Mengenal Hujan (selesai)

Fungsi Keenam: Hujan Sebagai Ilustrasi Nyata Tentang Fungsi Agama Allah

fungsi hujan

Saudaraku, coba Anda cermati berbagai tumbuhan yang tumbuh di sekitar Anda berkat turunnya air hujan. Apakah semua tumbuhan tersebut bermanfaat bagi Anda? Apakah semua tumbuhan itu menghasilkan buah atau bijian yang dapat Anda nikmati?

Betapa banyak tumbuhan di sekitar Anda yang keberadaannya mengganggu atau bahkan mengancam kehidupan Anda. Ada darinya tumbuhan yang berduri, ada pula yang menghasilkan buah yang kecil, besar, manis, kecut, masam, pahit, beracun, dan memabukkan.

Itu semua terjadi padahal air hujan yang menyirami dan menjadikannya tumbuh dan akhirnya berbuah adalah sama. Namun dari air yang sama ternyata terlahir hasil yang berbeda-beda. Pernahkah Anda bertanya, mengapa semua itu bisa terjadi?

Saya yakin Anda mengetahui sebabnya:

  1. Asal usul biji yang berbeda
  2. Kesuburan tanah
  3. Dan perawatan serta faktor lingkungan lainnya

Saudaraku, kejadian di atas terjadi dengan sengaja. Allah Ta’ala menciptakan semua itu agar menjadi cermin bagi umat manusia dalam perilaku dan akhlak mereka.

Bila air hujan yang merupakan sumber  kehidupan fisik makhluk hidup termasuk manusia menghasilkan buah dan tumbuhan yang berbeda-beda, maka Alquran demikian pula halnya. Alquran yang merupakan sumber kehidupan jiwa juga menghasilkan buah dan tanaman yang beraneka ragam.

Dari umat manusia yang disirami dengan wahyu Allah, ada yang kemudian beriman dan termotivasi untuk beramal sholeh. Dari mereka ada pula yang karena mendapat siraman Alquran malah kufur dan menentang agama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan dari mereka ada pula yang karena mendapat siraman Alquran, namun karena jiwanya yang kurang bagus, dan lingkungannya yang tidak subur tidak mampu menghasilkan banyak hal.

Fenomena hubungan antara agama yang berperan bagaikan hujan bagi jiwa manusia ini telah dijelaskan oleh Rasulullah e dalam sabdanya,

إِنَّ مَثَلَ مَا بَعَثَنِى اللَّهُ بِهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَصَابَ أَرْضًا فَكَانَتْ مِنْهَا طَائِفَةٌ طَيِّبَةٌ قَبِلَتِ الْمَاءَ فَأَنْبَتَتِ الْكَلأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ وَكَانَ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتِ الْمَاءَ فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ فَشَرِبُوا مِنْهَا وَسَقَوْا وَرَعَوْا وَأَصَابَ طَائِفَةً مِنْهَا أُخْرَى إِنَّمَا هِىَ قِيعَانٌ لاَ تُمْسِكُ مَاءً وَلاَ تُنْبِتُ كَلأً فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِى دِينِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ بِمَا بَعَثَنِى اللَّهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ

“Gambaran hidayah dan ilmu yang dengannya Allah Azza wa Jalla mengutusku, bagaikan air hujan, yang turun membasahi bumi. Dari bumi yang dibasahi air hujan ada tanah yang subur, sehingga menyerap air dan menumbuhkan tetumbuhan dan rerumputan yang banyak. Ada pula tanah yang keras, namun mampu menahan air, sehingga masyarakat dapat memanfaatkan airnya, mereka minum darinya, menyirami tanamannya dan mencukupi hewan ternaknya. Dan ada pula tanah lain yang tandus nan gersang, tidak dapat menyimpan air dan tidak pula menumbuhkan tumbuhan. Itulah gambaran orang yang memahami agama Allah dan ia mendapatkan manfaat dari agama yang aku diutus Allah denganya, sehingga ia berilmu, dan mengajarkannya. Dan itu pula perumpamaan orang yang sombong tidak perduli dengan agama, dan tidak pula menerima  petunjuk Allah yang aku diutus dengannya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Bila perbedaan asal-usul biji menghasilkan perbedaan buah, maka demikian pula perbedaan karakter dasar dan sifat keturunan pada manusia. Orang yang mewarisi karakter luhur, maka bila ia mendapat siraman wahyu Allah, maka ia akan menjadi orang mukmin yang jempolan. Namun sebaliknya, orang yang sejak lahir telah mewarisi karakter buruk, maka walaupun telah disirami dengan wahyu Allah, maka ia tidak akan menghasilkan kecuali yang buruk pula.

والناس معادن خيارهم في الجاهلية خيارهم في الإسلام إذا فقهوا

“Manusia bagaikan sumber tambang, sebaik-baik orang semasa jahilliyah, maka biasanya setelah masuk islampun mereka menjadi orang yang paling baik bila menguasai ilmu agama.” (Muttafaqun ‘alaih)

Sebagaimana tumbuhan terpengaruh oleh kondisi sekitarnya, maka demikian pula uamt manusia biasanya diwarnai oleh kondisi rumah tangga, teman karib dan masyarakat sekitarnya. Karena itu Islam menganjurkan agar Anda selektif dalam memilih tetangga, pergaulan dan pasangan hidup.

