Pentingnya Maaf, Tolong, Dan Terima Kasih Untuk Pengusaha Muslim

Beberapa minggu yang lalu, tepatnya pada hari Jum’at, 8 Juni 2012, Pemkab Gorontalo kedatangan tamu agung. Di level nasional, ‘keagungan’ pejabat satu ini disimbolkan dengan plat mobil yang sangat menawan; RI 10. Singkat kata, level beliau hanya sembilan nomor di bawah RI 1. Tidak seperti plat nomor Si Permadani – nama kendaraan kesayangan saya – yang kebagian kode DM 2022 BU. Dari plat RI ke DM bukanlah jarak yang dekat tentunya. Jadi, ada di level manakah saya saat ini? Hehe, ini tidak penting. Lupakan saja.

Tamu agung yang saya maksud ini adalah Bapak Hadi Purnomo. Beliau adalah Kepala BPK RI. Saya berani menuliskan kata “agung” untuk beliau karena kedatangan beliau telah membuat beberapa PNS di lingkungan Pemkab Gorontalo menjadi sibuk. Ada yang sibuk menyiapkan kebersihan dan kerapian salah satu objek wisata yang hendak dikunjunginya. Dan ada pula yang sibuk menyiapkan masjid yang akan beliau gunakan sebagai tempat untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim di hari jum’at. Terus terang, tidak semua pejabat diperlakukan setinggi ini. Saya, berdasarkan surat perintah atasan, termasuk di golongan yang kedua. Masjid adalah wilayah kerja saya. 

Tujuan utama kedatangan RI 10 tempo hari di Bumi Sejuta Jagung tentu saja bukan untuk solat Jum’at. Beliau hadir untuk meresmikan gedung BPK RI perwakilan Gorontalo yang terletak di wilayah Kota, sekitar 30 – 40 menit dari masjid agung di kabupaten ini. Meskipun menarik, namun kita tidak akan membahas cerita soal peresmian itu di situs kita tercinta ini. Di sini, saya akan menyarikan sekelumit hikmah dari pidato beliau selepas pelaksanaan solat Jum’at di Masjid Agung Baiturrahman. 

Sebagai sarjana ilmu komputer dan pegawai negeri sipil di Dinas yang mengurusi masalah keuangan, sebenarnya saya agak kecewa karena awalnya saya mengharapkan beliau untuk bercerita soal keuangan daerah dan dinamikanya. Tapi kenyataan di lapangan justru berbeda. Selama beberapa menit berdiri, saya justru melihat beliau laksana khatib jum’at alih-alih kepala sebuah lembaga prestisius di negeri ini. “Nih Bapak jebolan Pondok Pesantren mana ya?” pikirku …. Pidatonya waktu itu singkat, tapi bagus. Tema pidatonya; maaf, tolong, dan terima kasih. Dan di sini, dengan gaya dan sudut pandang pribadi, saya mencoba menguraikan kembali sesuatu yang sudah mengudara sejak beberapa minggu lalu. Tentunya yang memiliki sangkut paut dengan mayoritas pembaca situs ini, yakni para pengusaha muslim. Bismillah …

1. Meminta Maaf

Bila Anda adalah seorang manusia yang punya kedudukan (ilmu, harta atau jabatan), meminta maaf bisa jadi adalah sesuatu yang sulit dan jarang sekali dilakukan. Kenapa? Karena Anda diperbolehkan untuk menyuruh secara langsung! Itu saja. Undang-Undang atau bahkan peraturan pemerintah sepertinya mendukung Anda untuk sedikit berlaku semena-mena. Berhubung Anda pandai, kaya dan berpangkat tinggi, secara normatif mungkin Anda diizinkan untuk “asal suruh”. Mau ini tinggal minta staf. Mau itu tinggal perintah bawahan. Capek berjalan, tinggal minta diantarkan, dan seterusnya. Di Jawa Anda adalah seorang raja. Di Cina, Anda akan disebut kaisar.

Di sinilah kata “maaf” mengambil perannya. Pemimpin atau manusia yang bagus adalah mereka yang tidak merasa keberatan untuk mengawali setiap perintah-perintahnya atau keinginannya kepada staf dengan kata maaf. Mereka sadar bahwa wewenang memberi perintah yang mereka miliki saat ini bukanlah sesuatu yang abadi. Karena boleh jadi, staf atau bawahan yang saat ini sering mereka perintah bisa saja akan menjadi atau diangkat untuk menjadi atasannya suatu hari nanti. Coba bayangkan ketika kita di sedang berada di bawah, pimpinan manakah yang lebih kita sukai? Pimpinan yang suka meminta maaf atau sebaliknya?

