Cara Mendirikan Perusahaan Teknologi Informasi Ala Paul Graham (selesai)

Soal ide sudah dibahas. Tentang manusia sudah diangkat. Terkait produk juga sudah diungkit. Lalu apa lagi? Manajemen keuangan. Inilah yang terakhir. Bila Anda mendirikan perusahaan, nasehat terakhir dari Paul Graham ini adalah sesuatu yang tidak kalah pentingnya dibanding ketiga hal tadi. Watch out!

3. Menggunakan dana seminimal mungkin

Di bagian terakhir dari nasehatnya, Paul menyarankan para pendiri perusahaan untuk menggunakan dana yang sudah dipegangnya secermat dan sehemat mungkin. Tapi sebelum itu, Paul juga membeberkan bagaimana cara mencari dana awal yang bagus untuk jalannya perusahaan Anda. Khususnya di awal-awal waktu ketika produk Anda belum tentu langsung menghasilkan keuntungan. 

Menggunakan dana seminimal mungkin

Dari “angel investor” atau “malaikat”

Mereka yang tergolong angel atau malaikat di sini adalah mereka yang mau memberikan dana awal kepada Anda untuk memulai perusahaan. Dana yang disediakan oleh para angel ini biasanya relatif sedang. Dengan kata lain, tidak terlalu kecil, tapi juga tidak terlalu besar. Salah satu contoh angel investor paling terkenal mungkin adalah Andy Bechtolsheim yang memberikan cek sebesar 100 ribu dollar kepada duo Google, Larry Page dan Sergey Brin. Disebut-sebut paling terkenal karena saat ini, konon uang 100 ribu dollar tersebut sudah mengembang menjadi 1,3 miliar dollar. Subhanallah. 

Ketika hendak mencari uang awal dari angel investor seperti Andy Bechtolsheim, Paul menyarankan Anda untuk tidak menggunakan dokumen resmi atau sejenisnya. Sebuah penjelasan singkat biasanya sudah cukup untuk membuat seorang yang banyak uang untuk menyodorkan uangnya kepada orang yang sudah dipercayanya. Jelaskan apa yang bisa dikerjakan oleh produk Anda dan siapa yang mungkin akan memakainya. Itu saja. Dan jangan lupa juga untuk menawarkan persen keuntungan yang bisa diambil oleh sang angel dari transaksi ini.

VC

Setelah uang dari angel investor habis, Anda mungkin tertarik untuk meminjam ke lembaga yang lebih resmi alias venture capital. Di Amerika sana, VC yang terkenal adalah Sequoia Capital and Kleiner Perkins. Bagaimana cara “meminta” uang pinjaman kepada VC? Menurut Paul, berbicara dengan VC akan lebih enak bila Anda sudah memiliki produk yang sudah jadi. Inilah yang dilakukan oleh Google kepada dua VC yang disebutkan di atas. Ketika itu, Google sudah menjadi sebuah produk yang nyata yang memang mulai mendapatkan banyak perhatian. Dan tampaknya dua VC tadi tertarik tidak hanya dengan Google sebagai sebuah produk tetapi juga orang-orang di baliknya. 

Bagian terpenting; cara menggunakan dana yang ada!

Untuk bagian ini, Paul menggunakan contoh yang sangat tepat: Google! Itulah kenapa di beberapa tulisan sebelumnya saya sering menyebut-nyebut Google, supaya Anda tidak tersesat sampai di akhir tulisan. Kebetulan sekali, untuk urusan penggunaan dana dari para investor, Google adalah sebuah lembaga yang bisa diteladani. Mari kita lihat riwayat pendiri Google dalam “menghabiskan” uang dari para investornya.

Kemana uang 100 ribu dollar dari angle investor Google pergi?

Ketika Google dirilis pada tahun 1998, sudah banyak mesin pencari yang “membuka toko” duluan. Normalnya, bila Anda adalah seorang yang paham dunia bisnis, mungkin Anda akan tertarik untuk menyisihkan beberapa ribu dollar dari seratus ribu di atas untuk keperluan marketing alias belanja iklan. Wajar toh, pesaing Anda banyak, jadi mungkin Anda membutuhkan sesuatu yang bisa membuat Anda tampil beda untuk kemudian mudah dikenali oleh calon konsumen Anda. Tapi apakah Google Guy melakukannya? Noupe!

Alih-alih menggunakan dananya untuk belanja ruang buat iklan di koran, TV, atau radio, Google justru menyewa garasi sebuah rumah seharga $1.700/bulan. Plus merekrut seseorang yang satu spesies dengan mereka, Craig Silverstein. Sebagai pegawai pertama Google, Craig bukanlah perekrutan asal-asalan. Craig adalah seorang mahasiswa doktoral di Stanford University yang memang tertarik dengan mesin pencari. Makalah-makalah yang ditulisnya adalah bukti konkret tentang siapa sebenarnya Google #1 employee ini.

Sebuah garasi yang murah alih-alih kompleks atau gedung perkantoran berlapis kaca dan seorang pakar pencarian ketimbang belanja iklan. Gunakan dana pinjamanmu sebijak mungkin. Perbaiki dulu software atau teknologi di balik produk Anda, bukan yang lain. 

Setelah menyewa ruangan yang terjangkau dan memperbaiki teknologi, Anda juga tidak boleh serta merta rakus dalam mencari keuntungan. Lihatlah Google. Kalau saja Google mau, mereka bisa saja menempelkan iklan di mana saja mereka suka di halaman depannya. Tapi Google tidak melakukannya karena mereka tahu itu akan menyusahkan sekaligus menjengkelkan bagi para penggunanya. Jadi, pelajaran lain dari essai ini adalah agar Anda selalu mendahulukan user (pengguna) ketimbang advertiser (pengiklan). Tanpa pengiklan, Anda mungkin saja tidak akan memiliki penghasilan, tapi masalahnya adalah bahwa tanpa para pengguna, para pengiklan itu tidak akan datang. 

Sekali lagi, urutan yang benar adalah dengan membuat produk Anda sebaik mungkin sehingga banyak orang tertarik untuk memakainya untuk kemudian mengaturnya sedemikian rupa sehingga pengiklan bisa masuk namun pengguna tidak pergi. Itulah yang dilakukan oleh Google sampai saat ini. Yang coba ditiru dengan sangat baik oleh Facebook maupun twitter. Dahulukan pengguna dulu, baru pengiklan. 

Easy right? 

Alhamdulillah, selesai juga ringkasan ini. 9333 kata milik Paul Graham dalam esainya sudah berhasil saya rangkum dalam 3000an kata yang terbagi dalam empat tulisan. Saya harap Anda menyukainya. Dan yang terpenting, bisa mengambil manfaat dari kisah-kisah maupun contoh di atas. Selamat beraksi! 

Wassalam ….

Artikel www.PengusahaMuslim.com