Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia

Rezeki

Daftar Manusia Terkaya di Dunia

Oleh: Husain Ahmad Abdul Qadir

Bismillah. Segala puji hanya bagi Allah. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan kepada keluarga serta para sahabat beliau. Amma ba’du.

Tidak diragukan bahwa kekayaan adalah salah satu tujuan yang dikejar oleh manusia di setiap zaman dan tempat. Adapun tujuan di belakang kekayaan ini sangat beraneka ragam sesuai dengan tabiat setiap orang. Ada orang yang suka mengumpulkan uang, emas, dan perak untuk menikmati nikmat-nikmat dunia, berbuat kerusakan, dan menyombongkan diri di hadapan manusia lain. Ada juga orang yang suka mengumpulkan harta agar tidak perlu meminta-minta kepada orang lain dan memperoleh harta yang cukup untuk segala kebutuhan duniawinya. Ada juga orang yang berusaha meraup kekayaan agar dapat menginfakkan hartanya di jalan Allah, serta berkhidmat kepada agama Islam dan kaum Muslimin dalam berbagai jenis kebaikan.

Manusia selalu dikejar mimpi siang bolong untuk bisa masuk ke daftar manusia terkaya di dunia, agar dapat membelanjakan harta sesuai dengan kecondongan dan niat mereka. Berkaitan dengan hal ini, ada dua perkara yang sangat penting untuk dijelaskan:

Pertama: 

Kita sebenarnya orang yang masuk dalam daftar manusia terkaya di dunia, meski ada perbedaan kondisi dan harta yang didapat masing-masing orang. Sebab, setiap orang punya banyak kenikmatan yang tidak mungkin dapat ditukar atau dibandingkan dengan seluruh harta di dunia ini. Apakah ada harta atau simpanan yang setara dengan nikmat pendengaran, penglihatan, kesehatan, keamanan, dan keselamatan? 

Segala puji bagi Allah Yang Maha Pemurah karena telah melimpahkan kepada kita berbagai nikmat yang bernilai dan berharga, yang tidak dapat ditakar atau ditukar dengan apa pun nilainya yang lebih rendah darinya. Seorang muslim yang beriman kepada Allah Ta’ala pasti memahami dengan baik betapa besarnya karunia Allah Ta’ala, baik itu nikmat lahir maupun batin,  yang menjadikannya berlapang dada sepenuhnya dengan tingkat kekayaan yang dimilikinya. Kita wajib selalu memuji Allah Yang Maha Pemurah dan bersyukur kepada-Nya atas kesehatan yang dilimpahkan kepada kita sehingga kita terbebas dari berbagai penyakit, musibah, dan fitnah. Semoga Allah senantiasa melindungi kita darinya.

Diriwayatkan dari Salamah bin Ubaidillah bin Muhshin al-Khatmi dari ayahnya –yang seorang sahabat– bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Barang siapa di antara kalian memasuki pagi hari dalam keadaan aman di tempat tinggalnya, sehat jasmaninya, dan memiliki makanan yang cukup untuk hari itu, maka seakan-akan seluruh kenikmatan dunia telah dikumpulkan untuknya.” (HR. At-Tirmidzi). 

Al-Munawi rahimahullah berkata dalam penjelasan hadis ini: “Maksudnya siapa yang dikaruniai oleh Allah kesehatan jasmani, ketenangan hati ke mana pun ia pergi, kecukupan rezeki untuk kebutuhan hidup pada hari itu, dan keselamatan pada keluarganya, maka sesungguhnya Allah telah mengumpulkan baginya seluruh kenikmatan yang bahkan orang yang memiliki seluruh dunia pun tidak akan memperoleh kenikmatan yang lebih dari itu. Oleh sebab itu, sepatutnya ia tidak menyambut harinya tersebut kecuali dengan penuh rasa syukur, yaitu dengan menggunakan kenikmatan itu dalam ketaatan kepada Allah, alih-alih untuk bermaksiat kepada-Nya, dan tidak lelah dalam berzikir kepada-Nya.” (Dinukil dari kitab Faidh al-Qadir).

Cara yang paling ampuh bagi orang yang tidak bisa menikmati semua nikmat dari Allah setiap saat adalah dengan melihat orang-orang di sekitarnya, merenungkan kondisi orang yang menderita dan sedang sakit di sekelilingnya, mengunjungi rumah sakit untuk melihat keadaan para pasien, dan bersyukur kepada Allah Yang Maha Pemurah atas segala kenikmatan-Nya yang begitu agung.

