Oleh:
Syaikh Wahid Abdussalam Bali
Riya merupakan pintu lebar yang dipakai setan untuk menyusup ke dalam hati manusia. Oleh sebab itu, wajib bagi setiap muslim yang mengharap keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan kehidupan akhirat untuk senantiasa menyaring hatinya, apabila dia mendapati dalam hatinya kecondongan kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dia segera menanganinya, juga senantiasa memeriksa amalan-amalannya, apabila dia mendapati di dalam hatinya ada riya, dia segera membersihkannya. Karena riya merupakan keberpalingan hati kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, enggan mencari perhatian Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan justru mencari perhatian makhluk, disebutlah ia sebagai syirik kecil.
Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ» قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: «الرِّيَاءُ، يَقُولُ اللهُ تعالى لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: إِذَا جُزِيَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ: اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاؤُونَ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً
“Sesungguhnya perkara yang paling aku khawatirkan terhadap kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan berfirman kepada mereka (para pelaku riya) pada Hari Kiamat ketika manusia telah dibalas sesuai dengan amalan-amalan mereka: ‘Pergilah kepada orang-orang yang kalian riya kepada mereka (dipameri) di dunia, dan lihatlah apakah kalian akan mendapatkan pahala dari mereka?’” (Hadis sahih, diriwayatkan Imam Ahmad dalam Al-Musnad 5/428. Al-Haitsami (102/10) berkata, “Para perawi riwayat Ahmad ini adalah para perawi dalam Ash-Shahih. Al-Mundziri (1/68) berkata, “Diriwayatkan Imam Ahmad dengan sanad yang baik, Ibnu Abi Ad-Dunya, dan Al-Baihaqi dalam Az-Zuhd.” Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib (1/120) no. 32).
Riya ada banyak jenisnya
Ada orang yang riya dengan ilmunya, ada yang dengan ibadahnya, dan ada pula yang dengan sedekahnya. Contohnya seperti yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan An-Nasa’i dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:
إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ: جَرِيءٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ، وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ، وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ، وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ، وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ: هُوَ قَارِئٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ، وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ، وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلَّا أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: هُوَ جَوَادٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ، ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ
“Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu iapun mengakuinya. Allah bertanya kepadanya: ‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab: ‘Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.’ Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: ‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).’
Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka. Berikutnya orang (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Quran. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah Subhanahu Wa Ta’ala menanyakannya: ‘Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?’ Ia menjawab: ‘Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya, serta aku membaca Al-Quran hanyalah karena engkau.’ Allah Subhanahu Wa Ta’ala berkata: ‘Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim (yang berilmu) dan engkau membaca Al-Quran supaya dikatakan (sebagai) seorang qari’ (pembaca Al-Quran yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’
Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka. Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala bertanya: ‘Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab: ‘Aku tidak pernah meninggalkan sedekah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.’ Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: ‘Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.’” (Hadis sahih, diriwayatkan Imam Muslim no. 1905 dalam pasal jihad bab orang yang berperang karena riya dan sum’ah layak masuk neraka).
Diriwayatkan juga dari Abu Hindun Ad-Dari Radhiyallahu ‘anhu bahwa ia pernah mendengar Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:
مَنْ قَامَ مَقَامَ رِيَاءٍ وَسُمْعَةٍ رَاءَى اللهُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَسَمَّعَ
“Siapa yang beramal karena ingin dilihat (riya) dan ingin didengar (sum’ah), maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memperlihatkan dan memperdengarkan (niat orang itu) pada hari kiamat.” (Hadis sahih, diriwayatkan Imam Ahmad dalam Al-Musnad (5/269) dengan sanad para perawi yang terpercaya. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Targhib (1/117) no. 24). Al-Hafizh Al-Mundziri mengatakan, “Hadis ini diriwayatkan Imam Ahmad dengan sanad yang bagus.”
Sedangkan dalam Ash-Shahihain diriwayatkan dari Jundub bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:
مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ، وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ
“Siapa yang memperdengarkan amalannya (untuk pamer) maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan membongkar niat buruknya itu, dan siapa yang memperlihatkan amalannya (untuk pamer) maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memperlihatkan (kepada manusia) niat buruknya itu.” (HR. Al-Bukhari no. 6499 dalam pasal budak bab riya dan sum’ah, dan Imam Muslim no. 2987 dalam pasal zuhud bab orang yang menyekutukan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam amalannya).
