Tipping Point: Bisakah Kita Mengubah Dunia Dengan Sesuatu Yang Kecil? (bagian 1)

tipping point

Di dalam buku pertama yang melejitkan namanya ini, Malcolm Gladwell bercerita tentang banyak hal dengan satu kesimpulan manis; bahwa ternyata manusia atau sekelompok kecil manusia sebenarnya bisa mengubah dunia hanya dengan melakukan sebuah perubahan kecil. “Ah masa’?” begitu mungkin gumam Anda. Apakah Gladwell tukang kibul? Simak saja tulisan kali ini.

Intro

Sabtu Pagi di atas sofa rumah dinas nomor 5 di kompleks perumahan eks DPRD desa huidu, tepat pada tanggal 4 Februari 2012 pukul 7:36 AM WITA, akhirnya Allah mengizinkan saya melahap semua cerita dalam buku Tipping Point karya Malcolm Gladwell yang terkenal itu. Sebuah buku yang mengantarkan penulisnya ke dalam deretan penulis-penulis non fiksi top yang mampu mendunia seperti Tom Peters, Seth Godin, atau bahkan Ibnu Sina (di eranya tentu saja). 

Buku setebal 320 halaman ini sendiri berhasil saya dapatkan ketika berada di Gramedia Kota Semarang. Waktu itu saya membelinya bersama ketiga buku Gladwell lain, yakni Blink, Outliers, dan What The Dog Saw dengan harga kurang dari 200 ribu rupiah. Dua buku pertama yang saya sebut sudah saya review di situs kita tercinta ini. Sementara buku terakhir insyaallah juga akan saya review setelah saya membagi kisah-kisah menarik dalam Tipping Point di kesempatan kali ini. Dan inilah yang pertama.

Paul Revere vs William Dawes

Kalau Anda belum pernah membaca buku Tipping Point, maka saya menduga bahwa Anda juga mungkin tidak tahu tentang siapa dua orang yang disebut di atas. Baik Paul Revere maupun William Dawes sebenarnya adalah lakon dalam kisah nyata perjuangan kemerdekaan Amerika Serikat saat menghadapi penjajahan Inggris. Keduanya “bertugas” untuk menyebarkan sebuah berita penting kepada segenap milisi pro kemerdekaan bahwa besok – 19 April 1775 – akan ada penyerbuan oleh serdadu Inggris ke kantong-kantong senjata dan amunisi milik pejuang kemerdekaan. Paul Revere menyebarkan beritanya ke Kota Charlestown, Medford, North Cambridge, dan Menotomy. Sementara William Dawes melakukan hal yang sama untuk kota-kota di sebelah barat Boston, seperti Roxbury, Brookline, Watertown, termasuk Waltham.

Hasilnya? Sayang sungguh sayang, akhir cerita untuk William Dawes ternyata tidak semanis Paul Revere. Paul berhasil menunaikan tugasnya, sementara William malah sebaliknya. Gara-gara Paul Revere, Koloni Amerika bisa menggagalkan rencana Inggris. Di daerah yang disinggahinya, kabar dari Paul tidak berakhir percuma. Banyak milisi kemerdekaan setempat yang akhirnya segera bertindak dan menyiapkan rencana untuk mencegah aksi serdadu Inggris. Tidak hanya itu, kabar-kabar yang menyebar dari daerah-daerah yang disinggahi oleh Paul pun juga bisa merembet ke daerah-daerah lain yang tidak sempat dikunjunginya. Sementara William, walaupun sudah berhasil melakukan apa yang sudah ditunaikan oleh Paul di kota-kota tujuan, tetap tidak mampu menghasilkan efek yang harusnya bisa mengarah pada kemenangan untuk bala tentara koloni Amerika. 

Ada apa dengan Paul dan William?

Dari pengantar ini, langsung timbul pertanyaan, “Ada dua orang yang melakukan hal yang sama persis, tetapi kenapa hasilnya berbeda?” Kenapa bisa sampai begitu? Bukankah materi berita yang disampaikan oleh William dan Paul adalah sama? Bukankah keduanya juga berjenis kelamin sama? Dan bukankah keduanya juga menempuh perjalanan dengan jarak yang hampir sama? Lalu Apa yang membuat Paul berhasil sedangkan William gagal? 

