5 Alasan Anda Sebaiknya Jadi Anggota Milis Pengusaha Muslim (bagian 1)

Sewaktu mendaftar di milis pengusaha muslim, terus terang motivasi saya tidak banyak; saya hanya ingin membaca konten yang ada di dalam milis. Ikut nimbrung? Entahlah, sedari dulu saya kurang menyukai format komunikasi via milis. Kesannya tidak beraturan dan tumpang tindih. Apalagi kalau melihat tulisan yang sliweran, duh, rasanya pusing. Maklum, di milis memang ada moderator, tapi tentu saja tidak ada editor. Dan fungsi keduanya memang sangat berbeda. TAPI ……. ITU DULU KOK …., sekarang saya malah berpendapat sebaliknya. Anda tahu kenapa?

majalah pengusaha muslim 

Setelah dipikir-pikir, ketidaksukaan saya terhadap milis – semua milis termasuk pengusaha muslim – sepertinya lebih karena masalah teknis. Selama ini, saya selalu menggunakan PC dan laptop untuk mengakses konten milis yang masuk ke inbox saya. Dengan lebarnya layar dan bentuk yang terlalu sukar untuk dibawa-bawa, saya biasanya cenderung memberi level prioritas yang tidak terlalu tinggi untuk milis. Jadi meskipun arus informasi yang mengalir dari milis deras, namun saya tampaknya tidak terlalu menghiraukannya. Hal ini berkebalikan dengan situs, blog, atau jejaring sosial di luar sana yang saya anggap didesain dan dikelola dengan tampilan dan materi konten yang lebih wah dan sesuai dengan selera saya. Walau tidak semuanya tentu saja.

Mulai jatuh hati

Situasi beranjak berubah ketika ponsel Android ada digenggaman. Kemampuan ponsel untuk menampung email melalui koneksi nirkabel membuka kesempatan kepada saya untuk menikmati hiruk-pikuk yang ada di dalamnya. Saya memang tidak serta merta membaca setiap pesan yang masuk ke inbox saya, tapi setidaknya, kapan saja ada waktu luang, biasanya saya sering menyempatkan diri untuk mengecek kabar dan uneg-uneg yang sudah tumpah ruah di sana. Walhasil, sesuatu yang dulunya saya kurang sukai, justru menjadi sebaliknya saat ini. Dan kalau dipikir-pikir, ada lima alasan yang membuat saya sampai jadi begini. Berikut yang pertama:

1. Kisah Nyata para member milis pengusaha muslim

Di dalam milis PM, ada begitu banyak tipe pengusaha. Ada yang sukanya menjual barang, ada juga yang menawarkan jasa. Ada yang hobi berdagang pangan, ada juga yang suka menjual sandang. Dan uniknya, apapun tipenya, ternyata semuanya punya kesamaan; mereka punya kisah masing-masing. Dan percayalah, tidak semuanya berakhir bahagia. Well, setidaknya sampai tulisan ini dibuat.

Kisah di situs PM vs Kisah di web PM

Ketika membaca web pengusaha muslim, cerita-cerita inspiratif yang ada di sini mungkin akan selalu berakhir dengan tulisan “happy ending”. Cerita tentang Bill Gate termasuk happy ending, Bubur jezz juga demikian, terus ada lagi santri yang jadi juragan roti juga tidak jauh-jauh nasibnya, “berakhir bahagia”. Itulah situs kita; pengusaha muslim. Tapi kalau di milis tidak. Beberapa di antara anggota milis sepertinya ada yang masih berjibaku dengan kesulitan di sana-sini. Dan ini adalah kisah nyata. Bukan kabar bohong. Bukan gosip. True story.

Bila membaca kisah yang ada di situs PM bisa memberi Anda semangat maka membaca kisah yang ada di milis PM harusnya membuat semangat tadi justru akan menderu kembali. Bagaimana kita tidak bersemangat ketika membaca kisah seorang member yang sampai hari ini belum berhasil membangun bisnis tokonya di daerah Jawa Barat. Padahal ada salah satu anggota keluarganya yang harus sering dioperasi karena mengalami gangguan pencernaan. Dan yang akan membuat kita tambah bersemangat sekaligus haru adalah karena sang member ini ternyata dahulunya merupakan pegawai perusahaan pembuat rokok terbesar di Indonesia yang kemudian memutuskan keluar gara-gara meyakini bahwa rokok adalah sesuatu yang tidak halal untuk dijaga apalagi dijual. Subhanallah … allahuakbar. You can’t find this story in Inc. or even Harvard Business Review. Only in Pengusaha Muslim. Nomor satu adalah Allah, yang lain nanti saja. 

Jujur saja, cerita seperti di atas memang sangat cocok untuk milis, semua serba apa adanya. Berbeda dengan kisah-kisah para pengusaha yang ada di situs PM yang memang “diharuskan” untuk sukses dulu bila hendak diprofilkan. Dengan kata lain, jika kisah tersebut ingin diterbitkan di situs PM, maka sang bapak terpaksa harus sukses dulu. Hmmmm, selamat berjuang pak!

Btw, masih ada beberapa lagi faktor yang mungkin akan menyebabkan Anda langsung ingin mencebur ke kolam  milis pengusaha muslim. Tapi harap sabar ya, tunggu di kesempatan berikutnya. Insyaallah.

To be continued ….