Resensi Buku

Sewaktu saya mendapat amanah untuk mengikuti Workshop Sismiop di Makasar bulan Maret dan April lalu, saya menyempatkan diri ke Toko Buku Gramedia yang berada di salah satu Mall di daerah Panakkukang. Buku yang saya beli itu berjudul “The 4-Hour Workweek”. Awalnya buku ini saya niatkan sebagai hadiah buat calon istri saya. Sayang, eh si calon penerima malah kurang suka dengan gaya penulisan Timothy Ferris yang menurutnya sok menggurui itu. Benarkah istri saya?

Setelah membaca buku best seller ini dari bab satu ke bab lainnya, mengertilah saya bahwa istri saya mungkin benar. Tim Ferris memang penulis yang provokatif, melompat-lompat, super santai serta menusuk. Sebagai pembacanya, saya mungkin termasuk korban tusukannya (dalam arti positif tentunya). Dan beruntung sampai saat ini saya masih sanggup menahannya. Sebuah bab di bukunya yang diberi titel, “E untuk Eliminasi” bisa jadi adalah sumber tusukan tersebut. Di dalam sub bab ini, penulis yang mengaku sukses berkat bisnis suplemen ini menyindir orang-orang di bumi yang sok sibuk, walau sebenarnya tidak produktif (mungkin saya termasuk di dalamnya). Bagi Tim, sibuk memiliki definisi yang sangat jauh berbeda dengan produktif. Silahkan jawab pertanyaan yang Tim cantumkan di bukunya berikut ini, “Apakah Anda termasuk orang yang menciptakan pekerjaan baru untuk menghindari pekerjaan lain yang justru lebih penting?”

Cobalah mengaku. 

Bila Anda menjawab pertanyaan tadi dengan “Ya”, berarti Anda sama persis dengan saya. Selama saya bekerja, baik setelah menjadi seorang PNS maupun sebelumnya (blogger, editor lepas, dan field support SIPKD), saya merasa Tim sudah menginterogasi kita dengan pertanyaan yang benar. Tidak jarang, seringnya saya pulang lembur dari kantor sejatinya bukan karena saya produktif bekerja, tapi justru hanya karena saya sudah salah menentukan pekerjaan mana yang penting dan mana yang tidak. Untuk menguraikan maksud saya di atas, saya akan mengambil beberapa contoh kasus yang terjadi dalam hidup saya sendiri. 

1. Mengunjungi Fb

Mengunjungi situs facebook atau jejaring sosial media lainnya pada saat jam kerja adalah contoh kesibukan. Tapi bila saya mengunjungi keduanya untuk mengirimkan pesan atau berkas khusus kepada orang-orang tertentu yang berkaitan dengan tugas kantor dan tidak dapat dihubungi melalui email atau handphone maka statusnya akan berubah seketika menjadi produktivitas. Hal ini sering terjadi saat saya diharuskan membantu para bendahara pengeluaran di lingkungan pemerintah yang uniknya memiliki akun facebook namun tak ingat dengan password email yang ia gunakan untuk mendaftar di situs jejaring sosial ini. Aneh bukan? Tapi itulah kenyataan di lapangan. Sekali lagi, ia punya akun fb tapi lupa dengan password emailnya.

2. Baca berita

Membaca berita di internet baik via kompas.com, techmeme.com, atau bahkan Google News adalah sebuah kesibukan. Tapi akan berubah menjadi produktifitas bila berita yang hendak dibaca merupakan perintah langsung dari atasan kita. Misalnya saja memonitoring berita tentang gaji bulan ketiga belas yang biasanya datang pada bulan Juni, Juli, atau Agustus setiap tahunnya. Bila Anda bukan PNS, gaji ketiga belas adalah istilah asing. Tapi bagi para PNS, gaji ini adalah sesuatu yang dinanti-nanti. Ibarat hujan di padang pasir. Atasan kita ingin segera tahu karena hal ini berhubungan langsung dengan hajat semua pegawainya.

3. Komunikasi

Mengobrol. Bicara pada saat bekerja bisa masuk dalam kategori sibuk atau produktif tergantung dari tujuannya. Mengobrol tentang kejelekan orang atau pegawai lain adalah sesuatu yang bisa dianggap sebagai sebuah kesibukan. Mengapa? Karena selain memakan waktu, hal ini juga membuat kita akan tampak seperti orang penting dan banyak pekerjaannya. Padahal hasilnya sesungguhnya tidaklah demikian. Selain mengganggu selesainya pekerjaan, mengobrol kejelekan orang lain hanya akan merendahkan diri kita sendiri. Khususnya di mata orang-orang yang mengobrol untuk mencari solusi yang berhubungan langsung dengan masalah-masalah di kantornya. 

