Apa Yang Anda Bela?

Oleh:  Fauzi Rachmanto*

Apa yang Anda Bela? Anda melakukan bisnis sebenarnya hendak membela apa? Kelihatannya sebuah pertanyaan mudah. Namun jika Anda adalah pelaku usaha, saya yakin saat ini kening Anda langsung berkerut.

Berbeda dengan saat perjuangan kemerdekaan dulu. Seandainya kita sampaikan pertanyaan “apa yang Anda bela?” ke para pejuang kemerdekaan, jawaban mereka akan seragam: Kemerdekaan. Bahkan lebih tegas lagi, mereka menyatakan pilihan: “Merdeka atau Mati”. Makanya tidak heran, demikian dahsyat daya juang mereka. Karena jelas apa yang dibela.

Ternyata para pelaku usaha yang sudah sangat sukses di tingkat dunia juga memiliki sesuatu yang dibela. Sebuah jaringan Kedai Kopi yang memiliki ribuan Kedai di seluruh dunia, pernah suatu ketika menghadapi sebuah dilemma. Ketika Sang Pendiri Kedai tersebut memutuskan mundur dari jabatan puncak dan menyerahkan kepada professional, perusahaan kemudian tumbuh pesat. Dalam waktu 5 tahun, jumlah kedai naik tiga kali lipat menjadi sekitar 15 ribu Kedai di seluruh dunia. Namun, ternyata kemajuan dari segi jumlah Kedai dan omzet, perlahan diikuti dengan penurunan kunjungan pelanggan dan nilai saham perusahaan di bursa. Sang Pendiri segera mencari tahu penyebabnya, dan dia sampai pada sebuah kesimpulan bahwa upaya untuk tumbuh telah melupakan alasan mengapa dulu ia mendirikan Jaringan Kedai Kopi tersebut, yaitu: “Memberi inspirasi bagi jiwa manusia”. Inilah yang ingin dibela melalui usaha nya.

Sekilas tidak ada hubungan antara “memberi inspirasi” dengan bisnis Kopi. Namun ternyata inilah yang selama ini menjiwai seluruh aktivitas di Kedai-kedai yang ia bangun. Sehingga keseluruhan pengalaman minum Kopi tidak lagi sekedar transaksi jual-beli namun adalah pengalaman yang membangkitkan inspirasi bagi pelanggannya.

Sebuah perusahaan yang sangat berhasil dalam melakukan penjualan Sepatu melalui jaringan internet juga menyatakan bahwa mereka memiliki sesuatu untuk dibela. Jangan salah, meskipun “hanya” berjualan sepatu melalui internet, mereka berhasil membukukan penjualan hingga 1 Milyar Dollar AS per tahun. Dan ternyata alasan kehadiran mereka di dunia ini bukanlah untuk berjualan sepatu, tapi untuk “memberikan kebahagiaan” kepada pelanggannya. Mereka ingin saat pelanggan menerima pengiriman sepatu mereka adalah saat paling membahagiakan dan berkesan. Mereka ingin pelanggan mengalami “Wow” ketika membuka kiriman sepatu mereka. Sekilas tidak berhubungan langsung dengan produk yang mereka jual, namun inilah yang menjadi tenaga pendorong kesuksesan mereka. Membeli sepatu bukan lagi sekedar membayar dan menerima sepatu, namun menjadi pengalaman yang berkesan. Pengalaman ini yang ingin dibela.

Pendiri perusahaan-perusahaan yang sangat sukses tadi ketika ditanya “Apa yang Anda bela?” akan menjawab dengan sangat jelas dan gamblang. Tapi apakah hal ini penting untuk usaha yang tingkatnya usaha kecil dan menengah? Ya, kita juga harus menemukan “apa yang kita bela” jika ingin usaha kita menguntungkan dan berkesinambungan. Paling tidak ada tiga manfaat dengan menemukan dan mendefinisikan apa yang ingin Anda bela melalui bisnis.

Pertama, Menjadi Inspirasi Seluruh Aktivitas Usaha

Apa yang kita bela akan menjadi inspirasi bagi seluruh aktivitas organisasi usaha kita. Tidak hanya aktivitas penjualan yang langsung berhubungan dengan pelanggan, namun juga seluruh aktivitas, yang dimulai dengan bagaimana produk akan dibuat. Misalnya perusahaan yang membela “inovasi”, maka dalam menciptakan produk akan menjadikan inovasi sebagai “nyawa”. Mereka tidak akan menghasilkan produk yang biasa-biasa atau mengekor produk yang sudah ada, namun mereka berani menciptakan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya, atau mendefinisikan kembali sesuatu yang sudah ada.