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Tidaklah ada anak yang terlahir ke dunia ini melainkan ia terlahir dalam kondisi fitrah (muslim). Namun kemudian kedua orang tuanyalah yang menjadikannya beragama yahudi, nasrani atau mausi.” (Muttafaqun ‘alaih)

Dan pada hadis lain, beliau bersabda,

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً

“Permisalan sahabat yang baik dan sahabat yang buruk bagaikan pedagang minyak wangi dan pandai besi. Bersahabat dengan pedagang minyak wangi, menguntungkan, karena ia akan memberimu, atau Anda dapat membeli darinya dan paling kurang Anda mendapatkan darinya aroma harum semerbak. Sedangkan sahabat seorang pandai besi, maka bisa jadi ia membakar bajumu, atau paling kurang engkau mendapatkan bau yang tidak sedap darinya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Fenomena ini, membuktikan kepada Anda betapa pentingnya Anda membenahi diri Anda, agar mejadi orang yang berkarakter luhur dan terbebas dari karakter buruk. Dengan demikian siraman rohani berupa lantunan ayat-ayat Alquran, hadis-hadis Nabi e ayat-ayat Allah Ta’ala yang terjadi di alam semesta dapat menyuburkan keimanan dan ketakwaan Anda.

Fungsi Ketujuh: Hujan Adalah Ilustrasi Nyata Tentang Proses Kebangkitan Manusia Pada Hari Kiamat

kebangkitan manusia di hari kiamat

Tidakkah Anda mencermati berbagai ayat yang  telah saya ketengahkan ke hadapan Anda di atas? Berbagai ayat yang berbicara tentang hujan senantiasa di akhiri dengan kata-kata “Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati.” Misalnya pada ayat berikut,

وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ حَتَّى إِذَا أَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالاً سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ مَّيِّتٍ فَأَنزَلْنَا بِهِ الْمَاء فَأَخْرَجْنَا بِهِ مِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ كَذَلِكَ نُخْرِجُ الْموْتَى لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.” (QS. Al A’araf: 57)

Tidakkah Anda amati, betapa biji-bijian yang semasa musim kemarau telah tertanam dalam perut bumi. Sesaat setelah turun hujan, semua bijian tersebut muncul ke muka bumi dan tumbuh subur. Demikian pula yang akan Anda alami kelak pada hari kiamat. Sahabat Abu Hurairah mengisahkan dari Nabi e,

ما بين النفختين أربعون قالوا يا أبا هريرة أربعون يوما ؟ قال أبيت قالوا أربعون شهرا ؟ قال أبيت قالوا أربعون سنة ؟ قال أبيت ثم ينزل الله من السماء ماء فينبتون كما ينبت البقل  قال وليس من الإنسان شيء إلا يبلى إلا عظما واحدا وهو عجب الذنب ومنه يركب الخلق يوم القيامة

“Antara dua tiupan sangkakala berjarak selama empat puluh.” Sepontan murid-murid Abu Hurairah bertanya, “Apakah yang dimaksud adalah empat puluh hari?” Abu Hurairah menjawab, “Aku tidak mau menjawab.” Mereka pun kembali bertanya, “Apakah yang dimaksud adalah empat puluh bulan?” Kembali sahabat Abu Hurairah menjawab, “Aku tidak mau menjawab.” Karena ingin tahu, mereka pun kembali bertanya, “Apakah yang dimaksud adalah empat puluh tahun?” Kembali Abu Hurairah berkata, “Aku tidak mau menjawab. Selanjutnya Allah menurunkan hujan dari langit, sehingga mannusia akan tumbuh bagaikan rerumputan tumbuh ketika terkena air hujan. Tidaklah ada organ manusia kecuali akan hancur lebur, kecuali satu tulang saja, yaitu pangkal tulang ekornya. Dariyalah kelak pada hari qiyamat seluruh manusia akan dihidupkan kembali.” (Muttafaqun alaih)

Dalam riwayat lain dinyatakan,

ثُمَّ يُرْسِلُ اللَّهُ مَاءً مِنْ تَحْتِ الْعَرْشِ يُمْنِي كَمَنِيِّ الرَّجُلِ، فَتَنْبُتُ جُسْمَانُهُمْ، وَلُحْمَانُهُمْ مِنْ ذَلِكَ الْمَاءِ ك

“Selanjutnya Allah menurunkan air dari bawah ‘Arsy yang memancar bagaikan air mani kaum lelaki, sehingga tubuh dan daging manusia tumbuh kembali berkat siraman air itu.” (Riwayat Al Hakim dan lainnya)

Penutup:

Semoga tulisan ini menggugah iman Anda dan menjadi pelajaran berharga dalam kehidupan Anda. Harapan saya, dengan memahami  berbagai fungsi hujan ini, kita dapat mensyukurinya dengan baik, sehingga Allah senantiasa melimpat gandakan nikmat-Nya.

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Dan semoga hujan yang kini telah banyak menjadi awal dari datangnya petaka bagi bangsa kita, segera kembali seperti sedia kala, menjadi hujan pembawa berkah seperti yang Allah gambarkan melalui lisan Nabi Nuh ‘alaihissalam berikut ini,

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا {10} يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَارًا {11} وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا

“Maka aku katakan kepada mereka: “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. (QS. Nuh: 10-12)

Akhirul kalam, mohon maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan, wallahu a’alam bisshawab.

Artikel www.PengusahaMuslim.com