Cara Mendirikan Perusahaan Teknologi Informasi Ala Paul Graham (bagian 1)

Artikel yang sedang Anda baca ini adalah sebuah ringkasan dari essai “legendaris” karya Paul Graham berjudul “How to start a startup“. Sebuah tulisan sepanjang 9333 kata yang sangat bagus dan menghujam sehingga begitu banyak pengusaha sukses di Silicon Valley yang merujuknya ketika ada orang yang bertanya kepada mereka tentang bagaimana cara memulai perusahaan. 

Siapa Paul Graham?

Paul Graham adalah seorang pendiri alias founder dari situs Viaweb yang diakuisisi oleh Yahoo sebesar 50 juta dollar pada tahun 1998. Yahoo sendiri kemudian merubah Viaweb menjadi salah satu layanannya: Yahoo Store. Di situs pribadinya, Paul menyebutkan bahwa artikel ini merupakan essai yang terinspirasi dari diskusi yang diselenggarakan oleh Harvard Computer Society. Karena bagus, saya mencoba untuk meringkas dan membagikannya di pengusahamuslim.com. Tentu saja, saya tidak meringkasnya secara membabi buta alias semata-mata membuat versi pendeknya, tapi menyajikannya dengan beberapa contoh atau kisah yang mungkin sesuai dengan kehidupan di sekitar kita. Saya harap Anda “terharu” dengan niat saya ini…. selamat membaca. 

Menurut Paul Graham, yang sekarang lebih dikenal sebagai investor sekaligus mentor dibalik proyek inkubasi Y! Combinator, ada tiga hal penting untuk membangun sebuah perusahaan yang sukses; (1) rekan pendiri yang bagus, (2) membuat sesuatu yang benar-benar diinginkan oleh pelanggan, dan (3) menggunakan dana seminimal mungkin. Yuk kita kupas satu per satu. Get ready!

Intro: ide brilian tidak sepenting manusia brilian

ide brilian tidak sepenting manusia brilian

Sebelum kita mengupas dan menguliti ketiga hal penting tadi, Paul mengingatkan kita tentang sesuatu yang datang sebelum ketiganya; ide! Dan ini masuk akal karena Anda tidak akan memulai sebuah perusahaan sebelum ada ide brilian yang mendasarinya. Sayangnya, meskipun ide bagus adalah sesuatu yang penting, tapi bagi Paul, ide Anda tidaklah sepenting ketiga faktor yang disebutkannya. But why?

Di tahun awal-awal berdirinya Microsoft pada era 70an, ide bisnis Bill Gate dan Paul Allen adalah membuat sebuah penerjemah (interpreter) bahasa pemrograman BASIC untuk mikrokomputer yang baru muncul kala itu, Altair 8800 yang dirilis oleh MITS (Micro Instrumentation and Telemetry Systems). Satu dekade setelahnya, raksasa mainframe di era itu, IBM menginginkan Microsoft untuk melakukan hal yang sama pada mikrokomputer yang diproduksinya. Dan Microsoft pun mampu melakukannya. Perusahaan kecil yang waktu itu berlokasi di Albuquerque ini tampak lihai sekali dalam mengeksekusi ide awal perusahaan mereka. 

Well, Bill Gate dan rekan-rekannya tampaknya sudah merasa puas dengan ide awal perusahaannya sampai kemudian IBM menawarkan kerja sama untuk membuat sebuah sistem operasi untuk mikrokomputer mereka. Setelah MS-DOS akhirnya resmi menjadi sistem operasi di mikrokomputer IBM, saya rasa kita semua tahu apa yang terjadi setelah itu. Microsoft seolah ada di mana-mana. Terinstal di hampir seluruh mikrokomputer yang diproduksi di era tersebut. Bahkan sampai sekarang. 

Lalu bagaimana dengan ide awal Microsoft sebelumnya? Sampai hari ini, Microsoft memang masih tetap setia menelurkan perangkat lunak untuk pengembangan aplikasi lewat produk macam Microsoft Visual Studio. Tapi tentu saja kita tahu produk apa yang membuat Bill Gate dan Microsoft bisa terkenal ke seantero dunia: Sistem Operasi! Sedikit meleset memang.

Ide brilian (tampaknya) tidak sepenting manusia brilian

Ide brilian (tampaknya) tidak sepenting manusia brilian

Melesetnya ide awal perusahaan tampaknya tidak hanya terjadi pada Bill Gate dan rekan-rekannya di Microsoft. Di lokasi nun jauh di sana dan di tahun yang berbeda, Larry Page dan Sergey Brin juga mengalaminya. Tujuan utama Google adalah untuk menjadi mesin pencari terbaik. Sampai tulisan ini dibuat, kedua mahasiswa doktoral (dengan status drop out) dari Stanford University ini tampaknya sudah berhasil mencapai ide awal itu. Tapi kita semua tahu, Google tidak hanya tentang mesin pencarian. Tapi juga GMail, Google Maps, Google News, Google Docs, Google Earth, Google Music, Google TV, Google Wallet, Google Checkout, Youtube, dan juga Android. Lagi-lagi, sedikit meleset. Dan daftar mereka yang bergerak terlalu jauh dari ide awal mungkin akan semakin panjang bila harus dituliskan di sini.

Melalui essai tertanda Maret 2005 ini, Paul ingin mengingatkan kepada para calon-calon pengusaha atau founder bahwa rekan kerja atau manusia yang ada di balik sebuah ide sejatinya lebih penting ketimbang ide itu sendiri. Masuk akal memang. Karena ide adalah sesuatu yang bisa dimiliki atau datang kepada siapa saja. Baik secara tiba-tiba maupun tidak. Tapi sang eksekutor lah yang membuat nasib sebuah ide akan berbeda. Masih ingat Friendster? Itu lho, situs yang membuat orang Indonesia rela belajar internet dan membuat email supaya bisa ketemu dengan teman-teman lamanya. Situs yang mempopulerkan kalimat “add aku ya?”. Lalu kemana perginya sang pelopor jejaring sosial ini?

Ide Friendster sebenarnya sama persis dengan Facebook. Tapi orang-orang di balik layar tentu saja yang membuatnya beda. Friendster senyap, Facebook terus merayap. Same idea. Different executor. Different result. So good bye (mere) idea….. 

To be continued …. (di tulisan berikutnya, kita baru akan membahas soal rekan pendiri yang bagus)

Artikel www.PengusahaMuslim.com