Oleh sebab itu, dulu para Salafus Salih Radhiyallahu ‘anhum senantiasa merahasiakan amal ketaatan mereka seperti halnya orang-orang merahasiakan kemaksiatan dan aib-aib mereka. Lalu ketahuilah bahwa pemicu perbuatan riya adalah keinginan besar untuk mendapat pujian orang lain dan takut terhadap celaan mereka. Kamu dapat terbebas dari riya dengan hal-hal berikut:
- Mengetahui bahwa pujian manusia tidak akan mendatangkan manfaat bagimu apabila kamu sebenarnya tercela di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Begitu juga celaan manusia tidak akan mendatangkan mudharat bagimu apabila kamu sebenarnya terpuji di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
- Mengetahui bahwa makhluk lemah yang kamu kejar pujiannya itu tidak memiliki kuasa sedikit pun untuk memberi mudharat dan manfaat bagimu, terlebih lagi pada hari kemiskinan terbesarmu, yaitu Hari Kiamat.
- Mengetahui bahwa riya dapat menghapus pahala amal kebaikan, dan bahkan dapat mengalihkannya menjadi amal keburukan.
- Apabila kamu takut manusia dapat melihat buruknya batinmu dan hitamnya hatimu saat di dunia, maka sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala Maha Melihat itu semua. Lalu pada Hari Kiamat, Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengungkapkan seluruh keburukanmu di hadapan seluruh makhluk.
- Apabila terlintas dalam pikiranmu untuk berbuat riya, maka segeralah melawan dan melepaskan diri darinya, lalu berpalinglah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan segenap hatimu.
Ketahuilah bahwa pertama-tama setan akan menggodamu untuk meninggalkan amal baik. Apabila dia tidak mampu melakukan itu, dia akan menggodamu untuk berbuat riya dalam amal baik itu. Lalu apabila dia melihatmu mampu beramal baik dengan ikhlas, maka dia akan berbisik kepadamu, “Amal baik ini tidak ikhlas, kamu melakukannya untuk riya, usaha dan susah payahmu sia-sia!” Ini semua agar dia dapat membuatmu meninggalkan amal baik, maka waspadalah dan jangan sampai menuruti ajakan setan, karena dia adalah musuh hakiki yang menyesatkan.
Al-Ghazali Rahimahullah berkata:
“Orang-orang yang dapat membebaskan diri dari riya terbagi menjadi empat tingkatan dalam melawan dorongan untuk berbuat riya:
Pertama: Orang yang membantah dan mendustakan setan, dan tidak cukup dengan itu, tapi bahkan juga sibuk mendebat setan berlarut-larut, karena dia merasa bahwa itu lebih aman bagi hatinya. Meskipun pada hakikatnya itu adalah suatu kekurangan, karena dia menjadi tersibukkan dari bermunajat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan dari kebaikan yang hendak dia kerjakan, dan justru teralihkan pada pertempuran melawan para penyamun, padahal fokus terhadap pertempuran melawan para penyamun adalah suatu kecacatan perilaku.
Kedua: orang yang memahami bahwa mendebat dan bertempur dengan setan merupakan suatu kecacatan perilaku, sehingga dia mencukupkan diri dengan mendustakan dan membuat pertahanan saja, tanpa sibuk mendebatnya.
Ketiga: Orang yang juga tidak sibuk mendustakan setan, karena itu juga dapat menghentikan langkahnya, meskipun minim. Dia telah menegaskan dalam relung hatinya kebencian terhadap riya dan pendustaan terhadap setan, sehingga keadaan ini selalu mengiringinya tanpa perlu lagi mendustakan setan dan berjibaku melawannya.
Keempat: orang yang telah mengetahui bahwa setan akan dengki terhadapnya, sehingga dia bertekad apabila setan muncul menggoda, maka dia menambah keikhlasannya, semakin sibuk dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan semakin merahasiakan sedekah dan ibadahnya untuk membuat setan semakin murka.
