ke rekeningnya sendiri, sementara 30 persen sisanya akan masuk ke kantong Apple selaku pengelolanya. Sederhana bukan. Jadi kalau ada sebuah game studio yang berhasil menjual aplikasinya seharga $10/unduhan maka Apple akan menerima $3, sementara developernya akan menerima $7. Bila dalam jangka waktu setahun aplikasi milik game studio tersebut diunduh sebanyak 1000 kali maka cara menghitung keuntungannya adalah 1000 X $10 X 0,7 = $7000. Hasil yang lumayan bukan? Tentu saja. Itu adalah hasil kerja keras Anda selama belum berjabat tangan dengan orang dari Kantor Pajak Pratama. Kalau Anda sudah bertemu mereka …. siapkan senyum cadangan. Hehehehe ……

Di samping pemasukan dari bagi hasil tadi, Apple juga memiliki pos pendapatan dari pasar yang mereka buat dan kembangkan. Pada saat ada developer yang hendak menerbitkan aplikasinya ke App Store, developer tersebut harus membayar sejumlah uang terlebih dahulu untuk Apple. Biaya registrasi ini, selain dapat digunakan oleh Apple untuk menilai dan menjamin keseriusan seorang developer atau perusahaan pengembang aplikasi dengan produk yang diterbitkannya, juga digunakan untuk membiayai operasional pengelolaan App Store itu sendiri. Biaya yang dimaksud di sini termasuk perawatan server dan pengelolaan atau penambahan bandwith yang akan meningkatkan performa pasar itu sendiri. 

Hikmah besar dari SDK dan market

Bila Anda renungi, pola kerjasama yang dikembangkan oleh Apple bersama developer via App Store memang sangat menguntungkan. Tidak hanya bagi developer, tapi juga Apple sendiri. Anda bisa bayangkan, saat ketersediaan aplikasi bertambah banyak untuk sebuah platform, maka pengguna cenderung akan senang dengan platform tersebut. Kalau Anda tidak percaya, lihat saja Microsoft Windows. Salah satu faktor yang membuat Windows bisa jaya adalah karena melimpahnya pilihan software bagi para penggunanya. Menariknya, kalau para pengguna akhirnya sudah banyak menggemari sebuah platform, maka developer juga akan ikut serta menceburkan diri di dalamnya. Dan hal inilah yang sudah terjadi pada Windows. Saat para pengembang ingin memasarkan aplikasinya, platform Windows biasanya akan menjadi salah satu pilihan di dalamnya. Di masa depan, Apple bisa saja menjadi “the next Microsoft” dengan App Store yang digawanginya. Bedanya dengan Microsoft, Apple mengatur semua aplikasi yang bisa dijual di App Store miliknya. Sementara Microsoft tidak menggunakan sistem seperti itu. Di dalam ekosistem Windows, para developer tidak perlu menerima semacam “approval” dari Microsoft untuk menjual aplikasinya ke khalayak, walaupun Microsoft sendiri sudah menyediakan proses untuk verifikasi seperti itu bila developer membutuhkannya. 

Entah sistem mana yang Anda pilih, yang jelas menjadi pemilik sebuah platform sekaligus pasar sepertinya sangat menguntungkan untuk perusahaan. Bila saat ini perusahaan Anda sudah memiliki sebuah produk, mungkin sudah waktunya Anda memikirkan sebuah cara atau strategi untuk mengubah produk Anda menjadi sebuah platform lengkap dengan ketersediaan SDK plus pasarnya. Kalau Anda sudah punya pasar, Insyaallah Anda tidak hanya akan mendapatkan keuntungan berupa materi, tetapi juga pahala mengingat akan ada begitu banyak para penjual (baca: developer) yang bisa mencari sesuap nasi atau sebongkah permata dari pasar tersebut. Subhanallah, dunia dapat, akhirat dipegang!

Anda mau?

Di tulisan berikutnya, saya akan mencoba menyajikan cerita tentang perusahaan atau produk yang sukses karena berani membuka datanya ke publik. Harap bersabar ya ….