Usut punya usut, ternyata yang membuat perbedaan adalah latar belakang keduanya. Paul Revere dan William Dawes adalah dua orang pria dengan kebiasaan sosial berbeda. Sehari-harinya, Paul dikenal sebagai seorang laki-laki yang mudah bergaul dan bisa diterima oleh banyak kalangan. Paul dikenal sebagai petani, pemburu, sekaligus pengusaha yang sukses. Selain aktif di kelompok tani dan nelayan yang kemungkinan besar terdiri dari orang-orang dari kalangan ekonomi menengah ke bawah, Paul juga tergabung dalam komunitas perkumpulan sosial ternama yang diisi oleh kalangan sebaliknya. Aktivitas Paul tidak berhenti di situ. Sejarah mencatat bahwa Paul sering masuk dalam keanggotaan organisasi atau kepanitiaan suatu acara penting yang mengurusi hajat hidup warga Boston seperti pengurusan penerangan jalan di Boston, panitia perancangan regulasi pasar, pejabat urusan kematian, pengurus organisasi pemadam kebakaran, panitia urusan penanggulangan kemiskinan, sampai menjadi ketua dewan juri dalam kasus pembunuhan yang menggemparkan di Boston kala itu. Singkat kata, Paul Revere adalah seorang tokoh masyarakat yang sangat dihormati dan pada saat yang sama juga bisa menghormati kolega-koleganya.

Sedangkan William Dawes adalah seorang pemuda penyamak kulit yang tampaknya memang biasa-biasa saja. Para pelaku sejarah pun tidak memiliki catatan-catatan khusus mengenai perjalan Dawes saat itu. Mungkin sekali, William Dawes sendiri sudah berhasil menyampaikan beritanya, tetapi orang yang menerima informasi itu tampaknya tidak terlalu merasakan gentingnya keadaan seperti kalau berita itu dibawa oleh tokoh masyarakat yang sudah mereka kenal, yakni Paul Revere. 

Antara Paul Revere dan Blackberry

Inilah kisah tentang Paul dan William yang di dalam buku tersebut. Sebagai pembaca pengusaha muslim yang kemungkinan besar bergerak di dunia bisnis atau jual-menjual, saya rasa kita bisa memetik pelajaran berharga dari kisah di atas. Bahwa apabila kita hendak memulai sebuah epidemi ketok tular untuk produk kita, mungkin kita tidak hanya sekedar membutuhkan produk yang bagus, tetapi juga seorang agen seperti sosok Paul Revere yang ada di dalam sejarah kemerdekaan Amerika Serikat. Tentu saja, memiliki sosok Paul dalam tim sales atau marketing adalah keuntungan tersendiri untuk perusahaan, tetapi bila tidak mampu merekrut atau memiliki seseorang seperti Paul di perusahaan, maka Anda tidak perlu kecewa karena Anda cukup berusaha untuk menjadikannya konsumen Anda. Yups, jadikan Paul Revere sebagai konsumen atau user produk Anda!

Inilah yang mungkin terjadi pada Blackberry di Indonesia. Di Indonesia, smartphone besutan RIM ini tampaknya mampu menggaet berjuta-juta konsumen fanatik bukan hanya dengan mengandalkan teknologi saja, tetapi juga popularitas dan pengaruh yang dimiliki oleh para penggunanya sendiri. Seperti kita ketahui bersama, awalnya Blackberry adalah ponsel khusus yang biasanya hanya dimiliki oleh kalangan atas seperti pejabat di pemerintah pusat atau daerah, anggota dewan, atau eksekutif di perusahaan besar. Tapi sekarang, lambat laun tren ini sudah mulai berubah. Blackberry kini bukan lagi ponsel kalangan atas, tapi sudah termasuk ponsel untuk semua kalangan. 

Para penggunanya tidak hanya terbatas pada individu jet set yang tajir abis, tetapi juga sudah merembet ke kalangan yang di akhir bulan biasanya berdompet kembang kempis seperti para pelajar, mahasiswa, tenaga honor di pemerintah daerah, CPNS yang masih menerima gaji 80%, dan sejenisnya. Dan tahukah Anda apa jawaban mereka yang menggunakan Blackberry ketika ditanya, “kenapa mas/mbak/bapak/ibu pakai Blackberry?” 

“Biar gampang komunikasi. Soalnya temen/bos/adik/kakak/suami/istri/dosen/mitra/klien/pelanggan/idola juga pakai BB kok.”

Itu dia jawabnya. Umumnya mereka akan memberikan jawaban seperti di atas. Meskipun kita tahu juga bahwa latar belakang para pengguna BB sebelum mereka sejatinya juga sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusan tersebut. Wallahu’alam bis showab.

Nah lho …

Sama seperti latar belakang Paul Revere yang menjadi bagian penting dalam sejarah kemerdekaan Amerika Serikat, saya rasa pengaruh dan latar belakang pengguna awal BB juga menjadi penyebab larisnya ponsel yang mempopulerkan keypad QWERTY ini di Indonesia. Nah sekarang, bagaimana dengan bisnis Anda?

To be continued ….

Di bagian berikutnya, kita akan membahas cerita tentang mewabahnya sepatu merk Airwalk di Amerika Serikat. Serta proses hilangnya wabah tersebut. Semoga bermanfaat. Insyaallah.

“Tipping Point: Bisakah kita mengubah dunia dengan sesuatu yang kecil? (Bagian 2)”

Limboto, 4 Februari 2012 10:36 WITA