Diriwayatkan bahwa pernah ada orang yang berkata kepada Al-Fudhail bin Ghazwan, ‘Si Fulan menjelek-jelekkan Anda.’ Lalu beliau menanggapi, ‘Demi Allah, aku sangat benci terhadap yang menyuruhnya melakukan itu!’ Beliau lalu ditanya, ‘Memangnya siapa yang menyuruhnya?’ Beliau menjawab, ‘Setan!’ Lalu beliau berkata, ‘Ya Allah, ampunilah dia (orang yang menjelek-jelekkan itu).’
Apabila setan mengetahui seorang hamba yang memiliki kebiasaan ini, dia akan menjauh darinya karena khawatir jika diberi godaan, amal kebaikannya justru semakin bertambah.
Al-Harits Al-Muhasibi membuat perumpamaan yang bagus tentang empat tingkatan manusia ini dengan berkata, “Perumpamaan mereka seperti empat orang yang berniat menghadiri majelis ilmu dan hadis untuk mendapat ilmu baru, fadilah, hidayah, dan petunjuk. Lalu ada orang sesat dan ahli bid’ah yang dengki terhadap mereka dan khawatir mereka akan mengetahui kebenaran. Orang sesat itu lalu menghadap kepada orang pertama untuk mencegah dan mengalihkannya dari majelis ilmu itu, kemudian mengajaknya ke majelis kesesatan, akan tetapi dia enggan. Ketika orang sesat itu mengetahui keengganannya, dia menyibukkannya dengan perdebatan, sehingga orang pertama ini sibuk melayani perdebatannya untuk membantah kesesatannya. Dia merasa perdebatan itu mendatangkan kemaslahatan bagi dirinya, padahal itu memang tujuan orang sesat tersebut agar terlewat darinya hal-hal yang sebisa mungkin untuk dia lewatkan.
Kemudian orang kedua datang melewati orang sesat itu, maka orang sesat segera mencegahnya dan menghentikannya dari perjalanan menuju majelis ilmu. Ternyata orang kedua ini mau berhenti dan berusaha memberi pencegahan kepada orang sesat, tapi tidak sampai ikut melakukan perlawanan kuat dan panjang lebar. Orang sesat itu merasa senang karena dapat menghentikan orang kedua ini beberapa waktu.
Kemudian orang ketiga datang melewati orang sesat itu, tapi dia sama sekali tidak menghiraukannya dan tidak sibuk mencegah atau melawannya, dan justru terus melanjutkan langkahnya menuju majelis ilmu, sehingga orang sesat sangat kecewa.
Kemudian datang orang keempat yang juga enggan untuk meladeni orang sesat. Bahkan, justru dia ingin menjadikan orang sesat itu murka dengan mempercepat langkahnya, sehingga seandainya empat orang ini kembali berjalan melewatinya, orang sesat ini pasti akan berusaha mengulangi usahanya untuk mencegah mereka, kecuali terhadap orang keempat ini.’” (Takhrij Ihya ‘Ulum ad-Din (1896).
Oleh karena itu, dulu banyak generasi Salaf ketika disibukkan oleh setan dari ketaatan, mereka justru melipatgandakan ketaatan agar membuat setan murka. Ibrahim At-Taimi berkata, “Setan akan terus mengajak manusia untuk berbuat dosa, maka janganlah menurutinya dan hendaklah ajakannya justru menghasilkan ketaatan, sehingga ketika setan melihat keadaan itu, dia pasti justru enggan mengajaknya berbuat dosa.
Antara riya dan pahala
Ketahuilah – semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberimu petunjuk – bahwa riya punya dua kemungkinan, antara dia masuk ke dalam inti amalan atau merasuk ke dalam sifat-sifatnya. Apabila riya masuk ke dalam inti amalan – yaitu apabila riya menjadi pendorong utama untuk beramal – maka amalan itu dianggap batal menurut ijma’ para ulama. Adapun jika riya masuk ke dalam sifat-sifat amalan, seperti bertambah panjangnya rukuk atau sujud, maka terdapat dua pendapat dalam hal ini, pendapat pertama, riya itu membatalkan amalan ini juga, dan pendapat kedua, tidak membatalkannya, tapi mengurangi pahalanya.
Sumber:
https://www.alukah.net/sharia/0/142708/مداخل-الشيطان-الرياء/
