12 Kiat Ngalap Berkah: Kiat Keenam (2/2) Qana’ah Dengan Karunia Allah

Di antara metode yang diajarkan oleh Islam kepada umatnya agar usahanya diberkahi Allah Ta’ala dan mendatangkan keberhasilan ialah dengan menggunakan modal yang diperoleh dari jalan yang baik, serta diperoleh tanpa ambisi dan keserakahan,

عن عبد الله بن عمر رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلّى الله عليه وسلّم كان يُعْطِي عُمَرَ بن الْخَطَّابِ رضي الله عنه الْعَطَاءَ فيقول له عُمَرُ: أَعْطِهِ يا رَسُولَ اللَّهِ أَفْقَرَ إليه مِنِّي. فقال له رسول اللَّهِ صلّى الله عليه وسلّم : خُذْهُ فَتَمَوَّلْهُ أو تَصَدَّقْ بِهِ، وما جَاءَكَ من هذا الْمَالِ وَأَنْتَ غَيْرُ مُشْرِفٍ ولا سَائِلٍ، فَخُذْهُ وما لا فلا تُتْبِعْهُ نَفْسَكَ. قال سَالِمٌ: فَمِنْ أَجْلِ ذلك كان بن عُمَرَ لَا يَسْأَلُ أَحَدًا شيئا ولا يَرُدُّ شيئا أُعْطِيَهُ. متفق عليه

“Dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari hendak memberi Umar bin Khatthab radhiallahu ‘anhu suatu pemberian, kemudaian Umar berkata kepada beliau, ‘Ya Rasulullah, berikanlah kepada orang yang lebih membutuhkannya daripada aku.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Ambillah, lalu gunakanlah sebagai modal atau sedekahkanlah, dan harta yang datang kepadamu sedangkan engkau tidak berambisi mendapatkannya tidak juga memintanya, maka ambillah, dan harta yang tidak datang kepadamu, maka janganlah engkau berambisi untuk memperolehnya.” Oleh karena itu, dahulu Abdullah bin Umar tidak pernah meminta kepada seseorang dan tidak pernah menolak sesuatu yang diberikan kepadanya.” (HR. Muttafaqun ‘alaih).

Pemaparan di atas adalah sedikit bukti bakwa sifat qana’ah adalah sumber kebahagiaan hidup di dunia. Tidak mengherankan bila banyak ulama, di antaranya sahabat Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas dan Ikrimah (baca Tafsir ath-Thabary, 14/171 dan Tafsir Ibnu Katsir, 2/586) menyatakan bahwa “kehidupan yang baik/bahagia” yang dimaksud pada ayat 97 surat an-Nahl(1) adalah sifat qana’ah. Yang demikian itu, karena dengan sifat qana’ah, seseorang akan senantiasa merasa puas dan kecukupan dengan apa yang telah Allah Ta’ala karuniakan kepadanya.

Dahulu sebagian orang berkata,

أطول الناس همّاً الحسودُ وَأَهْنَؤُهم عَيْشاً القَنُوعُ

Orang yang paling banyak dirundung rasa gundah adalah orang yang paling besar rasa hasadnya, dan orang yang paling bahagia kehidupannya adalah orang yang paling besar rasa qana’ah-nya.” (Majmu’ Rasa’il Ibnu Rajab, 1/67).

Betapa tidak, sifat tamak dan serakah manusia tidak akan pernah padam, walaupun ia telah dikaruniai segala macam kekayaan dan keberhasilan. Bila seseorang senantiasa menuruti ambisi dan keserakahannya, niscaya ia tidak akan pernah merasakan kedamaian dan kepuasan hidup. Terlebih-lebih, bila ambisinya tersebut sampai menjadikannya menempuh segala macam cara untuk meraih harta impiannya. Rasa tamak dan serakah yang ada dalam dada manusia hanya akan padam bila hayat telah terpisah dari badan.

(لو كان لابن آدَمَ وَادِيَانِ من مَالٍ لَابْتَغَى ثَالِثًا ولا يَمْلَأُ جَوْفَ بن آدَمَ إلا التُّرَابُ وَيَتُوبُ الله على من تَابَ (متفق عليه

Andai seorang manusia telah memiliki dua lembah harta benda (emas), niscaya ia masih menginginkan untuk mendapatkan lembah ketiga. Dan tidak akan pernah ada yang dapat memenuhi perut manusia selain tanah. Dan Allah akan menerima taubat orang yang bertaubat/kembali (dari perangai buruk tersebut-pen.) .” (HR. Muttafaqun ‘alaih).

Sebagian ulama menyatakan, bahwa maksud dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamAllah akan menerima taubat orang yang bertaubat/kembali (dari perangai buruk tersebut-pen.)” adalah setiap manusia memiliki tabiat cinta terhadap harta kekayaan dan biasanya ia tidak akan pernah berhenti dari mengumpulkannya. Orang yang dijaga dan diberi taufik oleh Allah sajalah yang mampu membersihkan perangai buruk ini dari jiwanya. Tentu orang yang demikian itu sangat sedikit jumlahnya (Fathul Bari, 11/256). Penyataan ini selaras dengan firman Allah Ta’ala,

وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan siapa yang dipelihara/dihindarkan dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Qs. al-Hasyr: 9).

Pada hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

(يَكْبَرُ بن آدَمَ وَيَكْبَرُ معه اثْنَانِ حُبُّ الْمَالِ وَطُولُ الْعُمُرِ (متفق عليه

Seseorang semakin bertambah banyak umurnya (menjadi tua), semakin besar pula kecintaannya kepada harta benda dan kepada umur panjang.” (HR. Muttafaqun ‘alaih).

Bila demikian adanya, akankah orang yang telah tua renta, bungkuk punggungnya, dan lemah ototnya, akan dapat merasakan kebahagian hidup? Tentu tidak, karena jiwanya senantiasa terpanggang oleh panasnya gelora ambisi, sedangkan fisiknya tidak lagi kuasa untuk merealisasikannya.

Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Baderi, M.A
Artikel www.PengusahaMuslim.com

 

Catatan kaki:

(1) Ayat tersebut adalah firman Allah Ta’ala berikut,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

Barangsiapa yang beramal shaleh, baik lelaki maupun perempuan sedangkan ia beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Qs. an-Nahl, 97).