Antara Industri Herbal Indonesia, Iphone Dan Steve Jobs

Oleh Wim Permana, S. Kom.*

Pernahkah Anda memasuki sebuah toko herbal di kota Anda? Kalau pernah, cobalah sesekali untuk mengamati – dengan sungguh -sungguh tentunya – obat-obatan atau segala sesuatu yang dijual di dalamnya. Di sana biasanya ada habatussauda, minyak zaitun, sambiloto, spirulina, buah merah, ekstrak bawang putih, minyak ikan, madu, propolis, sari kurma, gamat, virgin coconut oil, mengkudu, dan sejenisnya. Setelah Anda perhatikan apa yang dijual, kemudian cermatilah kemasan-kemasan yang digunakan oleh perusahaan-perusahaan pengolah tanaman, buah, atau bahan herbal tadi. Sekali lagi saya mengingatkan, coba tengok kemasan-kemasan obat/makanan/minuman herbal tadi. Perhatikan dalam-dalam … Lalu apa yang Anda temukan?

“Kesamaan,” itulah yang akan Anda temukan.

Hampir semua kemasan produk (product packaging) yang ada di dalam toko herbal biasanya mirip-mirip kalau tidak boleh dibilang persis sama. Kalau tidak percaya, coba kita lihat dulu kemasan herbal yang menjadi icon obat-obatan herbal, habatussauda dalam kapsul. Bila Anda merenung dua atau tiga detik saja, tampaknya Anda akan langsung tahu bentuk “wajib” dari obat herbal yang satu ini; botol plastik dengan bentuk silinder yang mengerucut lebar di bagian kepala atau tutup botolnya. Kemasan seperti ini digunakan oleh habbatussauda merk X yang dikenal sebagai pionir sekaligus pemimpin pasar habbatussauda dalam kemasan kapsul. Lucunya, bentuk kemasan yang hampir serupa tampaknya selalu ditiru oleh para pemain lainnya. Habbatussauda Merk Y memakai desain kemasan yang sama. Pun Merk Z atau A atau B atau C. Lagi-lagi intinya sama; botol plastik seperti silinder.

Setelah habbatussauda, mari kita melompat ke herbal populer lainnya; madu. Sekali lagi, bila Anda perhatikan kemasan-kemasan madu herbal, baik itu madu murni maupun yang sudah ada campuran, kita akan jumpai adanya kesamaan di kemasannya. Usut punya usut, tampaknya semua kemasannya berbentuk seperti botol obat batuk, hanya saja dengan ukuran yang sedikit lebih besar. Dan terbuat dari kaca. Bagaimana dengan kemasan minyak zaitun, sari kurma, virgin coconut oil, dan lain-lainnya? Ah, saya serahkan kepada pembaca semua untuk merisetnya sendiri. Percayalah, “penelitian” ini tidaklah sesulit yang Anda bayangkan. Cukup datangi toko herbal di kota Anda. Itu saja. Tapi bila Anda kesulitan menemukan toko herbal di sekitar Anda, yang Anda perlu lakukan adalah membuka Google Images atau Google Gambar kemudian ketikkan kata kunci seperti “habbatussauda” atau “sari kurma”.

Industri Herbal (mungkin) butuh Steve Jobs

Tentu saja, kita semua yang berada di dalam ekosistem Majalah Pengusaha Muslim tidak mungkin menghidupkan sang pendiri Apple ini. Steve sudah menjadi almarhum (dia orang kafir, jadi tdk boleh diberi gelar almarhum. Bisa diganti dg kata ‘tewas’ atau ‘mampus’ atau yg lainnya) sejak 5 Oktober 2011 lalu. Tapi …… lima tahun lalu, tepatnya di tanggal 9 Januari 2007, Steve Jobs beserta seluruh timnya di Apple, menunjukkan sesuatu yang mungkin bisa ditiru oleh semua pelaku industri herbal atau siapa saja yang tertarik untuk masuk ke industri ini; they’re reinventing the phone!

Macworld 2007

Thank you for coming. We’re going to make some history today,” ujar Steve Jobs dengan penuh semangat. (baca: Terima kasih sudah hadir. Kita akan membuat sejarah hari ini.”)

Ada 3 sampai 4 ribu orang di Moscone West ketika itu. Dan San Fransisco mungkin masih dalam pelukan embun pagi yang mendinginkan badan. Bila bukan untuk sesuatu yang sangat penting dan revolusioner, ribuan orang tadi mungkin lebih memilih untuk melanjutkan tidurnya ketimbang menghadiri acara reguler seperti Macworld yang biasanya selalu diadakan setiap tahun. Tapi mereka memilih untuk datang. Dengan kata lain, pengunjung tadi sudah tahu “risikonya”. Mereka menginginkan sesuatu ….. yang baru.

Semua penggemar Apple kala itu mungkin gugup. Akankah perusahaan yang sangat mereka kagumi benar-benar bisa membuktikan semua rumor yang sudah menyelimuti labirin media massa, baik itu cetak maupun online. Benarkah Apple akan membuat ponselnya sendiri? Benarkan gadget ini nantinya akan mampu menghadirkan iTunes dengan pengalaman yang lebih baik ketimbang apa yang sudah mereka temui di ponsel Motorola Rokr (yang terbukti gagal)? Bisakah Apple mendapatkan tempat di tengah kerumunan raksasa ponsel seperti Nokia, Blackberry, Palm, Samsung, Sony Ericcson, LG, atau bahkan Motorola? Mampukah Steve Jobs menghapus semua keraguan-keraguan ini?

