Must Have Barang Branded Kah?

Barang bermerk atau setidaknya KW-1 apakah kebutuhan? Tergantung duitnya. Rada bingung  apakah barang bagus harus bermerk, padahal harganya diatas rata-rata. Kalau dicermati siapa sih yang memotivasi kita beli merk ini itu? Yap, jawabannya adalah media, baik itu cetak,elektronik sampai media sosial. Apalagi belakangan bermunculan channel TV yang fokus pada fashion and style, yang lagi-lagi ngubek-ubek urusan gaya high-end. Sebagai warga Indonesia yang  rata-rata doyan belanja apalagi disokong oleh ekonomi kita yang sedang baik-baiknya sehingga banyak OKB (orang kaya baru) dan imbasnya pada kelas menengah adalah kita disuguhi aneka rupa kehidupan penuh gaya dan kebanyakan mahal-mahal. Tas bermerk pendongkrak gengsi dan aneka rupa  kehidupan seleb dan sosialita sukses mempesonakan kelas menengah atas sampai menengah bawah, jadinya mau dong tampil gaya seperti artis A. Seolah-olah kalau mau dihargai kita mesti bawa yang bermerk dulu, sebagai simbol status dan kesuksesan. Agar lingkaran sosial kita tahu siapa sih kita dan dimana kasta sosial kita berada, begitulah propaganda media seakan-akan kita butuh pada yang branded bin mahal.

Must Have Barang Branded kah?

Apakah yang branded selalu berkwalitas?, biasanya memang iya. Ada rupa ada harga. Tapi, belum tentu juga yang tidak bermerk tidak berkwalitas baik. Apalagi sekarang tengah digencarkan cinta produk dalam negeri made in Indonesia. Jadi, pintar-pintarnya kita saja memilih, kalau ada duit lebih bolehlah beli yang mahal tapi kalau kantong cekak usahlah memaksakan diri beli yang mahal agar dihargai teman, ujung-ujungnya menyesal karena tabungan ludes Cuma buat gensi-gengsian.

Media memang berandil besar merayu pembaca dan pemirsanya agar kita seolah-olah butuh pada kosmetik A, tas B, sepatu C atau smartphone D yang notabene mahal. Coba tanya pada yang jarang nonton TV, jarang online atau jarang baca majalah mode, niscaya mereka biasa-biasa saja lihat tas Louis Vuitton keluaran terbaru. Tapi, bagi yang sudah tahu ulasannya pasti bilang “wow” lalu bilang “must have nih” atau jadi segan pada orang yang kelak menentengnya, lha wong tas LV – yang ori lho ya- harus dibeli dengan budget berjeti-jeti.

Ujung-ujungnya segala tipu daya media membuat kita lupa  bahwa yang terpenting di dunia ini not only chasing luar tapi hati kita. Kita perlu disadarkan untuk terus bersyukur  tiap hari dengan apa-apa yang telah kita miliki. Tanpa harus berangan-angan terlalu jauh untuk bisa hidup ala orang kaya. Takkan ada habisnya jika kita selalu mendongak keatas dalam urusan harta dan kemewahan. Bagi yang kaya yang mampu beli ini itu, tetap tawadhu agar nafsu belanja tetap rapi dan tertib. Segala rupa sale dan discount beli sesuai kebutuhan saja. Toh, seabreg barang belian tak akan dipakai semua. Jangan sampai terjangkit virus shophacholic yang belanja tanpa pikir panjang.

Catat lho ya, media akan selalu membujuk kita menghambur-hamburkan uang atas nama statement diri lah atau menghadiahi dirilah, etc. Efek sampingnya, beli barang branded tuh rawan sombong dan jadi temannya setan akibat boros ria. So, yang logis-logis aja deh. Bedakan ingin dan butuh. Bagi yang silau pada kemewahan yang dimiliki si kaya, please deh beli based on kemampuan saja. Tak perlu memaksakan, entar bersenang dulu nyesel kemudian. Lelah lho ikut trend terkini, dunia toh fana saja, semakin dikejar semakin tak ada habisnya.

Kita tak perlu-perlu banget mengurusi polesan luar, sewajarnya saja. Ada yang lebih penting dan butuh kita beri asupan yakni hati kita. Kebutuhan untuk menutrisi iman adalah kebutuhan hakiki sepanjang masa, agar kita tak terseret arus materialisme dan konsumerisme. Agar kita lebih menghargai seseorang yang beramal shalih dan rajin menuntut ilmu agama rather than those yang menenteng barang-barang branded tapi akhlaknya kurang baik. Kalu ada yang shalih tapi bawa barang branded, ya tidak masalahlah, insyaAlloh ada iman yang jadi stabilizernya. Pendek kata, berimanlah sebelum belanja, agar tepat guna dan tak ada pemborosan. Usah ikut gembar gembor media. Miliki prinsip belanja tepat guna, efektif, efisien dan cintai produk dalam negeri.

Profil singkat: Sayudian, ibu 2 anak stay di ambon. Penulis lepas

Artikel www.PengusahaMuslim.com