4. Telpon

Mondar-mandir di kantor sambil mengangkat telepon dan mengarahkannya ke telinga untuk berbicara dengan orang yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan adalah contoh kesibukan. Apalagi dalam waktu yang lama. Kalau Anda melakukan ini, minimal pimpinan akan tahu bahwa Anda memang sedang sibuk. Tapi sadarilah, pekerjaan seperti ini termasuk sesuatu yang buang-buang waktu. Hal yang bagus untuk dilakukan adalah mondar-mandir dengan maksud menolong pegawai lain yang membutuhkan bantuan kita. Apapun bentuk bantuan itu. Misalnya saja memperbaiki paper jam pada printer di ruangan teman tersebut, menghubungkan komputernya ke aplikasi di server, atau bahkan mengambilkan kertas di tempat lain. Capek tapi penuh makna (baca: produktif).

Keempat contoh yang saya sajikan di atas merupakan contoh kasus sederhana yang sering terjadi pada pribadi saya. Saya harap keempatnya dapat menginspirasi para pembaca semua agar bisa membedakan antara sibuk dan produktif. Saya yakin, para pembaca pasti memiliki versi masing-masing dari teori sibuk vs produktif ini. Betul tidak?

Jadi? Apa Solusinya?

Mengenyahkan kesibukan dan memancing produktivitas. Di buku ini, Tim tidak hanya mengurai contoh-contoh sibuk vs produktif, tapi juga langsung menyajikan solusi jitu agar kita bisa mengisi hari-hari kita dengan sesuatu yang positif alias produktif. Berikut solusi dari Tim.

1. Gunakan prinsip 80/20

Inti dari hukum ini adalah bahwa 80% output merupakan buah dari 20% input. Meskipun tidak mutlak, namun prinsip ini terkadang muncul dengan bukti otentik di lapangan. Di buku ini, Tim mencontohkan pengalamannya sendiri. Sebagai pedagang makanan suplemen, Tim sadar bahwa 80% keuntungan yang berhasil diraupnya sejatinya hanya berasal dari 20% penjual atau reseller saja. Bagaimana dengan penjual yang masuk dalam 80% lebihnya? Mereka memang membantu, tapi belum sebaik yang 20% tadi. Dengan melihat perbedaan faktor hasil atau kinerja penjualan, Tim paham bahwa ia sudah seharusnya memberikan perhatian sekaligus waktu yang lebih besar untuk 20% penjual alih-alih membaginya secara rata. Pemahaman Tim terhadap perbedaan kinerja ini membantunya dalam menyusun skala prioritas kegiatannya. Tidak hanya dalam kehidupan bisnisnya, tapi juga personalnya.

2. Diet minim informasi

Tim menyarankan kita agar mengurangi konsumsi berita. Apapun bentuknya. Agak aneh memang. Tapi Tim berani mengusulkan hal ini karena Ia pun hanya pernah satu kali membeli surat kabar selama lima tahun dan paham bahwa tidak ada dampak negatif yang akan terjadi pada dirinya. Tim memang masih membaca buku, tapi itu dengan kesadaran bahwa segala sesuatu yang dibacanya haruslah berorientasi hasil. Saya rasa pembaca layak mencoba konsep ini selama satu bulan. Bila cocok lanjutkan, bila tidak maka sesuaikan. Toh, tidak semua orang diciptakan seperti Tim Ferris. Saya pribadi geleng-geleng kepala dengan saran seperti ini. Meski menarik dan layak dicoba.

3. Berani menolak

Email yang tidak penting, berita menarik di situs favorit, status teman-teman di facebook atau twitter adalah beberapa hal yang layak ditolak bila ingin membuat hidup kita lebih produktf. Selain itu, menolak berbicara panjang di telepon adalah cara yang baik untuk menunjukkan kepada rekan bicara bahwa Anda memang benar-benar sedang serius bekerja. Tentu saja, dengan kata-kata yang sopan dan sesuai dengan norma.

Saya, Anda, Kita dan The 4-Hour Workweek

Bisakah Anda bekerja seperti apa yang sudah dicantumkan oleh Tim sebagai judul bukunya di atas? Kalau saya sih belum, dan saya belum berencana untuk melakukannya. Mengapa? Karena menolong orang sejak jam 8 hingga 5 sore masih saya anggap sebagai keajaiban bagi saya. Sebagai pembaca, kita juga harus mengambil sikap kritis terhadap buku ini. Kita tidak bisa memungkiri bahwa Tim memang lebih kaya secara finansial daripada kita, tapi di sisi lain, kita juga harus sadar bahwa gaya hidup yang sudah ia pilih belum tentu sesuai dengan selera atau tujuan hidup kita. Pada akhirnya, keputusan terakhir tetaplah di tangan para pembaca juga. Apa yang baik dari buku ini tentu saja harus kita ambil. Tetapi yang tidak atau belum cocok dengan keadaan kita mungkin sebaiknya kita tinggalkan saja. Selamat merenungi pekerjaan dan profesi masing-masing. Sibuk itu ternyata memang kurang baik. Produktif lah yang sebenarnya ajaib. Bekerja hanya 4 jam dalam seminggu? Bisa nggak ya?