Smartphone ketika itu ..

Sebelum hari itu tiba, hampir semua orang di luar Apple sepertinya tidak akan pernah berpikir tentang sebuah ponsel cerdas model baru. Sebuah ponsel yang hadir tanpa keypad dan dikendalikan sepenuhnya hanya dengan sentuhan jari plus satu tombol untuk kembali ke halaman awal. Sebuah ponsel yang sama sekali tidak mirip dengan Blackberry Pearl, atau Palm Treo, atau Samsung Blackjack, atau Nokia E62. Sebuah ponsel yang juga datang tanpa bantuan stylus! Sebuah ponsel cerdas yang memungkinkan para developer asyik berkreativitas membuat aplikasi yang sesuai dengan selera dan minat masing-masing seperti yang sering mereka lakukan di platform PC atau Mac. Sesuatu …….

Tapi itulah kenyataannya, Steve Jobs benar-benar melakukannya. Melakukan sesuatu yang sama sekali tidak atau belum dilakukan oleh para vendor lainnya. Mereka akhirnya merilis produk misterius itu.

“And we are calling it iPhone!”

Dan kita menyebutnya; iPhone. Setelah produk misterius ini hadir, peta dunia ponsel benar-benar berubah. Semua keraguan seolah-olah lenyap. Kalau dahulu iPhone sering diejek-ejek karena ketiadaan keypad, sekarang justru sebaliknya. Vendor-vendor pembuat ponsel malah berbondong-bongdong meniru konsep interaksi yang sama; dengan sentuhan jari di layar. Bukan dengan stylus, keypad, atau yang lain. Cukup jari di tangan. It’s just that simple.

Ponsel yang awalnya dihina-hina dan laris dengan cibiran ini akhirnya bernasib sebaliknya. Sampai versi terbarunya saat ini, yakni iPhone 4s, gadget yang mempelopori popularitas penggunaan voice assistant ini sudah terjual tidak kurang dari 75 juta unit di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri, iPhone tentu saja tidak atau belumlah sepopuler Blackberry, Nokia, Samsung, atau  bahkan Nexian. Tapi coba perhatikan sejenak apa yang sering dilakukan oleh keempat vendor ponsel tadi. Suka atau tidak suka, mereka semua adalah “korban kreativitas” Apple. Dengan kata lain, mereka semua mencoba untuk menjual apa yang sudah dijual oleh Apple, sebuah handset dengan fitur full touch screen. Blackberry sudah melakukannya dengan seri Storm. Nokia juga mulai belajar melakukannya melalui Nokia Lumia. Samsung sudah kencang meniru Steve dan gengnya melalui seri Galaxy S, dan Nexian sudah mencoba-coba menjajal pasar dengan Nexian Journey. Dan lucunya, mereka pun bernasib sama seperti Apple; ponsel touch screen mereka juga bisa diterima di pasaran. Hebat bukan? Apple yang mempelopori, perusahaan lain yang menikmati.

The cost of being Apple alias innovator

Sampai di sini, adakah diantara para pembaca atau pengusaha muslim di luar sana yang berminat menjadi the next Apple? Setidaknya untuk industri herbal “kita”. Saya tidak tahu jawaban apa yang hendak Anda ambil, tapi apapun itu, saya hanya bisa memberi tahu risikonya menjadi seorang innovator. Risiko terbesar menjadi innovator ada dua; (1) Rugi besar (2) Malu total!

Anda dan perusahaan Anda bisa rugi besar ketika sudah capek dan lelah dalam berinovasi tapi konsumen atau target pasar Anda ternyata tidak bisa menerima gagasan brilian yang tersembunyi di balik produk Anda. Setelah itu, karena Anda sudah terbukti gagal, kemudian orang berbondong-bondong akan menghujani Anda dengan sederet cacian, cibiran, hinaan, bahkan makian. Mereka akan menyebut Anda sudah salah prediksi. Atau terlalu berlebihan dalam menilai pasar. Atau terlalu tinggi dalam membanderol harga. Atau menyebut Anda tidak cermat memilih waktu peluncuran. Atau produk Anda disangka kurang fitur inilah atau itulah. Dan seterusnya … bla .. bla .. bla ..

Dan karena itulah Anda dan perusahaan Anda mungkin akan malu total! Tapi entah kenapa, di dunia ini, tampaknya Allah sudah mentakdirkan seseorang atau sekelompok orang untuk berani mengambil sebuah risiko besar. Sebuah risiko yang mungkin saja dapat membuat mereka kehilangan semuanya. Atau kalau tidak kehilangan semua, mungkin kehilangan sangat banyak dari apa yang sudah mereka miliki saat ini. Dan inilah yang dilakukan Steve Jobs beserta rekannya di Apple pada tahun 2007.

Steve Jobs berani mengambil risiko itu. Tentu saja, saat ia mengambil keputusan besar tersebut, Steve Jobs, keluarganya atau rekannya di Apple tidak mengetahui kalau Allah ta’ala sudah merencanakan sesuatu yang lebih besar dari itu pada tanggal 5 Oktober 2011….

Di dunia ini, kita hanya akan menjadi salah satu dari dua golongan ini; menjadi bagian dari sejarah atau hanya menulisinya.

“Wahai pengusaha muslim, adakah yang berani menulis ulang sejarah industri herbal kita?”

* Penulis adalah Sarjana Ilmu Komputer dari Universitas Gadjah Mada. Salah satu cita-citanya adalah ingin masuk surga dengan bantuan teknologi informasi.

Majalah PM