Bagi para pengusaha yang memiliki banyak bawahan, saya sarankan agar Anda sebaiknya mulai belajar untuk mempraktikkan pesan Bapak Hadi Purnomo selekas mungkin. Berhati-hatilah, meskipun Anda lah yang menggaji mereka, tapi boleh jadi suatu hari nanti bawahan Anda akan dikaruniai perusahaan yang nilainya jauh melampaui perusahaan yang pernah menggajinya.

2. Minta tolong

Bila sudah meminta maaf ketika hendak meminta pertolongan, maka jangan segan-segan untuk meneruskannya dengan kata “tolong”. Meskipun kedengarannya sangat remeh, namun perkataan ini juga tidak kalah penting dengan yang pertama tadi. Mengawali perintah Anda dengan kata “maaf” + “tolong” akan membuat Anda terlihat lebih berwibawa di mata bawahan Anda. Tapi Anda dipandang berwibawa bukan karena faktor ilmu, jabatan atau harta, tetapi lebih karena kemampuan Anda yang sudah membuat para bawahan tadi merasa juga tampak lebih berwibawa. Sesuatu yang sepertinya akan berumur lebih lama ketimbang tiga faktor yang disebut di awal.

3. Terima Kasih

Aha! Selamat, bawahan Anda sudah menyelesaikan tugas-tugasnya. Jangan segan untuk melepas ucapan pamungkas “terima kasih”. Bila hasil pekerjaannya di bawah standar, maka tetaplah mengucapkan terima kasih. Tapi ikuti juga dengan saran-saran positif yang bisa menutupi kekurangan-kekurangannya di kemudian hari. Misalnya begini, “Terima kasih atas pertolonganmu Doel, penjualan software kita setahun ini sepertinya memang mengalami penurunan. Tapi saya yakin, di tahun-tahun mendatang, omset dan profit perusahaan kita akan meningkat bila kamu bisa membujuk 50% sekolah swasta terfavorit di Jakarta untuk menggunakannya. Bagaimana? Mau mencobanya lagi?” Duh, bawahan mana yang tidak kesengsem sama bos seperti ini? Hasil pekerjaan dihargai, saran juga diberi, terus dikasih kesempatan lagi untuk membuktikan diri. Subhanallah. 

Tapi bagaimana kalau hasil pekerjaan sang bawahan sudah sesuai dengan standar. Ya justru malah harus tambah berterima kasih lagi. Tapi khusus pegawai yang berprestasi, ucapannya sebaiknya begini, “Terima kasih atas pertolonganmu Doel. Luar biasa. Penjualan software kita setahun ini sepertinya memang meningkat tajam. Tapi saya yakin, di tahun-tahun mendatang, omset dan profit perusahaan kita akan meningkat lebih tinggi bila kamu bisa membujuk UI, UGM, dan ITB untuk menggunakan software kita. Tapi itu untuk tahun ke depan. Besok, sebaiknya kamu berlibur dulu. Tiket dan akomodasi akan ditanggung perusahaan. Selamat ya.” Pada kalimat di atas, kita mendapati kata terima kasih, pujian, saran, juga bonus. Kalau sudah begini, saya prediksi sang bawahan akan tambah loyal juga meningkat semangat kerjanya. 

Penutup

Dimulai dengan minta maaf, diikuti dengan minta tolong, kemudian ditutup dengan terima kasih. It sounds really easy right? Kalau kedengarannya mudah, kenapa tidak kita coba bersama sekarang juga. Siapa tahu memang berfaedah. Insyaallah. Amin. Semoga berhasil.

Note:

Ceramah RI 10 sebenarnya tidak berbau bisnis. Jadi bila Anda membaca sesuatu yang berbau seperti itu di atas, maka itu datangnya dari saya sendiri. Saya meminta maaf atas inisiatif ini. Kepada Bapak Hadi Purnomo saya mengucapkan terima kasih atas inspirasinya di siang itu. Semoga bisa berjumpa lagi di lain kesempatan. Amin.

Btw, saat “khutbah” beliau selesai, para jamaah jum’at di masjid agung ternyata banyak juga yang mengerumuni beliau untuk berjabat tangan. Hahaha, saya jadi ingin tertawa sendiri gara-gara ini. Karena terus terang, hal ini adalah sesuatu yang biasa dilakukan oleh jamaah masjid agung Kabupaten Gorontalo bila hendak berpisah dengan para ulama atau penceramah terkenal, bukan dengan pejabat negara. Ada-ada saja ……