Android “robot Halus” Pendongkrak Pendapatan Google

Saya bersyukur kepada Allah karena sejak pertengahan Maret 2012 saya sering bangun pada pukul 03.00 atau 04.00. Allah membangunkan saya dengan cara unik. Saya bisa terjaga dari tidur bukan hanya karena mendengar suara nyaring H. Muammar ZA dari handphone baru saya. Tapi juga karena adanya  permintaan aplikasi Extreme Alarm Clock yang mengharuskan saya menyelesaikan soal matematika lebih dahulu sebelum menghentikan suara alarm itu. Soal matematikanya sebenarnya sangat mudah untuk diselesaikan oleh para pengusaha. Namun ceritanya menjadi berbeda kalau Anda harus menjawabnya saat mata dalam balutan mimpi dan tangan memeluk bantal. Di HP lama saya, LG KP 310,  saya hanya perlu menekan salah satu tombolnya untuk menghentikan suara alarm yang mengganggu, yang akan membuat saya tertidur kembali. Tapi sekarang tidak lagi bias begitu, karena saya harus benar-benar bangun dan mematikan alarm itu – kalau tidak, para tetangga akan terganggu.

ANDROID DAN ROBOT-ROBOT LAIN

Aplikasi tadi, Extreme Alarm Clock adalah salah satu contoh kecil dari ribuan kemungkinan manfaat yang bisa kita ambil dari Sistem Operasi Android yang tertanam di smartphone saya. Anda mungkin menduga, smartphone ini pasti harganya mahal laiknya BlackBerry atau iPhone. Padahal sebaliknya. Ponsel cerdas yang saya maksud adalah Nexian tipe Journey A-891. Harganya? Rp 769.000! This is unbelievable. Saya menggunakan istilah unbelievable karena beberapa tahun lalu, sebelum Android lahir dan mewabah, yang disebut ponsel cerdas adalah sekelas Nokia N Series berbasis Symbian yang biasanya dibanderol Rp 3.000.000 sampai di atas Rp 5.000.000. Atau BlackBerry dengan harga yang tidak jauh berbeda. Atau iPhone dengan iOS-nya yang biasanya harganya jauh lebih tinggi lagi.

robot android

Selain harga, salah satu faktor penting pembeda smartphone dengan ponsel di bawahnya – biasa disebut feature phone, adalah dari sisi kelengkapan hardware dan software yang hampir menyerupai komputer atau laptop umumnya. Dari sisi perangkat keras, kecepatan pemrosesan alias clock prosesor smartphone dianggap menyamai saudara tuanya di PC. Begitu pula dengan besaran internal memori dan media penyimpanannya. Untuk urusan perangkat lunak, smartphone juga memiliki arsitektur yang menyerupai PC pada umumnya. Yakni adanya sistem operasi yang menjadi landasan bagi aplikasi-aplikasi lain supaya bisa difungsikan di dalamnya. Dan di sisi inilah Android bertugas sebagai sistem operasi.

Sesuatu yang disebut-sebut pembeda utama antara smartphone dan feature phone.

Dan itu pun masuk akal. Bayangkan saja iPhone atau BlackBerry. Saat ini sudah banyak sekali vendor yang bisa membuat gadget serupa dengan spesifikasi hardware yang mampu menyamai, bahkan melebihi kedua merk ponsel terkenal tersebut. Tapi tetap saja ponsel apa pun tidak mungkin layak disebut iPhone atau BlackBerry bila tidak menyertakan iOS atau BlackBerry OS di dalamnya. Dan hal yang sama juga berlaku untuk ponsel berbasis Android. 

TAPI KENAPA SMARTPHONE ANDROID BISA MURAH?

