Meneladani Cara Kerja Seorang Cleaning Service Bernama Ci’i (bagian 4)

Di bagian ketiga tulisan tentang Ci’i, saya sempat menyebut Ci’i sebagai sesosok “hidden hero” alias pahlawan tersembunyi. Nah, di kesempatan kali ini, saya akan menjelaskan asal muasal datangnya istilah tersebut.

Once upon a time in Gorontalo …. 2011 ….

Hari rabu kali ini cerah sekali. Beautiful. Matahari hanya ditemani awan putih yang sesekali membuat salah satu provinsi di utara Sulawesi ini tampak seperti akan kedatangan hujan. Tapi hari itu tidak ada air yang jatuh dari langit. Jadi semuanya harusnya akan berjalan sesuai rencana. Benarkah?

Rencana para pegawai DPPKAD hari ini adalah mengunjungi kantor perwakilan BPK-RI (Badan Pemeriksa Keuangan-Republik Indonesia) yang bertempat di kawasan Kota Gorontalo. Bila kita menggunakan mobil atau motor, kantor yang baru selesai dibangun dan ditempati oleh para auditor-auditor negara itu harusnya bisa dicapai hanya dalam waktu setengah jam saja. Tidak lebih. Waktu itu saya kebetulan naik mobil dinas bernopol DM 36 B bersama sang pemilik, Yusran Lapananda beserta supirnya, Umar Ibrahim. Dan kami sampai dengan selamat tanpa hambatan. Alhamdulillah …

Di sana sudah ramai manusia dengan seragam berwarna khaky. Tidak hanya pegawai DPPKAD yang ada di sana, para pejabat teras di lingkungan Pemda Kabupaten Gorontalo tampak sudah mengisi ruang-ruang di gedung BPK-RI yang megah ini. Suasanya ramai, tapi tidak seperti pasar. Berkumpulnya para birokrat memang tidak sama dengan berkumpulnya para pegadang dan pembeli di pasar tradisional. Agak riuh memang, tapi masih dalam batas kewajaran. Maklum, Pak Bupati juga akan hadir di tempat yang sama. Di lingkungan Pemda, hadirnya orang nomor satu di daerah tersebut bisa menjadi sinyal untuk mengetahui nilai sebuah acara. Dan di hari yang cerah ini, beliau hadir. Seharusnya itu bisa menjelaskan semuanya.

Sebelum adzan zuhur berkumandang, kami sudah sampai. Sejenak aku hanya bisa mengagumi kemegahan Kantor BPK-RI ini. Dilihat dari luar, bangunannya benar-benar mengingatkanku dengan gedung-gedung yang ada di ibu kota sana, tinggi dan berlapis kaca dengan taman yang asri meski tidak rimbun. Masuk ke dalam hati saya lebih lebih kagum lagi. Interiornya terkesan modern dengan kebersihan yang luar biasa. Kalau boleh menebak, saya curiga jangan-jangan Ci’i akan lebih cenderung untuk membersihkan gedung ini ketimbang kantor DPPKAD. Mungkin saja … heheheh …

Hal lain yang membuatku terkesan dengan BPK adalah tata tertibnya dalam berpakaian. Saya salut karena lembaga negara ini pun ternyata memberikan contoh penggunaan kerudung yang dibolehkan dan yang tidak melalui semacam poster tegak. Di poster visual itu, gambar perempuan berkerudung yang lehernya masih kelihatan diberi tanda coreng sebagai simbol larangan. “Subhanallah, tahu agama juga nih BPK,” hatiku menggumam begitu. Hehehehe …

Gelisah

Sebenarnya rasa kekagumanku terhadap fisik bangunan ini bercampur aduk dengan kegelisahan terhadap hasil penilaian yang akan kami peroleh dari BPK atas Laporan Keuangan Tahun 2010 yang sudah tersusun. Mungkinkah kami akan mempertahankan opini WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) lagi? Atau justru sebaliknya, turun gunung menjadi pemkab dengan laporan keuangan berstatus WDP (Wajar Dengan Pengecualian) atau Disclaimer. Di Pemkab Gorontalo, meraih opini WTP dari BPK seperti sudah menjadi harga mati alias sesuatu yang tidak bisa ditawar. 

Demi opini ini, terkadang semua pegawai DPPKAD harus bekerja di luar jam normal untuk menjawab semua temuan BPK yang bisa mempengaruhi hasil penilaian. Saya dan teman-teman di kantor tentunya termasuk di dalamnya. Bila ada data yang salah atau kurang akan segera dipenuhi. Bila ada uang daerah yang dirasa belum dikembalikan oleh para pegawai, maka uang itu harus diuber sedapat-dapatnya. Atau bila ada uang milik pegawai atau institusi yang dirasa sudah salah masuk ke kas daerah maka itu juga harus dikembalikan. Dan kalau ada laporan yang dianggap belum memenuhi format laporan standar BPK, maka kami harus dengan senang hati mengusahakannya, walau itu sama saja dengan “bekerja dari awal” alias “from scrath”. 

Hasilnya?

Kami berhasil. Akhirnya BPK-RI menganugerahi Pemkab Gorontalo opini WTP untuk kedua kalinya secara berturut-turut. Dan ini penting sekali. Tidak hanya untuk sebuah penghargaan tetapi lebih kepada imbas dari opini ini sendiri. Dengan opini WTP, Pemkab Gorontalo biasanya akan diberi kemudahan untuk mengakses dana dari pusat. Tidak tanggung-tanggung, insentif untuk pemkab yang bisa memperoleh opini ini bisa mencapai puluhan miliar. Dana ini tentunya sangat dibutuhkan oleh pemda untuk mendanai operasional pemerintahan sekaligus kesejahteraan rakyat dan pegawainya. Dengan dana insentif ini, biasanya anggaran untuk program-program penting seperti pendidikan dan pembangunan sarana dan prasana bisa dinaikkan pagunya. Tambahan kenaikan untuk gaji guru yang jumlahnya mencapai empat ribuan serta perbaikan jalan maupun sekolah-sekolah adalah contoh konkritnya. (Wah, jadi PNS itu ternyata ada gunanya juga ya?)
Semua pegawai DPPKAD dan segenap birokrat di lingkungan pemda turut bersuka cita atas hasil ini. Musnah sudah semua lelah dan letih gara-gara lembur beberapa hari dan minggu yang lalu. Hari ini cuma senyum dan tawa. Saya sendiri turut merayakannya dengan mengambil motor baru di salah satu dealer di Kabupaten. Everybody is happy …. tapi …. bagaimana dengan Ci’i di kantor yang tidak ikut ke kantor BPK?
To be continued (Ci’i yang spesial)