Sebagian Contoh Praktik Lemahnya Iman (bagian 2 – Selesai)

Lihat artikel sebelumnya bagian 1

c) Malas dalam beribadah dan ketaatan

Sifat malas terutama dalam beribadah adalah sifatnya orang munafik bukan sifatnya orang beriman.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا [النساء: 142]

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An Nisa: 142).

Apakah anda malas;

– Mendirikan shalat lima waktu tepat pada waktunya

– Mendirikan shalat lima waktu berjamaah bagi lelaki

– Mendirikan shalat berjamaah di shaf pertama

– Mendirikan shalat Jum’at tepat waktu

– Mengerjakan shalat qabliyyah dan ba’diyyah apa lagi shalat malam, shalat dhuha

– Membayar zakat tepat waktunya

– Berpuasa bulan Ramadhan

– Membaca Al Quran

– Menghadiri kajia-kajian Islam

– Dan lainnya dari ibadah yang disyariatkan dalam Islam.

Maka malas dalam hal-hal di atas adalah termasuk praktik lemahnya iman seorang beriman.

d) Tidak marah ketika hukum dan batasan Allah Ta’ala dilanggar apalagi sampai dilecehkan.

Ketika ada yang;

– Berbuat kesyirikan; membuat sesajen untuk pohon, laut atas semisalnya, meminta barokah dari orang yang sudah meninggal, memakai jimat/benda pusaka/keris pusaka, pergi ke dukun menanyakan sesuatu, menyembelih ketika membangun rumah, mempercayai ramalan bintang dan primbon, merasa sial ketika melihat atau mendengar sesuatu, menggantung jimat dirumah/ di toko/ di dalam diri, memakai susuk, memakai rajah-rajah, meminta pertolongan kepada jin dan sebagainya.

– Berbuat bidah; ibadah yang dikhususkan pada waktu tertentu, pada keadaan tertentu, pada jumlah bilangan tertentu, pada tempat tertentu, karena sebab tertentu yang tidak ada pengkhususan dan contoh atas semuanya ini dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

– Berbuat maksiat; berzina, mencuri, menganiya, menipu, membunuh, berdusta, wanita di luar rumahnya tidak menutup auratnya bahkan sampai memakai celana yang lebih pendek daripada celana amak SD, korupsi dan sebagianya.

Dan kita tidak mengingkari semuanya ini, walau hanya dengan hati…maka ini termasuk lemahnya iman.

عَنِ الْعُرْسِ بْنِ عَمِيرَةَ الْكِنْدِىِّ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِذَا عُمِلَتِ الْخَطِيئَةُ فِى الأَرْضِ كَانَ مَنْ شَهِدَهَا فَكَرِهَهَا ». وَقَالَ مَرَّةً « أَنْكَرَهَا ». « كَمَنْ غَابَ عَنْهَا وَمَنْ غَابَ عَنْهَا فَرَضِيَهَا كَانَ كَمَنْ شَهِدَهَا ».

Al ‘Urs bin Umairah Al Kindy radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika sebuah dosa dilakukan di bumi, maka siapa yang telah menyaksikannya lalu dia membencinya”, dan beliau juga berkata: ‘lalu dia mengingkarinya, sebagaimana orang ynag tidak menghadirinya dan barangsiapa yang meridhainya maka dia seperti orang yang menghadirinya.” (HR. Abu Daud dan dihasankan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 689).

e) Bakhil dan pelit serta kikir

Yang menjadi ukuran dalam harta bagi seorang muslim adalah bagaimana dia menjalankan harta tersebut di jalan Allah Ta’ala, bukan bagaimana mengumpulkan harta tersebut.

Dan tidak akan terkumpul keimanan dan sifat bakhil dan kikir dalam hati seorang mukmin.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (لَا يَجْتَمِعُ غُبَارٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَدُخَانُ جَهَنَّمَ فِي جَوْفِ عَبْدٍ وَلَا يَجْتَمِعُ الشُّحُّ وَالْإِيمَانُ فِي قَلْبِ عَبْدٍ أَبَدًا)

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan terkumpul debu dalam berjihad di jalan Allah dengan asap neraka jahannam di dalam mulut seorang hamba, dan tidak akan terkumpul sifat bakhil dan keimanan dalam hati seorang hamba selama-lamanya.” (HR. An Nasai dan Ahmad serta dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al jami’, no. 7616).

f) Mengerjakan maksiat ketika sendirian atau dalam kesunyian dan semisalnya.

Kawan pembaca…

Jagalah keadaan anda ketika sendirian sebagaimana anda menjaganya ketika di hadapan orang banyak…

Jagalah diri Anda dari dosa ketika sendirian sebagaimana Anda menjaganya ketika di hadapan khalayak ramai…

Hati-hatilah dari dosa-dosa yang dikerjakan sembunyi-sembunyi… sangat hati-hati!!!

ثَوْبَانَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ : « لأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا ». قَالَ ثَوْبَانُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لاَ نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لاَ نَعْلَمُ. قَالَ : « أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا ».

Tsauban radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh aku akan memberitahukan tentang orang-orang dari umatku yang akan datang dengan membawa pahala-pahala kebaikan laksana gunung-gunung Tihamah yang putih, tetapi Allah Azza wa Jalla menjadikannya sebagai debu yang berterbangan.” Tsauban radhiallahu ‘anhu berkata: “Wahai Rasulullah, sebutkan sifat mereka kepada kami, jelaskan mereka untuk kami agar kami tidak menjadi mereka dalam keadaan kami tidak sadar,” beliau bersabda, “Ketauhilah, sesungguhnya mereka adalah kawan kalian, dari bangsa kalian, dan beribadah pada malam hari sebagaimana kalian beribadah, akan tetapi mereka orang-orang yang jika menyendiri dengan hal-hal yang diharamkan Allah maka mereka mengerjakannya.” (HR. An Nasai dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, no. 505).

Kawan pembaca…

Semoga bermanfaaat…wallahu a’lam.

Ditulis oleh Ahmad Zainuddin
23 Shafar 1433H, Dammam KSA.

Artikel www.PengusahaMuslim.com