12 Kiat Ngalap Berkah: Kiat Ketiga (2/2) Mensyukuri Segala Nikmat

Aplikasi nyata mensyukuri nikmat.

Di antara hal yang perlu untuk senantiasa kita ingat dalam hal mensyukuri nikmat adalah perwujudan rasa syukur itu sendiri. Kebanyakan kita beranggapan, bahwa mensyukuri nikmat hanya diwujudkan semata dengan mengucapkan “Alhamdulillah” dengan lisan. Ini adalah anggapan yang kurang tepat, karena syukur nikmat memiliki perwujudan yang sangat banyak, di antaranya:

Mengucapkan alhamdulillah, atau ucapan yang semakna. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam banyak ayat dan hadits, di antaranya pada firman Allah Ta’ala,

الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Segala puji hanya milik Allah, Tuhan semesta alam.”

Ibnu Jarir rahimahullah berkata, “Makna ucapan “Alhamdulillah” adalah bersyukur sepenuhnya hanya kepada Allah Yang Maha Agung dan tanpa sesembahan-sesembahan lain atau sesama makhluk lainnya. Kita bersyukur kepada Allah Ta’ala atas segala kenikmatan yang tiada terhitung jumlahnya dan tiada makhluk yang menghitungnya. Di antara kenikmatan-Nya ialah kita dikaruniai anggota tubuh yang sehat sehingga dengan mudah kita dapat menjalankan ketaatan kepada-Nya. Berbagai rezeki yang telah disiapkan untuk kita dalam kehidupan dunia, kehidupan yang bahagia. Padahal Allah tidak berkewajiban untuk melakukan itu semua untuk kita. Di tambah lagi, Allah Ta’ala juga telah menurunkan untuk kita syariat agama-Nya yang dengannya kita dapat bahagia dan kekal di dalam surga yang penuh dengan kenikmatan abadi. Oleh karenanya, hanya Allah yang berhak untuk mendapatkan segala ucapan puji syukur kita.” (Tafsir at-Thabari, 1/59).

Menggunakan harta kekayaan untuk mendukung peribadahan kepada Allah Ta’ala, oleh karena itu dahulu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menunaikan shalat malam hingga kedua kaki beliau menjadi bengkak. Dan tatkala istri beliau tercinta ‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata kepada beliau,

لِمَ تَصْنَعُ هذا يا رَسُولَ اللَّهِ؟ وقد غَفَرَ الله لك ما تَقَدَّمَ من ذَنْبِكَ وما تَأَخَّرَ؟

Mengapa engkau melakukan ini ya Rasulullah? Padahal Allah telah mengampuni seluruh dosa-dosamu, baik yang terdahulu ataupun yang akan datang?” Beliau menjawab,

أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا

Tidakkah layak bagiku untuk menjadi seorang hamba yang bersyukur?” (HR. Muttafaqun ‘alaih).

Demikianlah praktik Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mensyukuri karunia Allah Ta’ala, yang berupa diampuninya dosa-dosa beliau. Semakin besar kenikmatan yang beliau terima, semakin gigih dalam menjalankan ibadah.

Melakukan sujud syukur setiap kali mendapatkan kenikmatan baru atau terhindar dari musibah.

(أَنَّهُ كان إذا جَاءَهُ أَمْرُ سُرُورٍ أو بُشِّرَ بِهِ خَرَّ سَاجِدًا شَاكِرًا لِلَّهِ (رواه أبو داود والترمذي وابن ماجة وغيرهم

Dahulu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bila mendapatkan suatu hal yang menggembirakan, atau diberi kabar gembira tentangnya, beliau segera bersujud sebagai ungkapan syukur kepada Allah.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan lainnya).

Al-Munawi berkata, “Sujud adalah puncak sikap tawadhu’ dan rendah diri seorang hamba di hadapan Allah, yaitu dengan meletakkan wajahnya yang terhormat dan menunggingkan anggota tubuhnya. Demikianlah sepantasnya sikap seorang mukmin. Setiap kali Allah menambahkan kepadanya suatu kenikmatan, maka ia semakin bertambah merendah diri dan semakin erat dalam menggantungkan segala kebutuhannya kepada Allah. Dengan cara inilah kenikmatan dipikat dan diupayakan untuk berlipat ganda.” (Faidhul Qadir, 5/118).

Demikianlah salah satu teladan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita. Dan ini merupakan dalil lain yang menjelaskan bahwa amal ketaatan adalah wujud nyata dari rasa syukur atas kenikmatan.

Menampakkan kenikmatan yang telah kita dapatkan, yaitu dengan menceritakan kenikmatan tersebut kepada orang lain. Allah Ta’ala berfirman,

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

Adapun dengan nikmat -nikmat Tuhanmu, maka hendaknya engkau sebut-sebut.” (Qs. adh-Dhuha: 11).

Berdasarkan ayat ini, dahulu para sahabat beranggapan bahwa termasuk kesempurnaan sikap syukur seseorang atas suatu kenikmatan ialah dengan menyebut-nyebutnya (Tafsir Ibnu Katsir, 4/524). Oleh karena itu, dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan kepada para sahabatnya kenikmatan besar yang telah beliau terima,

أنا سيد ولد آدم ولا فخر

Aku adalah pemimpin anak keturunan Adam, dan tiada berbangga-banggaan.” (HR. Ahmad dan lainnya).

