Meneladani Cara Kerja Seorang Cleaning Service Bernama Ci’i (bagian 1)

 

Cleaning Service

Di situs pengusaha muslim, saya biasanya sering menyuguhkan kisah para pengusaha sukses untuk diambil hikmah dan ilmu darinya. Tapi kali ini, saya akan berusaha untuk menyuguhkan sebuah cerita tentang tenaga waker alias cleaning service di tempat saya bekerja yang dedikasi dan cara kerjanya mungkin bisa diteladani oleh kita semua. Hmmmm …. Anda pikir saya bercanda bukan? Kalau begitu saya tantang Anda untuk menghabiskan artikel ini. 

Sedikit deskripsi Tentang Ci’i

Di kantor saya, ada seorang petugas kebersihan alias tenaga waker alias cleaning service yang sangat berjasa bagi kami semua. Panggilannya sangat eksentrik; ci’i. Nama kecil yang sangat singkat dan terdengar aneh untuk saya yang merantau dari sumatera dan jawa. Ci’i adalah seorang perempuan Gorontalo asli dengan tinggi badan sekitar 150an cm. Rambutnya ikal dengan kulit cokelat yang biasanya dikucir. Dari segi penampilan, wanita yang berusia sekitar 40 – 50an tahun ini mungkin bukanlah seorang yang bisa membuat Anda semua akan terpukau laksana Zulaikha yang pernah merinding ketika melihat Nabi Yusuf. Noupe! Karena memukau orang dengan penampilan sepertinya bukanlah tugas Ci’i. Tapi dengan hasil kerjanya! Itulah tugas utama tenaga kebersihan yang dimiliki oleh Dinas PPKAD Kabupaten Gorontalo ini. 

Tantangan buat Ci’i

Setiap hari, Ci’i mulai bekerja pada pukul 5 pagi atau bisa saja sedikit kurang atau lebih pagi ketimbang itu. Tapi kapanpun itu, yang pasti Ci’i biasanya sudah terlihat beraksi dengan segenap peralatan kerjanya di waktu subuh. Sebuah waktu yang sangat sempurna untuk memulai kerja bagi siapa saja. Entah itu Presiden, Wakil Presiden, Penulis, Pengusaha, Olahragawan, Programmer, Pedagang, dan tidak terkecuali untuk seorang waker seperti beliau. 

Di waktu subuh ini, Ci’i sudah disuguhi kewajiban yang menantang. Sebuah kantor sudah menunggu untuk dibersihkan dan dirapikan. DPPKAD (Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan, dan Aset Daerah) adalah salah satu SKPD (satuan kerja perangkat daerah) tersibuk dari puluhan SKPD yang ada di kabupaten ini. Kantornya berupa bangunan dua lantai yang dihuni oleh sekitar 70an orang pegawai yang dibagi ke dalam lima bidang. Dua bidang di lantai satu. Dan tiga selebihnya bercokol di lantai satunya.  

Berhubung DPPKAD bertugas untuk melayani arus masuk-keluarnya uang milik pemda, kantor ini jadi terlihat ramai dan sibuk setiap harinya. Pada waktu-waktu tertentu, seperti awal dan akhir bulan, intensitas pengunjung kantor ini akan semakin tinggi. Biasanya mereka yang datang ke kantor DPPKAD adalah para PNS/tenaga honorer yang berstatus sebagai bendahara pengeluaran/penerimaan dan atau operator aplikasi keuangan daerah yang ditugasi khusus untuk mengurus teknis pengambilan/penyerahan uang dari atau ke kas daerah. 

Para pengunjung kantor DPPKAD inilah – yang tidak bisa saya prediksi berapa jumlahnya per hari – yang akan menjadi challenger alias “penantang” bagi Ci’i dalam membersihkan kantor kami. Dan jangan lupa juga, tujuh puluhan pegawai DPPKAD sendiri. Dengan tingkah laku dan polanya masing-masing …… Ada yang begini dan ada yang begitu. 

Biar saya perjelas kalimat terakhir tadi. Ada yang mungkin buang puntung rokok sembarangan. Ada yang mungkin sengaja meninggalkan puntung rokoknya di tangga tapi lupa mengambilnya lagi setelah urusannya selesai – atau gengsi kali ya. Ada yang buang bungkus permen. Sembarangan buang tissue di lantai. Menyebar abu rokoknya di atas meja kerja dan kursi. Meninggalkan cup kemasan air mineralnya. Hmmm .. apalagi ya? Oh ya, piring dan gelas kotor yang bisa mengundang semut atau tikus bila tidak segera dicuci. Plus lantai kotor yang terkena kotoran alas kaki para pegawai. Baik itu kotor karena bekas tanah, bekas lumpur, atau bekas rumput. Lengkap sudah.

To be continued …..  (Bagaimana ci’i bekerja?)