Cara Mendirikan Perusahaan Teknologi Informasi Ala Paul Graham (bagian 2)

 

Di tulisan pertama, kita sudah membahas tentang betapa pentingnya manusia brilian ketimbang ide. Tapi, seperti apa manusia brilian yang dimaksud oleh Paul Graham dalam esainya? Apakah ciri-cirinya cocok dengan Anda? We’ll see ….

1. Rekan pendiri yang bagus

Rekan pendiri yang bagus

Menurut peraih gelar master ilmu komputer dari Universitas Harvard ini, rekan pendiri yang bagus adalah orang yang Anda bisa kategorikan sebagai (maaf kalau tidak sopan) “animal” atau “hewan”. Tentu saja, ketika menggunakan kata “animal”, Paul tahu apa yang ada di benak-benak orang Amerika ketika membaca kata ini. Di dalam keseharian orang Amerika, orang-orang yang akan disebut sebagai “animal” adalah mereka yang rela mengerjakan suatu pekerjaan dengan sangat serius. 

Seorang tenaga penjual yang layak disebut sebagai “animal” adalah mereka yang menolak untuk cepat menyerah dari jawaban “tidak ” yang keluar dari calon pelanggannya. Seorang programmer/hacker yang “animal” adalah mereka yang rela tidak tidur sampai jam 4 pagi bila masih ada bug yang mengganggu aplikasi mereka. Seorang desainer grafis “animal” adalah mereka yang resah ketika ada yang melenceng sejauh 2 milimeter saja dalam karyanya. Dan sejenisnya …..

Mencari hacker yang “animal”

Dalam essainya, Paul juga memberikan nasihat tentang bagaimana cara mendeteksi seorang hacker atau programmer yang cerdas. Hal yang wajar karena Paul Graham sendiri sejatinya adalah seorang hacker, jadi ia mungkin tidak tahan untuk membagi trik jitu untuk merekrut salah satu spesies unik dalam abad informasi ini, the hacker

Bagi Paul, hacker yang cerdas dan layak Anda rekrut adalah mereka yang justru tidak takut untuk berkata “saya tidak tahu“. Aneh bukan? Menurut peraih BSc untuk program studi matematika ini, orang-orang cerdas adalah mereka yang sudah tidak perlu lagi berpura-pura supaya terlihat cerdas. Lalu siapa itu orang cerdas. Normalnya, orang yang cerdas adalah mereka yang hampir selalu tahu tentang segala sesuatu. Meskipun tampak benar, namun definisi ini justru berbahaya karena kita tahu tidak mungkin ada manusia yang tahu segalanya. Jadi bila ada manusia yang mencoba-coba untuk tahu segalanya, ada kemungkinan besar dia sebenarnya hanya sedang berpura-pura supaya kelihatan cerdas. 

Berikutnya, carilah hacker yang tidak hanya cerdas, tapi juga teman atau yang Anda yakini bisa Anda jadikan sebagai teman. Sebagai perusahaan yang baru berdiri, Anda akan kesulitan bila harus melakukan perekrutan dengan cara-cara yang dilakukan oleh perusahaan besar seperti IBM atau Pertamina (untuk contoh Indonesia). Selain membutuhkan biaya yang tidak kecil (padahal startup biasanya hanya bermodal pas-pasan), merekrut orang yang tidak Anda kenal dengan baik bisa menimbulkan kekhawatiran yang lebih besar ketimbang merekrut mereka yang sudah Anda kenal. Kalau Anda sudah terlalu khawatir dengan orang yang bekerja dengan Anda, lalu bagaimana nasib bisnis Anda sendiri?

Dimana Anda akan menemukan orang seperti tadi? 

Di kampus atau universitas Anda sendiri. Ini jawaban yang masuk akal. Di negaranya, Amerika Serikat, kampus adalah gudangnya orang-orang pintar. Itu sudah bukan rahasia lagi. Di Amerika sana, semua orang tahu bahwa hanya anak-anak SMA tertentulah yang bisa lulus dan diterima di kampus-kampus beken seperti Harvard, MIT, Stanford, UC Berkeley, dan sejenisnya. Tapi bagaimana di Indonesia? Mungkin hampir sama. Bila Anda ingin mencari hacker yang cerdas sekaligus bisa menjadi teman, Anda sebaiknya banyak-banyak bergaul dengan anak-anak program studi ilmu komputer di UGM, atau anak-anak jurusan teknologi informasi di ITB, atau mungkin juga anak-anak di Fasilkom UI. Memang tidak semua yang masuk ke dalam lingkungan itu adalah hacker, tapi bila Anda bisa bertemu dan berteman dengan hacker yang berkuliah di sana, Anda tampaknya beruntung. 

Di kampus selain yang saya sebutkan di atas, sebenarnya ada hacker juga kok. Tidak masalah mencarinya di mana. Pilihlah yang mana yang sesuai dengan selera, keadaan, dan tujuan perusahaan Anda. 

Berapa jumlah rekan pendiri yang ideal?

Berapa jumlah rekan pendiri yang ideal

Merekrut hacker cerdas yang sejatinya juga teman Anda sendiri, itu adalah trik dari Paul untuk Anda yang akan mendirikan perusahaan berbasis teknologi. Lalu, mungkin Anda akan bertanya, “berapa banyak yang saya butuhkan untuk memulai perusahaan saya?”. Menurut Paul, idealnya sih dua sampai empat. Steve Jobs membutuhkan Steve Woz untuk melahirkan Apple. Bill Gate membutuhkan Paul Allen untuk mendirikan Microsoft. Larry Page membutuhkan Sergey Brin untuk menyempurnakan Google. Bahkan Paul Graham sendiri membutuhkan seorang Paul Morris untuk membangun Viaweb. 

Terlalu banyak merekrut atau bekerja sama dengan lebih dari empat orang pendiri bisa membuat kemungkinan timbulnya ketidaksepakatan, yang sejatinya juga bisa timbul meski Anda memulai perusahaan Anda hanya dengan dua orang. Berdua saja mungkin bisa “ribut”, apalagi sampai berlima. Bisa tawuran nanti. 

Haruskah mengajak orang yang berlatar belakang manajemen atau bisnis?

Tidak juga. Buktinya, berdasarkan penelitian Paul, hanya ada 5 lulusan MBA dalam Forbes 50. Selebihnya justru orang-orang yang berlatar belakang teknologi seperti Michael Dell, Jeff Bezos, Bill Gate, Larry Ellison, Gordon Moore, Steve Jobs, dan sejenisnya. Lucu bukan? Lagi pula, kita yang di Indonesia juga tahu bahwa umumnya para lulusan dengan gelar MM (Magister Manajemen) atau MBa (Master of Business Administration) juga melamar pekerjaan kepada mereka yang cuma berstatus drop out atau sarjana S1. 

Wow, kita sudah terlalu jauh. Ada begitu banyak info dan pelajaran yang kita bisa ambil sampai di sini. Tapi essai panjang ini belum tuntas lho. Di tulisan berikutnya, kita akan bahas soal materi yang akan Anda tawarkan kepada konsumen. Apakah jasa atau materi yang Anda tawarkan tersebut benar-benar bisa mmebuat perusahaan Anda sukses? Stay tuned please.

Artikel www.PengusahaMuslim.com