Pada hadits lain, beliau juga menceritakan akan kenikmatan lain yang telah dikaruniakan Allah kepadanya,

أُعْطِيتُ خَمْسًا لم يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ وَجُعِلَتْ لي الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا فَأَيُّمَا رَجُلٍ من أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ فَلْيُصَلِّ وَأُحِلَّتْ لي الْمَغَانِمُ ولم تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ وكان النبي يُبْعَثُ إلى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إلى الناس عَامَّةً. متفق عليه

Aku dikaruniai lima hal yang tidak pernah diberikan kepada seorang nabipun sebelumku; Aku ditolong dengan dicampakkannya rasa takut pada musuh-musuhku sejak aku masih berjarak perjalanan satu bulan dari mereka. Bumi dijadikan bagiku sebagai tempat shalat (masjid) dan juga alat bersuci, maka dari itu, barangsiapa dari umatku yang mendapatkan shalat, maka hendaknya ia segera mendirikannya (dimanapun ia berada-pen.), rampasan perang dihalalkan untukku, padahal sebelumku tidak pernah dihalalkan untuk seorang nabipun, aku dikaruniai syafa’at (kubra’), dan nabi-nabi sebelumku senantiasa diutus kepada kaumnya saja, sedangkan aku diutus kepada seluruh umat manusia.” (HR. Muttafaqun ‘alaih).

Menceritakan kenikmatan semacam ini disyariatkan untuk kita lakukan, bila lawan bicara kita tidak memiliki sifat iri dan hasad.

Akan tetapi bila kita merasa, bahwa lawan bicara kita memiliki sifat hasad atau iri, seyogyanya kita tidak melakukannya, dan lebih baik menyembunyikan kenikmatan tersebut tanpa harus berdusta.

(استَعِيْنُوا عَلَى إِنْجَاحِ الْحَوَائِجِ بِالْكِتْمَانِ فَإِنَّ كُلَّ ذِي نِعْمَةً مَحْسُودٌ (رواه الطبراني وغيره وحسنه الألباني

Berupayalah untuk mewujudkan kebutuhanmu dengan merahasiakan kebutuhanmu; karena setiap orang yang mendapatkan kenikmatan pasti dihasadi oleh orang lain.” (HR. ath-Thabrani dan dihasankan oleh al-Albani).

Di antara bentuk menampakkan kenikmatan yang merupakan wujud nyata dari syukur nikmat ialah dengan menggunakan kenikmatan tersebut, baik berupa pakaian, alas kaki, kendaraan, rumah dan makanan.

Pada suatu hari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyaksikan seorang sahabat beliau yang berpakaian kusut dan berdebu. Menyaksikan penampilan sahabatnya yang tidak menarik tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya,

أَلَكَ مَالٌ؟ قال: نعم، قد آتَانِي اللَّهُ من كل الْمَالِ، قال: (من أَيِّ الْمَالِ؟) قال: آتَانِي اللَّهُ مِنَ الْخَيْلِ وَالرَّقِيقِ، فقال له صلّى الله عليه وسلّم: (إذا آتَاكَ اللَّهُ مَالا، فَلْيُرَ عَلَيْكَ أَثَرُ نِعْمَتِهِ وَكَرَامَتِهِ) رواه أحمد والطبراني وغيرهما وصححه الألباني

Apakah engkau memiliki harta kekayaan?” Sahabat itu menjawab, “Ya, sungguh Allah telah mengaruniaiku segala harta benda.” Nabi kembali bertanya, “Harta apa saja yang engkau miliki?” Sahabat itu kembali menjawab, “Allah telah mengaruniaku kuda, dan budak.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Bila Allah telah mengaruniaimu harta kekayaan, maka hendaknya nampak pada dirimu pertanda kenikmatan dan karunia-Nya itu.” (HR. Ahmad, ath- Thabrani dan lainnya, dan hadits ini dishahihkan oleh al-Albani).

Di antara wujud nyata sikap syukur nikmat ialah dengan senantiasa menyadari, bahwa segala kenikmatan adalah karunia Allah Ta’ala yang wajib untuk disyukuri. Sebagaimana kita juga menyadari, bahwa kita tidak akan pernah kuasa untuk menjalankan kewajiban bersyukur kepada-Nya dengan sepenuhnya. Kenikmatan Allah yang kita terima lebih besar dan lebih banyak dibanding sikap syukur yang kita lakukan. Bahkan, sikap syukur itu sendiri merupakan kenikmatan baru yang wajib disyukuri.

Diriwayatkan dalam sebagian riwayat (Israiliyat), bahwa tatkala Nabi Musa ‘alaihissalam diperintahkan untuk bersyukur kepada Allah, ia berkata, “Ya Allah, bagaimana aku dapat bersyukur kepada-Mu, sedangkan sikap syukurku kepada-Mu adalah karunia baru dari-Mu yang aku terima? Allah menjawab ucapan Nabi Musa ‘alaihissalam ini dengan berfirman, ‘Wahai Dawud, saat inilah engkau telah mensyukuri kenikmatan-Ku’, yaitu tatkala engkau menyadari, bahwa engkau tidak kuasa untuk mensyukuri kenikmatan-Nya dengan sepenuhnya (Faidhul Qadir, 4/512).

Inilah yang mendasari Imam asy-Syafi’i untuk berkata,

الحمد لله الذي لا يؤدى شكر نعمة من نعمه الا بنعمة منه توجب مؤدي ماض نعمه بادائها نعمة حادثة يجب عليه شكره بها

Segala puji hanya milik Allah, yang kita tidak akan dapat mensyukuri suatu kenikmatan-Nya, kecuali bila kita mendapatkan kenikmatan-Nya yang lain. Dan kenikmatan yang telah menjadikannya dapat mensyukuri kenikmatan yang telah lalu tersebut mengharuskannya untuk kembali bersyukur kepada Allah karenanya.” (Ar-Risalah oleh Imam asy-Syafi’i, 7).

Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Baderi, M.A
Artikel www.PengusahaMuslim.com