Kursi Aeron Dan Kenapa Perusahaan Anda Terkadang Tidak Butuh Riset Pasar (bagian 1)

Selain “Outliers: Rahasia di Balik Sukses”, buku lain karya Malcolm Gladwell yang ingin sekali saya bahas di sidang pembaca pengusahamuslim.com adalah “Blink: Kemampuan Berpikir tanpa Berpikir”. Buku ini memang tidak melulu membahas bisnis di dalam setiap babnya, tapi salah satu cerita yang ada di sana tampaknya sangat menarik untuk diangkat di sini; tentang “Kursi Maut“.

Aeron: Kursi Maut itu!

Dalam salah satu bab bukunya yang juga masuk ke dalam kategori international best-seller ini, Gladwell mengangkat sebuah cerita tentang keunikan yang terjadi di balik peluncuran sekaligus kesuksesan penjualan Kursi Aeron. Sebuah kursi revolusioner yang diteliti, diujicoba dan dijual oleh Herman Miller, Inc., sebuah perusahaan pembuat perabotan ternama dari Amerika Serikat.

Aeron kursi maut


Aeron: kursi puluhan juta rupiah tanpa bantalan busa!

Kisahnya dimulai pada sekitar awal tahun 1990-an. Ketika itu, Herman Miller menyewa jasa seorang perancang produk bernama Bill Stumpf dan Don Chadwick (redaksi: dalam bukunya, Gladwell hanya menyebutkan Stumpf tanpa Chadwick). Disewanya Bill, mungkin sekali terjadi karena sebelumnya ia mampu menghadirkan dua kursi laris untuk Herman Miller, Inc., yakni Ergon dan Equa. Meskipun sudah menggapai kesuksesan dengan kedua kursi hasil karyanya tersebut, Bill tetap ngotot untuk merancang sesuatu yang sangat radikal dan benar-benar baru. Bill ingin membuat sesuatu yang sangat ergonomik dan mampu melebihi kedua karya sebelumnya. Proyek ini nantinya diberi nama Aeron.

Ketika proses perancangan sudah selesai, banyak orang yang terbelalak – kecuali Bill Stumpf dan Don Chadwick tentu saja – pada saat pertama kali mereka menatap Kursi Aeron. Mereka menggeleng-gelengkan kepala sebagai tanda takjub atas “keanehan” kursi yang satu ini. Waktu itu, wujud Aeron benar-benar di luar kebiasaan. Umumnya sebuah kursi yang dimasukkan ke dalam kategori kursi nyaman adalah yang berbantalan busa tebal, dilapisi kulit, dan mirip singgasana raja. Tapi Aeron malah sebaliknya. Kursi yang dihargai sekitar USD$800an ini (Amazon price tag per October, 27th 2011) justru tampil tanpa busa tebal, tidak seperti kursi malas (baca: singgasana raja), dan ….. sedikit angker.

Kesan pertama para pengamat

Pada tahun 1993, ketika Herman Miller hendak meluncurkan kursi aneh bin ajaib ini, perusahaan yang berbasis di Michigan, USA ini sempat mengundang beberapa kalangan untuk menilai kursi baru mereka. Diantaranya adalah para desainer, arsitek, facility manager, dan pakar ergonomik. Dua kalangan yang disebut pertama sangat terkait dengan aspek desain sang kursi. Sementara dua yang terakhir disebut sangat terkait dengan aspek bisnis sekaligus komersial dari kursi ini. Dan di sinilah kelucuan mulai sering terjadi.

mirip kursi robocop

Mirip Kursi Robocop?

Ketika melihat Aeron untuk pertama kalinya, kalangan arsitek dan desainer merasa terkejut dengan betapa radikalnya Aeron. Tapi meskipun mereka anggap aneh, mereka tampaknya bisa mengerti dengan keadaan itu. Tapi lain lagi dengan para facility manager dan pakar ergonomik, mereka memberikan komentar unik sekaligus pedas. Diantara mereka ada yang bilang kalau Aeron mirip kursi daur ulang. Ada juga yang bilang kursi ini mirip jok mobil model lama atau kuno. Ada lagi yang bilang kalau kursi ini mengingatkannya dengan kursi kebun, yang seharusnya dijual murah saja. Dan terakhir yang paling lucu adalah ketika ada yang berkata bahwa Aeron membuatnya teringat akan kursi perlengkapan syuting film Robocop. Ehm ….. kalau produk Anda dinilai seperti ini, maukah Anda tetap menjualnya ataukah …… ?

To be continued …..

Next: Keputusan terakhir Herman Miller untuk Aeron, Evolusi Opini dalam Estetika Sang Aeron dan …..

Artikel www.PengusahaMuslim.com