Kedua:

Orang-orang muslim yang mengharapkan kekayaan agar dapat menginfakkannya di berbagai jalan kebaikan akan meraih banyak pahala, bahkan ketika mereka tidak mampu memperoleh harta yang bisa mereka infakkan di jalan-jalan kebaikan tersebut. diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pulang dari perang Tabuk dan telah dekat dengan kota Madinah, beliau bersabda:

إِنَّ بِالْمَدِينَةِ أَقْوَامًا، مَا سِرْتُمْ مَسِيرًا، وَلَا قَطَعْتُمْ وَادِيًا، إِلَّا كَانُوا مَعَكُمْ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَهُمْ بِالْمَدِينَةِ؟ قَالَ: وَهُمْ بِالْمَدِينَةِ، حَبَسَهُمُ الْعُذْرُ

“Sesungguhnya di Madinah ada beberapa orang yang setiap kali kalian menempuh suatu perjalanan atau melintasi suatu lembah, mereka mendapatkan pahala bersama kalian.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, padahal mereka tetap berada di Madinah?” Beliau menjawab: “Ya, mereka tetap berada di Madinah, tetapi mereka terhalang oleh suatu uzur.” (HR. Al-Bukhari).

Dengan demikian, orang yang punya uzur seperti tidak punya harta yang cukup untuk berinfak di berbagai jalan kebaikan, tapi ia punya niat yang tulus –yang hanya diketahui oleh Allah Yang Maha Mengetahui– maka Allah akan memberinya pahala atas niat tulusnya itu. 

Dalam sunnah Nabi terdapat banyak hadis yang menyebutkan pengaruh niat yang tulus dalam meraih pahala serta pengaruh niat yang rusak dalam mendapat dosa. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Abu Kabsyah al-Anmari radhiyallahu ‘anhu bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ: عَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ، وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ، وَيَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا، فَهَذَا بِأَفْضَلِ المَنَازِلِ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ يَقُولُ: لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا، فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لَا يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ، وَلَا يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ، وَلَا يَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا، فَهَذَا بِأَخْبَثِ المَنَازِلِ، وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللَّهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا فَهُوَ يَقُولُ: لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ

“Sesungguhnya dunia hanya bagi empat golongan. Pertama, seorang hamba yang dikaruniai Allah harta dan ilmu. Dengan keduanya ia bertakwa kepada Tuhannya, menyambung tali silaturahmi, dan menunaikan hak Allah pada hartanya. Inilah golongan yang menempati kedudukan paling mulia.

Kedua, seorang hamba yang dikaruniai ilmu oleh Allah tetapi tidak dikaruniai harta. Ia memiliki niat yang tulus seraya berkata, ‘Seandainya aku memiliki harta, niscaya aku akan beramal seperti si fulan (orang golongan pertama).’ Maka ia memperoleh pahala sesuai niatnya, sehingga pahala keduanya sama.

Ketiga, seorang hamba yang dikaruniai Allah harta tetapi tidak dikaruniai ilmu. Ia menggunakan hartanya tanpa ilmu, tidak bertakwa kepada Tuhannya dalam mengelola harta tersebut, tidak menyambung silaturahmi, dan tidak menunaikan hak Allah pada hartanya. Inilah golongan yang berada pada kedudukan paling buruk.

Keempat, seorang hamba yang tidak dikaruniai Allah harta maupun ilmu. Ia berkata, ‘Seandainya aku memiliki harta, niscaya aku akan menggunakannya sebagaimana si fulan (orang golongan ketiga) menggunakan hartanya.’ Maka ia mendapatkan dosa sesuai niatnya, sehingga dosa keduanya sama.” (HR. At-Tirmidzi, dan dinilai sahih oleh al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi).

Oleh karena itu, barang siapa yang punya niat tulus dan mengarahkannya untuk berharap dapat menginfakkan harta itu di berbagai jalan kebaikan –seperti menolong orang yang membutuhkan, membangun masjid, dan menyebarkan agama Islam– maka dengan karunia Allah Yang Maha Pemurah, dia akan mendapat pahala yang besar, bahkan jika ia tidak mampu merealisasikannya sebagai amalan nyata. Maka dari itu, wahai saudaraku yang mulia, berharaplah kaya agar dapat melakukan berbagai amal kebaikan, perbanyaklah harapan seperti ini dengan niat yang tulus dan amalan yang lurus dalam menginfakkan harta sesuai kemampuan.

Kita memohon kepada Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Agung agar merezekikan kepada kita kebersamaan dengan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengaruniakan kepada kita, keluarga kita, dan seluruh kaum Muslimin keteguhan di atas agama-Nya, dan menambah bagi kita karunia-Nya.

Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam kita haturkan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan kepada keluarga, seluruh sahabat beliau, dan orang yang mengikuti jejak beliau dengan sebaik-baiknya hingga Hari Kiamat.

 

Sumber:

https://www.alukah.net/sharia/1001/183495/قائمة-أكثر-الناس-ثراء-في-العالم/

Sumber artikel PDF

Video Belajar Iqro Belajar Membaca Al-Quran

KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI: +62813 26 3333 28