Tapi meskipun serupa, namun tetap ada satu hal yang membuat Android berbeda dari kebanyakan sistem operasi lainnya. Entah itu iOS, BlackBerry OS, atau Windows Phone 7. Anda mungkin akan terkejut mendengar ini: Android adalah barang gratisan! Sttttt … Jangan beri tahu siapa-siapa, ya. Dengan kata lain, vendor-vendor ponsel seperti Samsung, Motorola, LG, Sony, HTC, atau bahkan Huawei, Nexian, Mito bisa dengan nikmatnya membenamkan sistem operasi canggih itu ke dalam ponsel produksi masing-masing tanpa harus membayar sepeser pun biaya lisensi kepada Google atau perusahan yang tergabung dalam Open Handset Alliance – sebuah konsorsium yang terdiri atas 86 perusahaan yang turut mendukung pengembangan Android. Itulah salah satu alasan utama kenapa harga ponsel-ponsel berbasis Android – yang sudah diakui kecanggihannya, bisa dilepas dengan harga agak sedikit “mencekam”. Yakni sampai di bawah Rp 1.000.000. Jadi, ketika menjual ponsel berbasis Android, para vendor hanya perlu memikirkan biaya pembelian hardware yang harus diganti para konsumennya. Tidak perlu lagi memusingkan biaya perangkat lunaknya. Untuk lebih mudahnya Anda bisa menganalogikan kasus ini dengan mencoloknya perbedaan harga antara laptop baru yang sudah terinstal sistem operasi Windows 7 dan laptop yang hanya terinstal Ubuntu atau tanpa sistem operasi sama sekali. Beda bukan?

LALU APA UNTUNGNYA BUAT GOOGLE?

Sebagai perusahaan, tentu Google menginginkan keuntungan dari setiap produknya. Tidak terkecuali dari Android. Tapi pertanyaannya, bagaimana cara Google mengambil untung kalau Android saja bisa dipakai sebebas-bebasnya tanpa sesen pun? Ada dua cara. Pertama, dari semua iklan yang muncul di aplikasi-aplikasi Android milik penggunanya. Dan kedua, dari sistem bagi hasil untuk setiap terjualnya aplikasi berbayar di Google Play (dahulu dikenal dengan sebutan Android Market). Dan keuntungan dari keduanya pun tampaknya cukup prospektif dan menggiurkan.

Data sampai Februari 2012 menunjukkan ada sekitar 300 juta unit ponsel berbasis Android di seluruh dunia. Bila Anda adalah pemasang iklan. Coba bayangkan, surat kabar, majalah atau stasiun televisi seperti apa yang bisa menyamai “tingkat keterbacaan” Android milik Google. Kalau Anda normal, Anda tidak dilarang untuk sedikit menggeleng-gelengkan kepala sejenak. Kabar baik berikutnya, saat ini sudah ada sekitar 450.000 aplikasi di Google Play (tempat untuk mengunduh aplikasi Android milik Google) dengan frekuensi download mencapai 10 miliar kali. Dari ekosistem di Google Play, yang diprediksi akan terus tumbuh pesat di tahun-tahun mendatang, Google meraih pendapatan dari dua tahapan. Pendapatan pertama masuk ketika ada developer yang mendaftarkan aplikasinya di sana. Sedangkan pendapatan kedua datang setiap kali ada aplikasi berbayar di sana yang terjual. Sekian persen  keuntungan untuk Google, sementara selebihnya akan dinikmati developer aplikasi itu sendiri.What a  wonderful business!

QURAN ANDROID

Pada 24 Maret 2012, di salah satu rumah di Kelurahan Bongohulawa, saya mengikuti pengajian rutin  yang diselenggarakan teman-teman kantor. Ada yang berbeda pada malam itu. Keempat teman saya masih menggunakan Al-Quran cetak alias printed edition, sementara saya asyik membaca ayat demi ayat yang persis sama melalui aplikasi dengan nama Quran Android. Aplikasi yang dibuat Ahmed El-Helw dan rekan-rekannya ini tampil sangat memukau di monitor ponsel saya yang berukuran 3,2 inci. Dan  jangan lupa juga, aplikasi yang berlisensi open source ini saya unduh gratis dari Google Play.

MasyaAllah, ini baru HP cerdas.

Sumber: Majalah PengusahaMuslim

Artikel www.PengusahaMuslim.com