Tidak hanya dalam penciptaan produk. Di area lain dari organisasi usaha, maka inovasi akan menjadi tema, karena sudah menjadi sesuatu yang dibela bersama. Cara melakukan penjualan juga akan dilakukan dengan cara-cara baru dan setiap individu selalu berupaya menciptakan terobosan.

Sebagai contoh, sebuah perusahaan Perawatan Tubuh terkemuka yang memiliki jaringan global, oleh Pendirinya ditetapkan sebagai kendaraan baginya untuk mengupayakan perubahan positif bagi lingkungan hidup dan sosial. Karena nilai ini sudah menjelma menjadi sesuatu yang dibela, maka dari pemilihan bahan, cara produksi, hingga penjualan selalu terinspirasi untuk mengedepankan kepedulian sosial dan lingkungan.

Kedua, Menjadi Merk yang Hidup dan Nyata

Sebuah merk dagang tidak sekedar nama. Namun citra yang melekat pada merek tersebut merupakan sebuah janji kepada pelanggannya. Sebuah merk tidak sekedar kata atau istilah, namun mewakili totalitas pengalaman dan nilai yang diharapkan akan diterima oleh pelanggan. Karenanya apa yang kita bela melalui usaha kita, akan melekat erat degan merk yang kita gunakan.

Mesin pencari yang paling banyak digunakan di internet saat ini, memiliki merk kuat yang mudah diingat orang. Dan ini diperkokoh dengan alasan kehadiran mereka di dunia yang mereka deklarasikan sebagai: mengorganisasi informasi dunia supaya mudah diakses secara universal. Dan mereka harus membuktikan janji tersebut menjadi pengalaman nyata yang dialami pengguna jasa mereka.

Hari ini apabila kita menggunakan mesin pencari tersebut di internet, maka kita akan mengalami kemudahan struktur informasi yang disajikan, kemudahan akses dari berbagai perangkat, dengan layar yang sangat sederhana. Apa yang mereka bela, mewujud dalam sebuah merk yang secara nyata dan hidup dapat kita alami.

Ketiga, Sebagai Perekat Pemangku Kepentingan.

Sebuah bisnis pada dasarnya memperjuangkan kepentingan para pemangku kepentingan: Pemilik usaha, Pelanggan, Karyawan, Mitra usaha dan Masyarakat. Dengan menyatakan “apa yang kita bela” maka para pemangku kepentingan dengan jelas dapat menentukan sikap, apakah apa yang ingin dibela oleh usaha tersebut sesuai dengan nilai yang mereka anut atau tidak. Jika sesuai, atau bahkan ternyata pemangku kepentingan membela hal yang sama, maka akan tercipta daya rekat yang luar biasa kokoh.

Ketika salah satu Negara tetangga kita berkomitmen untuk menguasai industri otomotif dalam negeri mereka dengan produk lokal, maka sangat jelas apa yang ingin mereka bela. Yaitu kemandirian dalam menciptakan produk otomotif. Pemerintah, masyarakat, pelanggan, supplier, karyawan, agen penjualan, dan pemilik perusahaan membela hal yang sama. Sehingga jatuh bangun proses membangun kemandirian tersebut dijalani sama-sama tanpa menggoyahkan tujuan akhir yang ingin dibela. Dan hari ini mereka berhasil menjadi produsen dan eksportir kendaraan yang mereka bangun.

Perusahaan yang membela sekedar profit, paling jauh hanya akan mendapat profit. Yang terbukti sangat rentan. Hari ini bisa besar, besok bisa kurang, lain waktu bahkan bisa minus. Namun, apabila usaha Anda memiliki sesuatu yang lebih besar untuk dibela, maka naik turun dalam proses membangun usaha adalah sesuatu yang tidak akan membuat gentar. Karena hanyalah bagian kecil dari perjuangan besar untuk mewujudkan yang kita bela.

* Beliau Aktif sebagai  Wirausahawan, Penulis, Inspirator Bisnis, Leadership Coach, “Greatness Activator”, berdomisili di Bandung. Alamat situs http://fauzirachmanto.com/

Publish ulang www.PengusahaMuslim.com